BERITABUANA.CO, KUPANG – Sejak Rumah Perempuan Kupang berdiri tahun 2002, hanya ada dua kasus Kekerasan Seksual yang diselesaikan secara Adat.
Hal ini diakui Kepala Divisi Advokasi dan Pendampingan, Rahmawati Bagang saat jumpa pers di kantor Rumah Perempuan Kupang, Senin (25/11/2019).

Dijelaskan Wati sapaan akrab Rahmawati bahwa dalam menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan, ada berbagai strategi yang dilakukan Rumah Perempuan Kupang, diantaranya jemput bola atau korban datang sendiri mengadu ke kantor

“Kami melakukan pendampingan secara psikologis, memfasilitasi untuk layanan hukum, layanan Selter, layabab medis dan layanan psikologis. Sedangkan untuk tingkatan penyelesaian tergantung dari kasus yang dilaporkan ke Kantor Rumah Perempuan Kupang,” tegas Wati.

Diakui Wati, banyak Kasus Kekerasan Rumah Tangga (KDRT) diselesaikan dengan alternatif atau kekeluargaan, tapi untuk kasus Kekerasan Seksual hampir semuanya diselesaikan secara hukum sampai tingkat pengadilan.

“Selama Rumah Perempuan Kupang berdiri, bary dua kasus Kekerasan Seksual yang diselesaikan secara adat, karena kondisinya tidak menjamun sampai di proses hukum, yang mana terkait keamanan korban dan keluarga korban, sehingga diselesaikan secara adat,” tandas Wati.

Sedangkan kasus yang kedua, tambahnya, karena kekurangan alat bukti, yang mana korban meninggal dunia, akhirnya tidak diproses lanjut.

Dijelaskan Wati, sesuai data yang Rumah Perempuan Kupang sejak tahun 2002-2018 telah mendampingi sekitar 3.836 Kasus, 647 kasus diantaranya merupakan kasus Kekerasan Seksual.

“Sedangkan dari Januari-Oktobef 2019 sudah ada 64 kasus Kekerasan Seksual yang kami tangani dan dampingi. Sekitar 85 Persen korbannya adalah anak-anak dibawah umur, tujuh orang diantaranya hamil, dampak dari kekerasan seksual yang dialaminya,” tegas Wati. (Iir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here