Wartawan Perempuan Berbagi Pengalaman Soal Gender

by -
workshop para jurnalis perempuan dari berbagai negara/foto:dok

JAKARTA, BERITABUANA.CO– Tahun 2012 PBB mengeluarkan resolusi tentang Pemajuan, Perlindungan dan Penikmatan HAM (Hak Asasi Manusia) atas internet. Salah satu poin yang dikemukakan adalah mengakui bahwa ekpresi yang disampaikan secara online mendapat perlindungan yang sama dengan aktivitas ekspresi secara offline. Namun demikian kaum perempuan terhitung masih mengalami ketakutan dan merasa terancam saat menggunakan hak kebebasan berekspresi mereka di internet. Wartawan perempuan misalnya, tercatat memiliki banyak pengalaman negatif dalam ekspresi online ini.

Inilah yang menjadi salah satu alasan diselenggarakannya “Workshop Teaching Gender in Journalism and Media Studies”, kerja sama antara Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Department of Journalism and Media Studies/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan University, Norwegia, International Association of Women in Radio and Television (IAWRT); serta Communication Research Center, Institute of Social and Political Research and Development (LPPSP FISIP) Universitas Indonesia.

“Jelas ada kebutuhan untuk mencatat pengalaman para jurnalis perempuan dalam penggunaan sosial media, agar bisa dibentuk kelompok pendukung yang kuat guna mencegah mereka dibungkam,” kata Elisabeth Eide, Direktur JMIC, Oslo Metropolitan University. Pembentukan jaringan di antara jurnalis perempuan, menurutnya, menjadi penting untuk memperjuangkan hak-hak mereka sendiri dan juga untuk meningkatkan pemberdayaan.

Workshop kali ini berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (28-30 Oktober 2019) dan  diikuti oleh  28 peserta dari 14 negara antara lain Afganistan, Bangladesh, Filipina, India, Inggris, Malaysia, Mesir, Nepal, Norwegia, Pakistan, Tunisia, Turki, Uganda, dan Zimbabwe. Peserta saling bertukar pengalaman tentang gender di media dalam pengalaman jurnalistik yang mereka alami.

Department of Journalism and Media Studies/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan University, yang menjadi inisiator kegiatan, sudah tiga dekade terlibat dalam berbagai kajian gender. “Terlalu sedikit kontak antar lembaga, antara akademisi dan jurnalis mengenai masalah ini. Sebenarnya banyak peserta memiliki berbagai hal untuk di-sharing sehingga kita bisa memetik pelajaran dan menyebarkannya.” kata Eide. Adalah penting untuk membangun literasi media gender bersama-sama dengan lembaga akademik lain serta LSM yang peduli dengan hak-hak gender. “Workshop ini akan menjadi pengalaman berbagi dan belajar untuk semua orang,” tambah Eide. (syd)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *