Diduga Palsukan Akta Kelahiran Anak Angkat, Hartanto Jusman Dilaporkan ke Polisi

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Diduga memalsukan akte kelahiran anak kandungnya, seorang pengusaha asal Tangerang, Hartanto Jusman dilaporkan oleh adik iparnya ke polisi.

“Saya melaporkan dia atas dugaan pemalsuan akte kelahiran anaknya yang bernama Marlyn Mihardja Jusman. Sejak menikah dia nggak punya anak, tetapi mengangkat seorang anak,” kata Suherman Mihardja selaku pelapor dalam kasus ini kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (09/11/2019).

Ditegaskan, bahwa terlapor sejak menikah dengan adik kandungnya, almarhum Mareti Mihardja tidak pernah dikarunia seorang pun anak. Tetapi anehnya, berdasarkan data pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) No.474.1/819CS/199 tertanggal 11 September 1999, nama Marlyn Mihardja Jusman justru tercatat sebagai anak pertama dari pasangan Hartanto Jusman dan Mareti

Mihardja yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1999.
“Padahal berdasarkan surat penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No.209/Pdt.P/2011/PN Tng, tertanggal 2011 menyatakan, Marlyn Mihardja Jusman adalah anak dari Antoni Liem dan Hartini Tan. Ini kan keterangan yang sangat bertolak belakang. Jadi kami menduga ada pemalsuan data outentik soal kependudukannya,” kata Suherman.

Ditambahkannya, berdasarkan akta kelahiran tersebut pihak terlapor kemudian membuat surat keterangan ahli waris pada Kantor Notaris Handoko Halim, dengan No.04/MH/02/2019 tertanggal 14 Februari 2019.

“Dalam surat keterangan waris itu menyatakan, seolah-olah Marlyn Mihardja Jusman merupakan ahli waris yang sah. Kemudian, berdasarkan surat keterangan waris itu, dia (terlapor) telah digunakan untuk mencairkan beberapa tabungan atas nama almarhumah adik kandung saya, yakni Mareti Mihardja,” ungkap Suherman yang juga berprofesi sebagai advokat.

Sebelumnya, lanjut Suherman, Hartanto juga pernah dilaporkan atas perbuatan penggelapan dalam jabatan dengan mentrasfer dana perusahaan sebesar Rp 7 miliar ke rekening pribadi.

“Dalam perkara itu, Pengadilan Negeri Tangerang telah menjatuhkan vonis selama setahun penjara. Kemudian Pengadilan Tinggi Banten juga menguatkan putusan tersebut, dan sekarang kasus itu masih dalam proses Kasasi di Mahkamah Agung,” katanya.

Meski demikian, pihak terlapor hingga saat ini menolak untuk menjelaskan terkait laporan tersebut. Ketika dihubungi lewat telephone genggamnya, Hartanto tetap menolak untuk berkomentar.

“Silahkan aja (dilaporkan-red), nanti hukum yang akan membuktikannya,” jawabnya singkat. Oisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here