Pentas “The Servants and The Bourgeois” Teater Enjuku Sedot 900 Penonton

Salah satu pemeran teater Enjuku, bersama penonton

PEMENTASAN teater musikal berbahasa Jepang Enjuku dengan cerita ” The Servants and The Bourgeouis” selama dua hari (1-2 Desember 2019) di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, berhasil menyedot 900 lebih penonton.

Keberhasilan ini membuat teater yang digawangi para mahasiswa di Jakarta ini lebih dikenal di masyarakat. Diakui Siska, salah seorang penonton, walaupun berbahasa Jepang, penonton masih dengan mudah menikmati dan mengikuti alur cerita dari teks lndonesia yang tersedia di sebelah kiri kanan panggung.

Teater Enjuku yang diasuh sutradara sekaligus produser Sugako Kaikiri, justru sudah sangat dikenal di Jepang. Hal ini, karena teater yang dibina Lembaga Kebudayaan Jepang sudah berkali-kali pentas di kota-kota di Jepang.

Sambutan masyarakat Jakarta dan ekspatriat asal Jepang menyaksikan pertunjukkan dua hari itu cukup antusias. Karena alur cerita The Servants and The Bourgeois sangat menarik karena selain diselingi joke joke segar versi Jepang, setiap akhir babak selalu diisi gerak tari dan lagu para pemain.

Apalagi para pemeran sangat menghayati perannya masing-masing, sehingga terkesan masalah bahasa mereka sepertinya tidak lagi menghadapi kendala yang berarti. Mereka terlihat sudah lebih Jepang dari orang Jepang.

Seting cerita berlatar belakang, masa pergantian kekaisaran Meiji ke masa Taisho, sekitar awal abad 20. Satu keluarga bangsawan Miyakooji (Ario Achda) dan istrinya Shigeko (Mayu) dengan tiga putra-putri, Kiyotaka (Aldi) dan kedua adiknya Putri Kasuko dan Putri Yoshiko (Asti).

Mereka mempunyai 16 pegawai, dari tukang kebun, masak, sopir, satpam dan kepala koki. Tukang kebun yang sudah tua mempunyai anak angkat Rikuo, yang membantu memelihara bunga dan tanaman milik keluarga.

Rupanya, karena rajin dan pintar mengenai obat obatan dari rumput, Rikuo, sangat disukai putri Kasuko. Apalagi ketika Rikuo, berkat bantuan Tuan Shirakawa, direkomendasikan bekerja di toko obat terkenal milik keluarga Choojidoo (Balkan).

Setelah Rikuo pergi, Putri Kazuko, ternyata kesepian karena telah jatuh cinta kepada pemuda penjaga kebun tadi.

Setelah kematian Ny. Shigeko, Rikuo ingin mengucapkan bela sungkawa dengan diantar majikannya pemilik toko obat Choojidoo. Namun setiba di rumah keluarga bangsawan, penerimaan kurang berkenan. Kakak Putri Kasuko, Kiyotaka malah meminta Rikuo, untuk tidak datang lagi ke rumah mereka.

Apa daya dengan rasa sedih Rikuo, pulang bersama majikannya. Tapi sang majikan tidak mau mengecewakan pegawainya yang pintar dan rajin ini. Untuk mengangkat harkat hidup Rikuo, Tn Choojidoo dan istrinya kemudian meminta Rikuo bersedia menjadi anak angkat mereka. Rikuo setuju dan sangat terima kasih atas kebaikan majikannya.

Dengan status anak pemilik toko obat terkenal, tentu derajat Rikuo, bisa sejajar dengan bangsawan. Pucuk dicinta ulam tiba, lamaran pun dilayangkan ke keluarga Miyakooji. Mengetahui status Rikuo sudah jadi pewaris toko obat Choojidoo, lamaran tak bisa ditolak.

Ending cerita Rikuo dan Kasuko yang sudah dikarunia 2 anak dan sang kakak telah menikah dengan putri Tuan Shirakawa dan juga sudah punya seorang anak. Tapi Rikuo harus berpisah dengan Putri Kasuko dan kedua anak mereka, karena akan studi kedokteran di sebuah negara di eropa. (nico)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here