Cikini Studi: Kasus Penyiraman Novel Baswedan, Beban Kapolri Kabinet Kerja Jilid Dua

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Peluang Kapolri Jendral Tito Karnavian menjadi Menteri Kabinet Kerja kedua, semakin terbuka. Tito Karnavian selain memiliki pendidikan yang tinggi juga dinilai berhasil dalam kinerjanya sebagai Kapolri.

“Pak Tito punya kans besar sebagai menteri kabinet. Walau publik mencatat beberapa tugas yang diberikan Presiden seperti kasus penyiraman Novel Baswedan, sampai kini masih belum berhasil diungkap,” kata pengamat Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin di Jakarta, Selasa (22/10/ 2019).

Menurut Teddy, tenggat waktu yang ditargetkan 3 bulan, ternyata masih tertunda. “Masyarakat masih bertanya-tanya tertundanya pengungkapan itu. Kok belum juga terungkap, padahal sudah dua tahun lebih. Padahal media telah melakukan investigasi dan indikasi ke arah pengungkapan bisa dicari jejaknya kok,” kata Teddy.

Tito adalah rising star di Polri yang namanya moncer saat memimpin Tim Khusus Kepolisian yang berhasil meringkus jaringan teroris pimpinan Nurdin M. Top dan selanjutnya memimpin Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri ini, tentu sangat berjasa menjaga keamanan masyarakat dan kepentingan Presiden Jokowi, tetapi tentu tidak semua masyarakat sepaham.

“Sayangnya sebagian masyarakat masih ingat kasus dugaan perusakan barang bukti di KPK yang terjadi beberapa waktu lalu, hingga kini masih belum jelas kelanjutannya,”kata Teddy.

Peneliti Cikini Studi lainnya, Ori Rahman menjelaskan, kini sebagian publik mulai bertanya-tanya dan mengaitkan apakah memang ada kaitan dugaan penghilangan nama Tito Karnavian di buku merah. Adakah kaitannya dengan penyiraman air keras kepada Novel Baswedan?

“Sebab bila tidak terungkap siapa pelaku penyiraman air keras kepada Novel, jangan salahkan jika ada yang curiga,” kata Ori Rahman yang juga advokat.

Melihat alotnya kasus Novel, sulit juga untuk mengungkap kebenaran cerita dugaan penghilangan nama Tito di buku merah, karena kalau ini mau diperkarakan maka akan dibentuk lagi tim pencari fakta yang ketua dan anggotanya terdiri dari polri.

“Kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan hingga saat ini sulit diungkap siapa pelakunya, apalagi mau mengungkap peristiwa dugaan penghapusan nama Tito di buku merah yang kurang mendapat perhatian dari publik,” ujar Ori Rahman.

Untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap Novel, Ori berpendapat, Kapolri harus memberi progres report atas hasil kerja tim yang dibentuk presiden, syukur syukur Kapolri sudah bisa mengumumkan siapa pelaku penyiraman terhadap Novel.

“Untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap Novel, sudah seharusnya diumumkan siapa pelakunya dan motifnya,” kata Ori Rahman. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here