‘Kisruh Revitalisasi TIM, antara Arts Center dan Penolakan Kelompok Seniman’

SUMBU seniman — pekerja seni, sastrawan, bahkan budayawan –beberapa hari terakhir ini tampak menyala. Terjadi pro-kontra merespon revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Mereka yg terlibat dengan kehidupan TIM tergugah. Ada yg membentang spanduk menolak, ada pula yang diam mengamati sambil “wait and see”,atau malah ada yang apatis.

Dunia yang luas, seketika sempit. Penasaran membuncah, kaki melangkah mencari tahu lebih jauh, ada apa sesungguhnya dibalik kisruh revitalisasi TIM tersebut. Mengikuti suara hati dan naluri saya mencoba mendekati beberapa orang seniman, pekerja seni (dalam arti yang sebenarnya) yang selama ini berkegiatan atau beraktivitas mengurus kesenian di Jakarta. Sebut saja Pengurus Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode aktif, berlanjut pada kesempatan lain beberapa pemimpin group kesenian, termasuk kelompok teater ‘terkemuka’ negeri ini. Kelompok yang terus konsisten berproduksi dan menjaga penontonnya. Salah satu seniman yang masih terus bekerja mempertahankan eksistensinya dengan berkarya, memiliki penonton setia serta berada dalam sistem. Memangnya ada yang di luar sistem? Karena ada istilah ‘sumbang’ lain yang juga terdengar, yaitu ‘seniman dibawah baliho”.

Dari serangkaian diskusi informal, akhirnya sampailah kami pada sebuah kesimpulan, ternyata sangat sederhana: ngamuknya barisan sakit hati karena merasa ditinggalkan yang dikemas dengan berbagai isu sensitif bagi seniman yang seolah tak bisa dibicarakan lagi. Ditinggalkan pihak Pemrop DKI Jakarta dan Jakpro. Padahal semula terlibat aktif bahkan diantaranya telah mengantongi SK. Hal ini diakui sendiri oleh Arie F. Batubara, mantan jurnalis yang lebih dikenal sebagai pengamat teater dan pernah duduk di Komite Teater DKJ pada tahun 2003-2006, sebagai salah seorang inisiator penolakan tersebut,“ Sesungguhnya saya yang memulai, mengompori teman-teman seniman, membuka persoalannya kepada mereka. Kalau tak saya buka, mereka juga tak mengerti. Dan saya lakukan itu, bukan karena karena ada pesanan dari pemilik hotel sekitar. Lalu, kenapa saya lakukan? Apakah karena saya Ahoker dan benci Anies?’, lanjutnya bersemangat. “Bukan. Saya bahkan tak suka Ahok, meskipun saya tak termasuk dalam barisan yang tergolong pendukung Anies”, tukasnya.

Mengenai alasan pihak Pemrop DKI/ Jakpro meninggalkan, bisa jadi subjektif. Tetapi, ya begitulah kekuasaan. Kekuasaan bisa jadi kejam bagi pihak yang tak sejalan. Sebab kebenaran selalu diklaim sebagai miliknya, serasa absolut. Akhirnya masuk akal, jika ada yang ‘dongkol’ naik ke ubun-ubun, mungkin sesuatu yang semestinya dalam genggaman, kini menguap tak bersisa.

Dalam perjalananku mencari tahu itu, terdengar juga banyak harapan sederhana dari berbagai pihak, misalkan; “seharusnya si pulan lebih banyak intropeksi, pasti ada sebab dan akibat yang akhirnya pihak penguasa tak lagi menyertakannya masuk saat tahap implementasi. Bisa jadi ada yang merasa ‘jengah’. Tetapi, menurut info terpecaya, pihak terkait belakangan menyadari bahwa mereka ‘salah kamar’. Sementara Anies disyukuri karena bermain di dua kaki, akhirnya beresiko ‘ketula’ sendiri.

Kini faktanya konfrontasi terbuka. Pihak yang merasa ditinggalkan menggalang perlawanan, menghimpun kekuatan ‘ekstra’ dengan mengompori seniman di luar institusi resmi yang ada. Sayangnya meluncur berbagai cemooh dan ejekan tak senonoh, bahkan di tempat terbuka di depan publik. Tampaknya sukses membuat kegaduhan. Ketika cara ini yang dipilih, akhirnya terjebak, bagaikan aksi demonstran jalanan. Lengkaplah sudah. Apakah simpati didapat? Mungkin sebaliknya.

Salahnya dimana? Di Republik kita ini, lazim tidak ada yang salah. Semua orang punya hak bersuara. Semua orang selalu merasa benar. Aksi menimbulkan reaksi, itu pasti. Kalau mau dilihat lebih dalam lagi, bisa dilihat siapa saja yang terlibat di aksi tersebut? Apakah semua pemangku kepentingan terlibat? Siapa yang membubuhkan tanda tangan? Apakah semua stakeolder resmi terlibat? Apakah ‘para dewa’ seni dan kebudayaan (semisal Kang Ayip Rosidi, anggota seumur hidup) Akademi Jakarta, IKJ, Dewan Kesenian Jakarta, kelompok kelompok kesenian sebagai ‘stakeholder’ TIM tersebut ikut mendukung dalam ‘prakarsa’ tersebut? Yang terdengar justru mereka mempertanyakan ‘standing position’ kelompok yang berseberangan tersebut.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Anies saat ini, hanya mengeksekusi program lama yang sudah digulirkan sebelumnya waktu periode Ahok berkuasa. Pada era Gubernur Djarot Saiful Hidayat, tepatnya Oktober 2017, TIM juga telah direvitalisasi. Pekerjaan revitalisasi yang dilakukan di era Djarot meliputi perbaikan Gedung Teater Jakarta, Gedung Graha Bakti Budaya serta Plaza Teater Jakarta.

