Mengenang Dapur Umum di Kantor DPP PDI

by -

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketika berpidato di acara peresmian kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (23/11/2019) kemarin, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan beberapa pesan ketua umum mereka, Megawati Soekarnoputri. Namun, Hasto menekankan satu hal, yaitu pengurus partai diminta kembali ke tradisi dapur umum.

Apa itu tradisi dapur umum? Hal ini menarik karena memang pada saat Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum DPP PDI, (belum ada Perjuangan) periode 1993 – 1998, pernah ada dapur umum di kantor DPP Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.

Ketika itu, DPP PDI dilanda prahara, perpecahan hingga menimbulkan 2(dua) kubu. Maka seperti biasanya, perpecahan ditingkat pusat pun menjalar hingga ke tingkat bawah. Ada kubu pendukung kongres dan ada kubu penentang kongres.

Kubu pertama dipimpin Fatimah Achmad sedang kubu kedua dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri. Kubu pertama mendapat angin karena ketika itu mereka didukung oleh pemerintah ditambah ABRI. 

Sementara kubu Megawati didukung oleh pendukung setianya serta ditambah kelompok-kelompok masyarakat yang menentang cara pemerintah menyelesaikan perpecahan di tubuh PDI.

Diakhir bulan Mei atau awal bulan Juni 1996, kantor DPP PDI didatangi oleh masyarakat, selain anggota partai pendukung setia Megawati Soekarnoputri. Gedung itu sudah dikuasai pendukung Megawati sejak kubu Fatimah tak pernah menginjakkan kakinya kesana. Kantor itu selalu ramai dan disitu lah mereka berkumpul setiap harinya sebelum ada aksi penyerbuan pada hari Sabtu (27/7/1996) pagi.

Tidak hanya berkumpul, di halaman gedung pun dibuat sebuah panggung untuk aksi mimbar bebas. Para pendukung Megawati, memanfaatkan panggung berorasi. Secara bergantian mereka tampil berpidato menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah karena dianggap telah bertindak tidak adil kepada Megawati Soekarnoputri, sebagai ketua umum DPP PDI yang sah.

Adalah almarhum Taufiq Kiemas (TK) yang punya ide agar dibuat dapur umum di kantor DPP PDI. Untuk apa?  Pikiran TK praktis saja, agar pendukung setia Megawati yang tetap bertahan di sana tak pusing memikirkan urusan makan mereka.

Sebab, belum tentu dari semua pendukung Megawati itu punya uang dan bisa setiap hari pergi ke warung makan. Jika urusan makan dan minum sudah selesai atau tidak ada masalah, maka mereka pun diyakini bisa fokus berjuang membela dan mendukung Megawati Soekarnoputri.

Urusan logistik rupanya tidak ada masalah. Ada saja donatur yang simpatik dan empati pada perjuangan Megawati dengan  menyumbang beras, minyak, sayuran, telor, ikan asin, mi instan dan kebutuhan lain ke kantor DPP PDI. Bahkan ketika itu, dibuatkan sebuah kotak sumbangan untuk menerima bantuan uang dari kelompok masyarakat yang datang menyaksikan aksi pendukung Megawati Soekarnoputri.

Untuk menyajikan bantuan logistik itu menjadi makanan, maka ada sebuah tim yang bekerja memasak di dapur, di bagian belakang kantor DPP PDI. Tim itu dipimpin oleh seorang perempuan tangguh sekaligus juru masak yang akrab dipanggil Mak Rappe. Dia dan pasukannya emak-emak, bekerja memasak untuk dihidangkan makan siang dan untuk makan malam.  Mak Rappe juga dibantu anak-anaknya.

Selain makan, semua pendukung Megawati yang ada disitu bisa juga meneguk kopi secara gratis, karena dapur umum juga ikut menyiapkan. Setiap saat mereka bisa ngopi pada saat berdiskusi di dalam maupun di luar gedung kantor DPP PDI. 

Itulah sekelumit kisah “dapur umum” yang pernah ada disaat kepemimpinan Megawati Soekarnoputri diobok-obok oleh orang dalam sendiri. Dapur umum dibuat untuk meringankan beban para pendukung Megawati Soekarnoputri karena mereka sedang berjuang melawan kezaliman dan ketidakadilan.  (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *