Orientasi Bisnis di Era Digital: Money First atau Value First

Bisnis era digital.

Oleh: Endy Kurniawan*

Endy Kurniawan.

MASIH melanjutkan tulisan sebelumnya tentang dua mahzab investasi startup, menjadi pertanyaan pelaku usaha, apakah startup bertujuan menciptakan value (value creation dalam bentuk profit dan nilai bisnis lain) terlebih dahulu atau menarik uang/ investasi (money first dalam bentuk investasi) baru kemudian digunakan untuk berkembang? Dua tema diatas sebetulnya masih satu nafas. Sama halnya dengan pertanyaan sebelumnya: pertumbuhan dulu (dengan pendanaan) atau profitabilitas dulu (mendapatkan revenue).

Orientasi money first dijalankan rata-rata oleh bisnis konvensional. Untuk di dunia startup, lihat Tiket.com. Di dunia internasional ada Booking.com atau Agoda.com. Fokus mereka bukanlah mendapatkan pendanaan dari round-ke-round tapi bagaimana agar bisnisnya monetizing/ mendapatkan keuntungan secepat mungkin.

Bisnis-bisnis itu sepi dari sorot publisitas saat selebrasi pendanaan venture capitalist. Investor mereka butuhkan ketika perlu tenaga untuk membesar demi tujuan keuntungan perusahaan. Kendati tak gegap gempita, perusahaan-perusahaan itu sangat sehat dan menguntungkan.

Ada strategi di kalangan mazhab money first dimana startup dan investor percaya bahwa jika memiliki pengguna yang banyak, maka cara monetisasi sangatlah mudah. Sehingga jika dimonetisasi dari awal, ada kekhawatiran pengguna akan pindah ke layanan lain yang menghadirkan paket yang lebih ekonomis atau nyaman bagi pengguna.

Untuk itu mereka berusaha membuat banyak pengguna merasa nyaman menggunakan layanan mereka. Contohnya adalah perusahaan seperti Facebook, Twitter, dan Google. Asalkan punya user, pasti bisa ditemukan cara untuk menjadikannya uang. Yang penting sekarang user “lengket” dulu dengan layanan tersebut.

Sementara anggapan perusahaan yang value first, startup yang tidak monetize itu delusional. Para founder dipaksa untuk mengejar exit dalam waktu dekat yang tidak sewajarnya. Mereka akan menargetkan 4-5 tahun harus sudah merger/ akusisi atau IPO.

Setiap tahun harus bisa fund raising mencari seri berikutnya dan seterusnya. Bagi mereka, startup yang tidak scaling dengan cepat dan mengakuisis market dengan agresif, itu bukan startup tapi cuma bisnis biasa. Ada teori, 2 dari 10 startup pasti gagal, jadi harus bisa cepat mengejar target atau mati di dalam proses tersebut (kemudia buat startup baru lagi atau pivot). ***

* Penulis adalah CEO Saiber Dunia Imaji, Business Advisor Umra.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here