Bisa dipastikan apa jadinya saat berbagai kepentingan dan alasan bersatu, berbalik arah mengatasnamakan ‘Komunitas Seniman Jakarta’. Apalagi ketika kepentingan dan kekuatan politik sudah ditarik masuk ke dalamnya.

Tak perlu waktu lama untuk tahu siapa mereka masing-masing, termasuk yang pernah disebutkan seniman pendukung Anies yang berbalik arah. Masing masing punya tujuan dan agenda sendiri. Sebagian seniman tidak mengerti juga tentang arti kehadirannya yang dimanfaatkan untuk memperkuat ‘legitimasi’ kelompok tersebut. Akhirnya kompor pun meledak, barangkali karena sudah terlalu panas dan terlalu banyak bahan bakar gas di sekitar. Tetapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Arts Center’

Terkait dengan Arts Center atau pusat seni yang diperdebatkan, ‘confirmed’ berbeda dari galeri seni atau museum seni. Walau di sebagian negara Arts Center tersebut berpusat pada Komplek Museum. Pusat seni adalah pusat komunitas fungsional dengan kewenangan khusus untuk mendorong praktik seni dan untuk menyediakan fasilitas seperti ruang teater, ruang galeri, tempat pertunjukan musik, area lokakarya, fasilitas pendidikan, peralatan teknis, dll.

Sedangkan mengenai ‘penolakan’ yang dikaitkan dan membandingkan dengan Arts Center di luar negeri yang juga tidak mandiri. Kok rasanya tidak sepenuhnya benar juga. Misalkan di Amerika Serikat, Arts Center umumnya adalah ‘perusahaan’ yang diarahkan untuk mengekspos, menghasilkan, dan membuat ‘pembuatan karya seni’ yang dapat diakses oleh individu yang tertarik pada seni, atau bangunan yang disewakan terutama kepada seniman, galeri, atau perusahaan yang terlibat dalam pembuatan seni. Sebab itu muara karyanya lebih modern, terbuka dan liberal. Mereka harus mandiri, dengan sedikit subsidi dan masing masing negara menjalankan caranya sendiri.

Sebaliknya di Inggris, pusat-pusat seni dimulai setelah Perang Dunia II dan berangsur-angsur berubah dari tempat-tempat kelas menengah berkumpul (sekitar 1960-an dan 1970-an), pusat-pusat alternatif dan akhirnya pada tahun 1980-an melayani seluruh masyarakat dengan program yang memungkinkan akses lebih luas.

Benar bahwa di seluruh Eropa, umumnya sebagian besar pusat seni didanai pemerintah, karena mereka dianggap memiliki pengaruh positif pada masyarakat dan ekonomi (menurut filosofi model Rhineland). Padahal semula banyak organisasi-organisasi itu awalnya di tahun 1970-an hingga 1990-an hanya sebagai ruang jongkok yang kemudian disahkan.

Sementara Arts Center di Tokyo beda lagi gayanya, kita kenal Rappongi. Sebuah tempat di Minato, Tokyo yang memiliki berbagai wajah dan terkenal di kalangan internasional. Sebelumnya, area ini terkenal dengan image tempat hang-out tamu VIP atau performer, namun sejak subway Oedo Line mulai beroperasi, nuansanya berubah. Akses ke sini menjadi lebih mudah, dan ditambah dengan dibangunnya fasilitas berskala besar seperti Roppongi Hills dan Tokyo Midtown, mulai berkumpul berbagai macam orang dan membuat area ini diakui sebagai pusat budaya urban. Apakah lantas Tokyo dan Jepang jadi tercerabut dari akarnya?

Sedangkan Arts Center di Beijing, ada di 798 Art zone (Dashanzi Art District). Kawasan ini terkenal dengan gedung-gedung tua yang dibangun pada pertengahan tahun 1950-an, tapi kemudian daerah ini disulap menjadi daerah seni dan menjadi ikon kota Beijing yang sedikit unik.

Arts Center di Barcelona Spanyol, dapat mengunjungi berbagai tempat artsy yang mempunyai keunikannya masing-masing. Salah satu diantaraya adalah MACBA (Barcelona Contemporary Art Museum), The Picasso Museum, The Miro Foundation dan MNAC (Cataloni’s National Art Museum).

Jika di Beijing mempunyai contemporary art, Barcelona hanya punya yang namanya Street Art yang begitu populer. Jalan-jalan di Barcelona dihias oleh tangan-tangan terampil para seniman. Bahkan, banyak pemilik toko yang mempunyai artis muralnya sendiri.

Jadi, Arts Center tidak ada standarnya, masing masing berkembang sesuai dengan tuntutan zamannya dan masyarakatnya sendiri. Dibangun dengan konsep yang sesuai visi masyarakatnya. Tetapi idealnya revitalisasi mampu bertahan mengikuti tuntutan zaman untuk jangka waktu yang lama, 50 tahun bahkan 100 tahun ke depan. ***

*Teddy MIhelde Yamin*  (Peneliti dari Cikini Studi, alumni Notthingham University, Inggris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here