Soal AHY Jadi Menteri atau Tidak, Ini Pendapat Pengamat

Karyono Wibowo, Peneiti dari IPI.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tokoh Partai Demokrat yang juga putra Presiden ke lima RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono atau akrab disapa AHY, banyak disebut akan menjadi menteri dalam Kabinet Kerja jilid II yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Seperti apa peluang AHY? Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyatakan, SBY yang merupakan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, pasti mempertimbangkan dengan sangat matang untuk mendorong atau tidak AHY menjadi menteri.

“Ada untung dan banyak juga sisi ruginya jika AHY jadi menteri. Pak SBY pasti berpikir matang soal ini,” ujar Karyono usai diskusi bertema Optimiskah Prosesi Pelantikan Presiden Aman? di Cikini, Jakarta, Sabtu kemarin (19/10/2019).

Karyono menjelaskan, nilai plus jika AHY menjadi menteri adalah soal pengalaman. Sebab selama ini putra SBY itu dianggap masih kurang pengalaman. Dengan menjadi menteri, maka AHY akan dapat panggung politik untuk menempa diri.

Namun dalam strategi lebih jauh, Karyono menilai kurang strategis jika AHY yang disung jadi menteri, karena panggungnya sangat terbatas, dan posisinya pun akan dilematis.

“Selain ruangnya terbatas, juga harus liat menterinya menteri apa. Kalau pun misalnya Menko, ya itu juga kurang strategis kalau mau dikapitalisasi menjadi elektoral 2024. Kan sipatnya hanya koordinatif,” jelas Karyono.

Oleh sebab itu, Karyono menilai SBY pasti menyiapkan strategi lain, misalnya dengan mendorong orang lain untuk dititipkan menjadi menteri dalam kabinet kerja II.

“Pak SBY pasti paham betul soal ini. Memang Demokrat masuk kabinet, tapi bukan AHY. Bisa juga misalnya Gita Wirawan, Mariae Elka Pangestu, ataupun sosok baru yang dipromosikan. Intinya adalah lebih baik mendorong orang lain. Bukan AHY,” tegasnya.

Karyono mengulas, Demokrat adalah partai yang punya kans untuk maju mengusung kandidat Capres ataupun Cawapres 2024. Keputusan politik yang diambil saat ini pun tentu dengan mempertimbangkan hal tersebut.

“Demokrat punya kans, obsesi, dan punya peluang 2024. Makanya penuh perhitungan gitu loh. Berhitungnya di situ, kecuali ada deal politik dengan kekuatan dominan dalam pemerintahan sekarang. Misalnya kontraknya langsung 2024. Kalau begitu beda lagi,” terang Karyono Wibowo. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here