Negara Jadi Seperti TK, Jika Kebebasan Dibatasi Oleh Perasaan Pejabat

Inisiator GARBI, Fahri Hamzah.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai selain sebagai hasil kesepakatan, Negara merupakan sebuah kecerdasan kolektif. Dimana kecerdasan kolektif ini, juga harus nampak pada kualitas kolektif dari para elit dan pemimpinnya.

“Hal itu nampak pada kemampuan ‘nampak mewakili’ kemauan rakyat yang banyak dan beragam yang sulit diatasi sendiri kecuali oleh kapasitas kolektif itu,” tulis Fahri melalui akun Twitternya @fahrihamzah, Selasa (15/10/2019).

Selain itu, lanjut inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu, ihwal demokrasi disebutnya sebagai bentuk bagaimana mengelola perbedaan secara dewasa. Kedewasaan itu akan terlihat dari pada aturan yang dibuat dengan jelas.

“Setiap sumbatan pada percakapan publik pasti akan melahirkan akumulasi perasaan tidak didengar yang pada akhirnya akan menjadi air bah massa aksi atau bahkan revolusi. Karena itu, jangan kebebasan dibatasi dengan atau oleh perasaan pejabat. Negara jadi nampak seperti taman kanak-kanak,” jelasnya.

Karena dalam tradisi totaliter, hubungan antara rakyat dan pemimpin semakin tidak rasional. Bedan dalam tradisi demokrasi, dimana hubungannya lebih rasional.

“Tapi, apapun hubungan itu, kehadiran pemimpin pasti nampak pada kapasitas negara hari-hari dalam memenuhi harapan hidup rakyat banyak,” ucapnya.

Masih menurut Fahri Hamzah, elite, pemimpin dan rakyat adalah satu batang tubuh. Dengan perpektif yang sama rakyat, pemimpin dan elite bisa menjadi satu kesatuan yang harmonis.

“Rakyat dapat mencintai pemimpinnya, bahkan rela berkorban demi pemimpinnya apabila rakyat melihat bahwa pemimpin dan elite memang nampak mewakili dalam kapasitas dan kinerja,” pungkasnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here