BERITABUANA.CO, BANJARNEGARA – Nurhayati Subakat, pendiri Wardah Cosmetic, perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia, nomor enam di dunia, diberi selembar kain sutera putih bermotif daun dan bunga. Kain ecoprint itu buatan warga desa Merden, Banjar Negara, Jawa Tengah.

Warga desa membuat kado kain ecoprint kualitas terbaik. Kainnya sutera halus. Bunga dan daun yang digunakan juga dipilih yang paling bagus. Bila dijual, kain sepanjang 2,5 meter itu bisa laku Rp 1,5 juta. Tapi warga desa menjadikan kain tersebut sebagai ucapan terima kasih kepada Nurhayati. Melalui Wardah Cosmetic, warga Merden dan Mertasari bisa memiliki keahlian baru, memproduksi kain ecoprint yang menggunakan pewarna alam dari daun dan bunga asli.

Jumat siang, Lazismu mengundang Nurhayati ke Gedung Pusat Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No 62, Jakarta Pusat. Lazismu menerima dana CSR dari Wardah Cosmetic sebesar Rp 4 miliar. Lazismu menyalurkan dana CSR tersebut melalui dua program. Yakni, Rp1 miliar untuk pembangunan Masjid At-Tanwir di kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah dan Rp3 miliar untuk program pemberdayaan ekonomi kaum perempuan.

Usaha kain ecoprint di desa Merden dan Merta Sari merupakan program pemberdayaan pertama. Program ini dimulai awal Oktober yang lalu melalui serangkaian pelatihan produksi. Awal November ini sudah mulai produksi komersial.

Lazismu akan memamerkan kain ecoprint di acara World Zakat Forum di Bandung pada 5 November 2019, pekan depan. Selanjutnya, kain ecoprint juga akan dipamerkan di acara Muhammadiyah International Business Forum di Bali akhir bulan ini.

Program lainnya yang sedang dipersiapkan adalah unit usaha pengolahan tomat menjadi saus khusus masakan Italia dan Mexico dengan merk Tomatos Lezatos. Program ini dilaksanakan di Kabupaten Bandung Barat. Program ini dimotori tiga pengusaha yang menjadi relawan Lazismu yakni, Rani Mayasari, Nuning Hallett dan Aung Shin Sei yang bernama asli Wanti Sun.

Rani Mayasari akan bertemu Pak Muchlis CEO Pachira, perusahaan pengolah konsentrat buah tropis di Bekasi. Rani bertugas menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Pachira dalam pengolahan buah tomat menjadi pasta.

Kebutuhan pasta tomat di Indonesia sangat besar. Indonesia tercatat masih mengimpor rata-rata 2.000 ton per tahun dari Tiongkok dan Turki. Data impor itu seperti anomali karena banyak petani tomat yang frustasi. Faktanya, harga jual tomat sering kali tidak setimpal dengan biaya produksi. (EFP)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here