Indonesia Dalam OOC Oslo Serius Kelola Sampah Plastik di Laut

BERITABUANA.CO, OSLO – Indonesia hadir di Our Ocean Conference (OOC) 2019 membawa misi penting yang salah satunya adalah komitmen Indonesia dalam mengurangi sampah plastik di laut. Hal ini sejalan dengan komitmen negara-negara di Dunia untuk bersama-sama mengurangi sampah plastik di laut pada tahun 2025.

Kepala Bagian Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut, Yan Prastomo Ardi kepada www.beritabuana.co, Kamis (24/10/2019) mengatakan, Pemerintah Indonesia berkomitmen mengurangi sampah plastik di lautan sampai 70 persen pada tahun 2025. “Termasuk juga mengurangi limbah padat hingga 30 persen dan mengelola limbah padat hingga 70 persen pada 2025,” jelas Yan setelah mengikuti side event  Science, Policy and Finance to Solve Ocean Plastic dalam rangkaian OOC 2019 di Oslo, Norwegia, Rabu (23/10.2019).

Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan Indonesia adalah dengan menggandeng sejumlah pihak dari kalangan pebisnis, kelompok masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lokal.

“Dengan menggandeng banyak kalangan, upaya untuk menanggulangi pencemaran plastik di lautan, dan juga daratan yang menjadi sumber utama produksi sampah plastik, diharapkan bisa terwujud,” tutur Yan, seraya menyebutkan saat ini sudah beberapa pemerintah daerah (pemda) telah mengeluarkan aturan terkait pembatasan pemakaian tas plastik. Misalnya, Bali dan Banjarmasin diharapkan dapat ditiru oleh pemerintah daerah lainnya dalam mengeluarkan aturan serupa.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), ungkap Yan, menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sedangakn kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

“Sebanyak 70 persen sampah plastik berpotensi masuk ke laut Indonesia, mengingat 71 persen wilayah Indonesia adalah lautan. Dan Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut setelah China,” bebernya.

Sebelumnya, tutur Yan, berdasarkan data The World Bank tahun 2018, sebanyak 87 kota di pesisir Indonesia memberikan kontribusi sampah ke laut diperkirakan sekitar 1, 27 juta ton. Dengan komposisi sampah plastik mencapai 9 juta ton dan diperkirakan sekitar 3,2 juta ton adalah sedotan plastik.

“Pemerintah Indonesia serius dalam menyelesaikan persolan sampah plastik yang ada di wilayah laut  Indonesia.  Bukti keseriusan pemerintah untuk membersihkan sampah plastik di laut, di antaranya adalah dengan adanya rencana aksi nasional (RAN). Melalui RAN, secara bertahap persoalan sampah diharapkan bisa diselesaikan,” ujarnya.

Selain itu, jelas Yan, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut yang berisikan strategi, program, dan kegiatan yang sinergis, terukur, dan terarah untuk mengurangi jumlah sampah di laut, terutama sampah plastik.

“Regulasi ini dituangkan dalam bentuk Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut Tahun 2018-2025. Rencana Aksi ini merupakan dokumen perencanaan yang memberikan arahan strategis bagi kementerian/lembaga, dan acuan bagi masyarakat serta pelaku usaha dalam rangka percepatan penanganan sampah laut untuk periode delapan tahun, terhitung sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2025,” tutup Yan. (Yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here