Motif Teror Bom Medan Diragukan, Kapolri Harus Transparan ke Publik

TEROR bom kembali terjadi pada hari Rabu 13 November 2019 pukul 08.45, dimana publik dikejutkan dengan adanya ledakan bom di Polrestabes Medan. Ledakan itu menewaskan 1 orang yang memakai jaket ojek online bernama Rabbial Muslim Nasution dan 6 orang terluka di lokasi kejadian. Selain itu, ada juga kendaraan yang rusak terkena ledakan.

Publik pun bereaksi dengan kejadian bom tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah bom bunuh diri oleh teroris. Tapi ada pula yang mengatakan si pengemudi ojek online tersebut adalah korban dari kejahatan terorisme, dimana barang yang dibawanya dari si pemesan ternyata adalah bom, dan bom tersebut diledakkan melalui remote control dari jarak jauh dengan target kantor polisi.

Sebagian masyarakat juga ada yang berkomentar bahwa ini hanyalah pengalihan isu.

Karena banyaknya komentar tersebut, maka polisi wajib segera mengungkap teror bom tersebut secara transparan.

Dari Polri sendiri meyakini bahwa ini adalah ulah teroris yang mulai lagi menyebar teror. Dan jika dilihat pemilihan tempat bom diledakkan, bisa dipastikan ini adalah ulah teroris pemain lama, yang beberapa waktu yang lalu di Surabaya melakukan pengeboman di beberapa kantor polisi dalam waktu yang bersamaan.

Dari fakta peristiwa dan hasil olah TKP polisi, polisi membantah kecolongan sehingga teroris bisa masuk ke markas polisi, karena si terduga pelaku ketika melewati pos penjagaan sudah diminta melepas jaket dan memeriksa barang berupa pesanan yang dibawanya. Namun ternyata menurut keterangan polisi, kemungkinan bom tersebut dililitkan di badan si pelaku yang tidak terlihat oleh petugas penjagaan.

Terlepas dari berbagai komentar masyarakat terkait peristiwa ledakan bom di Medan, tentunya ini merupakan tugas berat Mahfud MD selaku Menkopolhukan dan Jendral Idham Azis selaku Kapolri yang baru, untuk mengungkap siapa pelakunya dan apa sebenarnya motif dari peristiwa bom tersebut, serta segera menyampaikan hasilnya kepada publik luas. Polisi juga harus dapat menangkap pelakunya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, dan untuk menghindar praduga-praduga yang bisa menjadi liar. Sebab bila tak tuntas, akan menambah ketakutan dan kecemasan di masyarakat. Menkopolhukam harus mengevaluasi, membuat kebijakan keamanan yang ketat dan sistem perlindungan masyarakat yang baik.

Publik berharap Polri dengan Densus 88-nya harus dapat memberantas secara tuntas terorisme sampai ke akar-akarnya dan mencegah kembali terjadinya tindak terorisme. Oleh karena anggaran kepolisian untuk pemberantasan terorisme cukup besar, sehingga masyarakat boleh berharap akan adanya rasa aman dalam beraktivitas sehari-hari kapanpun dan di manapun.

Antisipasi aksi teror ini penting mengingat momen hari besar perayaan Natal dan tahun baru sudah di depan mata.

*Ori Rahman SH* – (advokat dan Peneliti Cikini Studi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here