BERITABUANA.CO, JAKARTA- “Seorang desainer dilihat dari koleksi yang dipresentasikan di muka publik. Saat itulah orang menilai kreativitas dan kemampuan desainer secara utuh.” Hal ini dikatakan desainer sekaligus pimpinan LPTB Susan Budihardjo.

Susan senantiasa memfasilitasi dan mendorong murid serta lulusannya hingga benar-benar terjun ke masyarakat. “ Salah satu upaya meningkatkan kemampuan desainer dengan mengajak mereka untuk ikut di dalam perhelatan mode seperti Jakarta Fashion Week ini,” kata Susan bersama empat desainer lulusan LPTB Susan Budihardjo, saat jumpa pers “Times” di acara JFW 2020, pada Jumat, 25 Oktober, di Senayan City, Jakarta.

Reputasi dan jejaring LPTB Susan Budihardjo di bidang mode sudah tidak diragukan lagi. Lewat Jakarta Fashion Week, LPTB Susan Budihardjo menawarkan kesempatan untuk tampil di muka publik kepada lulusan sekolah mode ini.

Peluang itu tidak disia-siakan oleh empat desainer muda yang terdiri dari Bella Shofie, Sonia Angela, Prettycia Haqni, Abirani. Mereka menginterpretasikan tema masing-masing busana-busana dalam rancangan yang sesuai dengan ciri khas desain mereka sendiri.

Times menjadi tema utama yang disepakati oleh empat desainer muda alumni Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo yang dipergelarkan di runway Jakarta Fashion Week pada Jumat, 25 Oktober 2019.

Berikut nama-nama desainer mode yang diurutkan sesuai dengan urutan presentasi karya mereka.

Awan menjadi inspirasi Bella Shofie dalam meretaskan “waktu” sebagai tema utama. Awan di mata Bella selalu berubah baik bentuk maupun warna selayaknya waktu yang juga terus berganti.

Rentang palet warna karya desainer yang juga seorang artis film dan penyanyi ini menuruti warna awan yang dilihatnya sejak pagi hingga malam hari seperti putih, ungu, jingga, dan hitam. Karakter awan yang selalu berubah membawa karya cipta Bella yang bergaris desain glamor dan feminin ke dalam busana beragam bentuk, mulai dari yang lurus hingga bervolume.

Gaun panjang yang muncul terakhir adalah gaun yang paling menerjemahkan awan secara eksplisit. Sekujur busana dijahitkan satu per satu bentuk awan abstrak yang terbuat dari bahan tipis organza yang disemprot dengan bahan khusus hingga menjadi agak kaku dan dapat dibentuk.

Sebuah kejutan dihadirkan Bella di penghujung presentasinya. Gaun super panjang tiba-tiba berubah seolah-olah menjadi semacam gugusan awan yang memendarkan cahaya dengan bantuan formula khusus “glow in the dark” yang dibubuhkan pada busana, dan memberikan efek dramatis sesaat setelah lampu panggung di padamkan.

Sonia Angela memilih bentuk yang ringkas, lurus seperti kesan gerbang dan bunga mawar dalam warna yang selaras, abu-abu. merah legam serta off-white. Potongan pola yang ditindas dengan garis jahit tindas yang tertera diibaratkan sebagai gerbang yang kokoh hadir dalam busana dua-potong, dan tiga-potong; blus dengan padanan rok, maupun blus, vest, dengan celana panjang. Detail melengkung pada ujung blus atau celana menjadi penanda ciri khas desain.

Sonia begitu yakin dengan potongan tailor yang rapi, penempatan lining yang tepat, dan pola terstrukturdi atas bahan wol dan satin, dan merasa tidak perlu mempertegas ide dengan bantuan embellishmentlain kecuali sepatu yang senada sertascarfdan stocking bermotif abstrak ciptaannya sendiri. Aktris Hilda Vitria menjadi muse dan membawakan salah satu dari tiga belas set busanarancangan Sonia yang ringkas dan terstruktur itu.

Prettycia Haqni memiliki nama kecil Cia. Ia tampil di urutan ketiga mempresentasikan dua belas set busana dari kekagumananya pada gedung dan laut di Santorini, Yunani. Buah inspirasi ini diberi judul Struktur. “Saya mengambil ide dari struktur bangunan, gereja biru, kubah dan ombak lautan,” kata Cia.

Gedung dengan warna biru putih yang menjadi ciri khas Santorini diterjemahkan menjadi gaun dan busana koktail dalam warna yang sama. Di bagian bawah gaun dibentuk potongansemacam kubah dan loncenggedung. Bahan duchess yang agak tebal dipilih untuk mempertegas bentuk.

Gelombang laut diimplementasikan Cia menjadi pleats yang diolah dari bahan sifon dalam warna gradasi biru. Gaun tiered dress  yang disusun tumpuk dalam potongan A tanpa lengan memberi gambaran yang kuat tentang gelombang laut.

Noma jewelry berkolaborasi dengan Cia dalam membuatkan aksesori sesuai keinginannya berupa anting dan mahkota untuk membuat koleksi menjadi semakin utuh. Payet yang disematkan pada beberapa bagian busana ibarat taburan bintang di Santorini pada malam hari. Tiga belas set busana karya Abirani dipergelarkan menjadi penutup peragaan tampil dalam gaya constructededgy  dalamaroma unisex berjudul Emotion.

Rani,begitu nama panggilannya, melihat bahwa waktu berjalan seiringan dengan emosi, yang diterjemahkan menjadi potongan-potongan busana yang asimetris, dalam warna yang bercerita; off-white untuk mewakili ketenangan dan warna terang untuk menggambarkan emosi yang kental.

Keterampilan utama Rani memecah pola menjadi potongan-potongan tidak terduga. Seperti puzzle, potongan itu harus disatukan dengan jahitan. Menjadi sangat rumit ketika tiap potong terbuat dari bahan yang sama sekali berbeda satu sama lain baik tekstur maupun jenisnya. Dalam satu set pakaian, Rani dapat memasukkan dua puluh unsur yang berbeda.

Rani menggunakan embellishment yang tidak biasa seperti, pita, webbing, smock, kelingan, kaitan tas, dan mata itik untuk mengayakan desainnya.Webbing atau tali yang digunakan menjadi benang merah busana untuk menggambarkan bahwa tiap waktu saling berkaitan, tiap emosi saling berhubungan.

Dalam gaya padu padan yang sangat modern, tas, sepatu dan kacamata menjadi pelengkap busana yang disiapkan sendiri. Rani salah satu dari sedikit desainer muda yang berhasil mengolah dan mengalahkan bahan sebagai gambaran dari  pertanggungjawabannya sebagai seorang perancang mode. (EFP)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here