Irman Gusman Optimis Dibawah Kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf, Lima Tahun Kedepan Dapat Lebih Baik

by -
Irman Gusman bersama Presiden Jokowi.

JAKARTA – Mantan Ketua DPD RI dua periode, Irman Gusman sangat optimis kinerja pemerintahan dibawah kepemimpinan Presiden Jokwo dan Wapres Ma’ruf Amin, lima tahun ke depan dapat lebih baik. Apalagi, jika melihat susunan orang-orang yang masuk dalam susunan Kabinet Indonesia Maju tersebut.

“Saya yakin, Presiden tidak lagi memiliki beban Pilpres berikut, kubu oposisi kini bergabung ke kubu pemerintahan dengan masuknya Pak Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan, sementara DPR, DPD dan MPR pun diketuai oleh tokohtokoh yang bersahabat dengan Presiden dan Wapres,” sebut Irman Gusman dihubungi, Jumat (15/11/2019).

Jadi, menurut Irman pemerintah sekarang merupakan masa keemasan bagi Presiden Jokowi untuk mendeliver lebih banyak lagi sebelum ia meletakkan jabatan di tahun 2024.

“Itu harapan kita bersama. Tentu sebagai masyarakat Sumbar, kita pun berharap agar perhatian ke provinsi ini tidak akan berkurang,” ujar Irman.

Namun, lanjut Irman Gusman, terlepas dari berkurang atau tidak perhatian itu, karena pemerintah harus memperhatikan seluruh daerah di Nusantara ini, dengan penduduk yang sudah 265 juta. Mengapa? Karena ujung tombak perubahan dan kemajuan di Provinsi ini tidak berada di Jakarta, melainkan berada di sini, di tangan para Pemerintah Daerah dan masyarakatnya.

“Ketika saya mengetahui bahwa Pak Nadien Makarim, CEO Gojek itu, diangkat sebagai Menteri Pendidikan, ada dua hal langsung muncul dalam pikiran saya. Pertama, ini tandanya kebijakan pendidikan ke depan akan tidak konvensional lagi, tetapi akan lebih fokus ke peningkatan kualitas SDM yaitu profesionalisme SDM di yang disesuaikan dengan knowledged-based economy termasuk digital economy. Profesionalisme yang saya maksudkan tidak hanya didefinisikan oleh ijazah dari pendidikan formal, tetapi oleh keahlian dan keterampilan individu di segala bidang, termasuk dari jalur pendidikan kejuruan,” terangnya.

Memang diakui Irman bahwa ijazah dari pendidikan formal itu penting, tetapi tidak bisa menjamin bahwa ijazah itu bisa menyebabkan seseorang mermenangkan persaingan di pasar tenaga kerja dalam era knowledge-based economy, era ekonomi digital, era ekonomi kreatif dimana keahlian dan
keterampilan individu menjadi faktor penentu.

Sebab, masih menurut Irman, tantangan bangsa kita ke depan adalah mempertahankan budaya-budaya lokal, budaya daerah masing-masing, sebab sesungguhnya yang dinamakan budaya bangsa Indonesia itu adalah suatu untaian atau mata rantai yang terdiri dari budaya-budaya daerah di seluruh Nusantara.

“Karena itu pendidikan kebudayaan sangat perlu dilestarikan meskipun kita hidup di dalam era digital yang tak menentu. Jepang bisa maju karena nilai-nilai budayanya mewarnai profesionalisme individu-individu di segala bidang. Orang Jepang bangga menjadi orang Jepang. Korea demikian juga, India demikian juga, Rusia begitu juga, bahkan China tetap mempertahankan budaya leluhurnya meskipun mereka sudah menjadi negara maju dan superpower ekonomi dunia,” kata Irman mengakhiri pembicaraan. (Aldo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *