Pengadaan Vaksin Kanker Serviks, Puspayoga Janji Koordinasi Dengan Menkes

BERITABUANA.CO, KUPANG – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga berjanji akan koordinasi dengan Menteri Kesehatan (Menkes) RI berkaitan dengan pengadaan Vaksin untuk penderita Kanker Serviks di Kota Kupang.

Janji tersebut menjawab permintaan Walikota Kupang, Jefirstson Riwu Kore saat kunjungan kerja Bintang Puspayoga ke Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Nunhila, Jumat (8/11/2019).

“Untuk vaksinasi Kanket Serviks, kami akan memfasilitasi ke Menkes. Karena Kanker Serviks ini program prioritas Ibu Negara, Iriana Widodo, dimana pada tanggal 21 April 2015 dilaunching IVA Test untuk mencegah Kanket Serviks tersebut,” jelas Puspayoga.

Diakui Puspayoga, vaksinasi ini memang sebagai pencegahan awal timbulnya Kanker Serviks, akan tetapi dana yang dibutuhkan untuk pengadaan vaksin ini cukup besar, untuk satu vaksin harganya mencapai Rp 1 juta lebih, pemberiannya juga tergantung usia orang tersebut, bisa 2-3 vaksin yang dibutuhkan.

“Tapi karena ini sudah jadi program prioritas, maka tetap menjadi komitmen untuk pengadaannya. Dan kami akan koordinasikan ke Menkes,” ujar Puspayoga.

Pihaknya perlu koordinasi dengan kementrian lain, karena Kementrian PPPA fungsinya hanya koordinatif bukan teknis, yang memiliki keterbatasan kewenangan.

“Presiden Jokowi sudah mengamanatkan kepada Kabinet Kerja, untuk kerja tim. Sehingga kami selalu koordinasi dengan menteri terkait,” papar Puspayoga.

Sebelumnya, Walikota Kupang yang akrab dipanggil Jefry Riwu Kore mengatakan bahwa pernah mengirim surat ke Pemerintah Pusat (Pempus) khusus untuk Vaksinasi Kanker Serviks, karena banyak warganya yang terindikasi mengidap penyakit tersebut.

“Mungkin dibandingkan kabupaten lain di Provinsi NTT ini, Kota Kupang yang paling banyak pengidap Kanker Serviks. Diharapkan kementrian terkait bisa beru perhatian sedikit, mungkin dengan mendatangkan ahlinya,” harap Jefry Riwu Kore.

Diakui Jefry Riwu Kore, mungkin masyarakat khususnya kaum ibu malu untuk memeriksakan dirinya, tapi lebih baik diperiksa sejak awal daripada tahu setelah stadiumnya sudah tinggi.

“Tadi pagi saja saya masih menerima dua orang ibu di rumah, mereka harus melakukan pemeriksaan lanjutan di Jakarta, karena sudah Stadium 2B,” jelas Jefry Riwu Kore.

Tapi karena tidak ada alokasi dana untuk itu, kata Jefry Riwu Kore, maka hanya bisa membantu secara pribadi.
“Kalau Kementrian bisa membantu ini, kami sangat berterima kasih,” tambah Jefry Riwu Kore. (iir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here