Pasien Batu Ginjal di Provinsi NTT Cukup Tinggi

Anggota DPRD NTT, Kristin Pati saat beri sambutan

BERITABUANA.CO, KUPANG – Pasien yang menderita Batu Ginjal di Privinsi NTT cukup tinggi, sesuai data tahun 2015-2016 ada 215 Orang, yang terbanyak usia produktif.

Hal ini disampaikan Urologist at Siloam Hospital Kupang, Erick S. Hutauruk pada kegiatan Media Gathering berkaitan dengan penanganan batu ginjal tanpa pembedahan, di aula RS Siloam Kupang, Rabu (4/12/2019).

“Tingginya kasus Batu Ginjal ini, salah satu penyebabnya adalah air yang dikonsumsi kadar kalsium atau kapur tinggi yakni 123 mg/liter, sedangkan yang diizinkan oleh WHO yakni dibawah 75 mg/liter. Jadi sudah melebihi batas ambang normal,” kata Erick.

Air yang dikonsumsi masyarakat, papar Erick Hutauruk, biasanya air tanah yang kadar kapurnya sangat tinggi, walaupun sudah melalui penyaringan beberapa kali. Untuk itu yang paling aman, yakni konsumsi air dalam kemasan.

“Air tanah atau air sumur kalau diminum langsung seperti kebiasaan orang NTT, itu sangat bahaya sekali, 73 Persen daripada air kemasan,” katanya lagi.

Begitu juga dengan angka kecukupan air, lanjut Erick Hutauruk, hanya berkisar 1-2 liter/hari, padahal jika dihitung dengan berat badan cenderung kurang.

Diakui Erick Hutauruk, memang ada hal yang tidak bisa dirubah, yakni suhu yang sangat panas, sehingga ini menjadi masalah yang sulit ditangani untuk mengalami batu ginjal.

“Ini yang jadi masalah, apalagi kalau kena batu ginjal di usia muda, 3 kali lipat akan terulang lagi,” ujarnya mengingatkan.

Anggota DPRD Provinsi NTT, Kristin S. Pati mengatakan, kehadiran mesin ESWL ini sebagai solusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat, terkait penyakit batu ginjal.

“Kita tidak bisa menghindar, ini jadi persoalan masyarakat NTT. Kita ingin masyarakat konsumsi air kemasan, itu sangat sulit karena kondisi ekonomi mereka, sehingga terpaksa konsumsi air tanah,” jelas Kristin Pati.

Pihaknya berharap, dengan kemajuan tekhnologi dan informasi maka masyarakat bisa lebih sadar dan paham, sehingga tidak sampai alami penyakit yang menakutkan tersebut.

“Ini langkah awal yang baik, yang sudah ditunjukkan RS Siloam Kupang, khususnya dalam metode penanganan bagi pasien Batu Ginjal tanpa pembedahan, tapi dengan mesin ESWL. Bahkan dibackup dengan BPJS Kesehatan,” puji Kristin Pati.

Kristin Pati berjanji, saat rapat dengar pendapat dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, akan mendorong pemerintah untuk .memiliki mesin yang sama, terutama untuk RSUD Prof. WZ Yohanes Kupang. (iir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here