Guru Kembar Umur Sudah 70 Tahun Tapi Mau Belajar Scuba Diving

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Diusia yang sudah mencapai 70 tahun tak tampak kerentaan yang membuat ibu-ibu ini duduk manis dan menghabiskan waktu dalam rumah saja. Sri Rosyati dan Sri Irianingsih, dua kembar yang selama ini dikenal sebagai pendiri sekolah gratis bagi warga kurang mampu, tetap semangat mengikuti kegiatan penuh petualangan scuba diving.

“Aku ini dari dulu yang senang kegiatan jalan-jalan, bukan duduk diam saja. Udah lama pengen ikut scuba diving, tapi ya takut. Sekarang sih ingin belajar yang benar supaya bisa menikmati keindahan bawah laut Indonesia,” kata Sri Rosyati atau Bu Rossi, nenek dengan beberapa cucu.

Sejak 1990, Ibu Guru Kembar itu menjalani aktivitasnya sebagai guru bagi anak-anak marjinal di Jakarta dengan nama Sekolah Darurat Kartini. Sekolah ini berdiri pertama kali di Kolong Tol Pluit, Jakarta Utara, pernah digusur sebanyak lima kali, namun masih bertahan memberikan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu.
Tidak hanya itu saja, mereka juga banyak melakukan kegiatan di lokasi bencana, daerah konflik, dengan melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, mendirikan sekolah dan taman baca di pedalaman, pulau terluar, terpencil, dan pinggir pantai di Indonesia.
Sekarang keduanya mencoba petualangan baru aktivitas di bawah air, scuba diving.

Nenek yang masih lincah ini, belajar scuba diving di saat sudah umur yang senior rata-rata di atas orang Indonesia.
“Aku yang dulu ajak-ajak Rossi supaya belajar diving, karena kalau aku diving dia aku tarik-tarik tapi gak berani masuk air,” ungkap Sri Irianingsih atau Rian, kakak Bu Rossi, yang sudah lebih dahulu memiliki brevet selam dari TNI AL.

Kegiatan sosial di wilayah-wilayah terpencil Indonesia, mengharusnya dua kembar ini sering bersentuhan dengan laut-laut indah tak tercemar polusi di pelosok negeri.

“Saya itu gemes pengen nyemplung ke air ketika di Halmahera, lihat laut kok begitu bening tapi ya gak bisa menyelam. Kalau berenang saya bisa lho, “ ungkap Bu Rossi.

ISTIMEWA

Bagi Rossi yang baru sekarang ini berani belajar scuba diving, perlu mengumpulkan semangat dan keberaniannya. Soalnya, ketika melihat air berwarna biru di tengah lautan sudah terbayang lautan yang dalam dengan mahluk-mahluk yang menyeramkan.

“Iya aku tuh agak takut dengan laut yang biru, tapi sekarang sudah tidak lagi khawatir. Udah mulai menikmati pemandangan bawah air,” tutur Rossi, setelah mengikuti pelatihan scuba diving di Pulau Pramuka, awal November 2019 lalu.

Aktivitas keduanya menyelam di Pulau Pramuka membuat decak kagum warga setempat, mereka bahkan berulang kali menanyakan umurnya yang sudah mencapai 70 tahun.

“Saya kagum sama ibu-ibu itu, sudah tua masih mau menyelam. Berapa umurnya? 70 tahun, luar biasa,” puji Saadah, ibu tiga anak, warga Pulau Pramuka.

Kedua nenek-nenek yang dikenal dengan aktivitas sosial, memilih sekolah scuba diving Nadipati DC dengan afiliasi National Association of Underwater Instructors (NAUI) yang bermarkas di Florida, AS. Agensi scuba diving ini, memiliki metode pelatihan yang konservatif dengan mengutamakan keselamatan dan kenyaman penyelam.

Menurut Instruktur selam Hendrata Yudha yang menangani langsung pelatihan selam ini, kedua peserta itu tidak terhalang dengan usianya. Semangat dan motivasi untuk mengikuti pelatihan selam selama lebih dari 30 jam pelajaran, patut diacungi jempol.

“Menyelam rekreasi NAUI yang diikuti Bu Rossi dan Bu Rian memang didesain bisa diikuti oleh semua umur, asal ada semangat dan motivasi, upaya memberikan pelatihan jadi lebih mudah. Ada beberapa keterampilan menyelam yang disesuaikan dengan kemampuan fisik mereka. Tapi secara keseluruhan, asyik aja melatih ibu-ibu ini. Penuh tantangan,” tuturnya.

Hari itu, Bu Rossi dan Bu Rian sudah merampungkan pelatihan dengan mengikuti empat kali penyelaman pada kedalaman 10 meter, masing-masing 20 menit di bawah air. Dari awal-awal masih khawatir dengan kemampuan mengontrol pernafasan dengan tabung scuba, perlahan-lahan kedua dapat mengikuti sesi penyelaman dengan nyaman.

“Saya tuh senang bisa melihat ikan Nemo secara langsung, kelihatan cantik ya di bawah air. Saya tak sangka ya, di Pulau Pramuka airnya masih bening dan faunanya masih bagus,” ujar Bu Rossi.

Melihat dari dekat fauna bawah air itu, akan dijadikan cerita kepada murid-murid yang diasuhnya betapa Indonesia itu memang indah.

“Asyik nih kalau Rossi sudah selesai pelatihan dan punya sertifikat, jadi bisa saya ajak menyelam di Bali,” timpal Bu Rian, kakaknya, yang sudah membuat rencana melakukan penyelaman di Tulamben, Bali, pada akhir tahun ini. (Rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here