Pelajar dari 25 Provinsi Berebut Terbaik Pelopor Keselamatan LLAJ Tingkat Nasional

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Lima hari kedepan sebanyak 73 orang pelajar SMA dari 25 Provinsi di Indonesia bertarung memperebutkan yang terbaik sebagai Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat Nasional Tahun 2019

Direktur Sarana Transportasi Jalan Ditjen Darat Kemenhub, Sigit Irfansyah, Senin (7/10/2019)  di Hotel Aryaduta bilangan Patung Tani mengatakan, Kementerian Perhubungan memulai Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat Nasional Tahun 2019

Menurutnya, diadakannya kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan budaya keselamatan jalan di kalangan pelajar. “Ditjen Perhubungan Darat sedang mendorong daerah-daerah untuk mengusung program “Bike to School” sehingga para pelajar akan menggunakan sepeda ke sekolahnya, alih-alih menggunakan sepeda motor,” tutur Sigit.

“Di Kendari sudah mulai, demikian pula dengan Jakarta. Saya rasa ini program yang bagus. Namun tetap harus didukung dengan fasilitas yang baik juga, misalnya dengan adanya jalur sepeda sehingga para pesepeda akan aman. Demikian pula dengan fasilitas parkir sepeda juga harus dalam keadaan baik nantinya,” kata Sigit menjelaskan program Bike To School tersebut.

Dikatakan, anak- anak ini nantinya akan dipilih sebagai duta keselamatan yang akan bekerja sama dengan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) maupun Dinas Perhubungan setempat untuk mengampanyekan anti kecelakaan baik untuk masyarakat maupun teman sebayanya,” ujar Sigit.

Sigit menekankan, bahwa pelajar masa kini banyak yang sudah mengendarai motor ke sekolahnya, namun sayangnya masih belum punya Surat Izin Mengemudi (SIM). “Semua pelajar punya potensi terkena kecelakaan lalu lintas. Usia 15-29 tahun adalah rentang usia terbanyak yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, artinya usia pelajar ini rentan kecelakaan lalu lintas,” jelas Sigit.

Untuk itu, lanjut Sigit, bahwa ada faktor dukungan orang tua yang seringkali membuat anak-anak yang belum cukup umur (kurang dari 17 tahun) untuk membawa sepeda motor. “Sering terjadi di kita ini ada rasa bangga pada orang tua kalau anaknya, masih muda tapi sudah bisa dan mampu mengendarai sepeda motor, padahal itu salah.

“Jadi kalian harus memotivasi mereka, karena usia SMP bahkan SD sudah banyak yang sudah bebas membawa motor,” yerang Sigit dihadapan para peserta yang berasal dari 25 Provinsi tersebut.

Selama 5 hari ke depan, tambah Sigit, para peserta akan dinilai oleh sejumlah dewan juri antara lain Elly Sinaga dari Global Road Safety Partnership, Darmaningtyas dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Budi Hartanto Susilo dari Universitas Maranatha, Aldo Siahaan dari Korlantas Polri, dan Yossyafra perwakilan dari Universitas Andalas. (Yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here