Kecelakaan Skuter Listrik, Regulasi Pemakaian Jalan Raya dan Trotoar Harus Diperketat

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kebijakan penggunaan jalan raya, trotoar dan jembatan penyeberangan sebagai tempat bermain skuter listrik harus diatur secara tegas dan dijalankan dengan pengawasan oleh aparat yang berwenang. Jangan hanya panas dan responsif, ketika ada kecelakaan. Begitu juga para pihak yang berbisnis jasa pemakaian skuter listrik seperti Grabwheels harus ikut bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan terhadap pengguna jasa mereka , misalkan memastikan pemakai jasanya dijamin asuransi kecelakaan dan dana maksimum dana CSR untuk pengembangan fasilitas publiknya.

“Bisnis jasa sewa skuter listrik ini harus juga memiliki regulasi yang ketat mengenai hak, tanggung jawab sosial, dan ketertiban umum sekalipun mereka menjalankan bisnis jasa secara online dengan berbasis aplikasi,” kata pengamat kebijakan publik dari Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin di Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Menurut Teddy, peristiwa kecelakaan yang menewaskan 2 pengguna skuter listrik oleh tabrakan mobil di kawasan Senayan, harus menjadi pelajaran berharga bagi regulator maupun masyarakat pengguna jasa seperti jasa Grabwheels.

“Bermain skuter listrik di jalan raya itu sangat berisiko, apalagi pada saat jam tidur. Lagi pula jalan raya bukan tempat bermain skuter. Apalagi bermain skuter pada dini hari, jelas melanggar aturan keselamatan dan kesehatan. Sebab kondisi pengguna skuter belum tentu fit saat dini hari pada jam orang dipulas kantuk,” ujar Teddy, lulusan Nottingham University, London, UK.

Di lain sisi, menurut Teddy, regulasi jam berbisnis penyedia jasa sewa skulter listrik juga harus diatur secara tegas. “Meski berbisnis secara online, bisa saja mereka memastikan penyewanya harus memiliki SIM C karena skuter listrik ini bisa melaju sampai 40 km/jam. Mereka juga harus melengkapi standar pengguna jasa seperti helm, alas lutut, siku-siku tangan dan perangkat keselamatan lainnya. Bila ada kecelakaaan, korban lebih terlindungi. Begitu pula aturan penggunaan, apakah boleh berboncengan sampai 2 atau 3 orang? Mesti diatur sebelum bisnis tersebut dipasarkan ke publik. Seringkali setelah kecelakaan dan jatuh korban, baru dipikirkan prasyarat pendukung kenyamanan dan keamanan di lapangan,” ujar Teddy, yang juga pemerhati pasar modal, dan lama bekerja di Hongkong, Singapura, dan Bangkok.

Teddy mengutip aturan di Singapura, di mana skuter listrik dilarang digunakan di jalan utama dan trotoar oleh Otoritas Transportasi Darat. Hanya boleh di jalur sepeda dan jaringan rute yang menghubungkan taman-taman. Di Perancis, parkir di trotoar saja tidak dibolehkan. Sedangkan di Inggris, skuter listrik dianggap illegal bila beroperasi di jalan dan trotoar, dan hanya boleh digunakan di taman pribadi.

Sementara, praktisi hukum Ori Rahman SH mengatakan, masyarakat harus belajar dari pengalaman korban kecelakaan, melakukan introspeksi terhadap kemungkinan kelaiaian korban pengguna jasa skuter listrik.

“Sebuah kecelakaan terjadi, pasti sebab dan akibat. Bukan kesalahan tunggal. Dalam hal ini, regulator juga harus introspeksi terhadap tata aturan yang diterapkan. Begitu juga penyedia jasa seperti Grabwheels, mereka harus ikut bertanggung jawab dan menyediakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) terhadap kemungkinan ekses dari bisnis yang dijalankan,” tukas Ori Rahman, Ketua KontraS (Komisi untuk Orang Hilang) tahun 2001 – 2003.

Ori Rahman menambahkan, bisnis jasa skuter listrik baru tumbuh di Jakarta dan penggunanya generasi milenial. “Pengguna jasa ini harus mawas diri terhadap risiko bermain di jalan raya. Kita kan sangat paham bagaimana ruwetnya jalan raya di Jakarta. Kadang kala untuk menyeberang jalan saja, kita harus bersusah-payah, dulu baru dikasih jalan oleh pengendara mobil. Bagaimana pula ceritanya bila kita bermain-main skuter listrik berkelompok di jalan raya, pasti membahayakan pihak lain juga,” kata Ori Rahman, advokat yang juga pernah aktif di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta tahun 1996 – 1997.

Seperti diberitakan berbagai media, kecelaaan terhadap pengguna jassa skuter listrik hari Minggu (10/11/2019) dini hari lalu, menewaskan Ammar Nawar Tridarma (18) dan Wisnu Chandra Gunawan (18), sedangkan Bagus mengalami luka-luka. Keluarga tersangka bertanggung jawab dengan membawa korban ke rumah sakit dan membantu biaya perawatan. (Rls)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here