Dunia adalah Persinggahan Sesaat untuk Menuju Akhirat yang Abadi

Ustadz Ahmad Satiri Achfas. (Foto: Natsir)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kehidupan dunia adalah sementara, dan akhirat adalah kekal abadi. Lalu mengapa manusia berlomba berani membeli dunia dengan menggadaikan akhirat? Lihatlah permainan kehidupan dunia yang melalaikan, dimana mereka lebih memilih bersenang-senang saja di dunia, berbangga-bangga dengan harta yang ada dan sering terjerumus dengan hal-hal yang melanggar dari aturan Allah SWT.

Hal ini disampaikan oleh Ustad Ahmad Satiri Achfas, S.Ag saat memberikan pengajian duha di Masjid Al-Ghuraba dibilangan Jalan Tenggiri Raya, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (5/10/2019). Acara pengajian ini dipandu oleh MC Ustad Wisnu.

Pengajjan dihadiri oleh Ketua DKM Alghuraba Rizal Lido, Ketua YPI Alghuraba Iwan Kurniawan, Para Ustad Mahfadzul Qur’an (MQ) Al-Ghuraba Ustad Anjasmara, Ustad Rudini, Ustad Hamid, Ustad Gus Husni, Ustad Fahmi, Ustad Abd Rahman, Ust Darma, Ustad Welly, Ustad Rizal Fadly, Santri MQ dan jamaah masjid Al-Ghuraba.

Jamaah DKM Al-Ghuraba menyimak isi ceramah. (Foto: Natsir)

“Sejatinya, dunia adalah persinggahan sesaat untuk menuju akhirat, dan dunia adalah tempat untuk bercocok tanam amal sholeh. Sedangkan akhirat adalah tempatnya menuai hasil amal. Oleh karena itu, beramallah didunia untuk bekal di akhirat,” ajak Ustad Ahmad Satiri Achfas, S.Ag.

Menurutnya, kehadiran jamaah pada pengajian duha pagi ini adalah ikhtiar bersama mengumpulkan amal sebagai bekal menuju ke tahap kehidupan yang kekal yakni akhirat. Ustad Ahmad juga menjelaskan tentang kematian, kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya.

“Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya,” kata Ustad Ahmad Satiri seraya mengutip hadist Muslim Nomor 1631, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Oleh karena itu, lanjut dia, apa yang diikhtiarkan DKM Alghuraba dengan mendirikan Mahfadzul Qur’an Al-Ghuraba (Pesantren Penghafal Al-qur’an) sudah tepat dan patut diapresiasi.

“MQ Al-Ghuraba, disinilah tempat para penghafal Al-Qur’an yang kelak akan bermanfaat bagi dirinya, orang tuanya dan lingkungannya dan Insha Allah akan membawa keberkahan bagi kita semua. Saya juga tak henti-hentinya mengajak para jamaah agar melipatgandakan pahala dengan sedeqah karena harta yang kita keluarkan untuk agama Allah, tidak bakal habis dan sangat bermanfaat dikehidupan akhirat kelak. Insha Allah pengajian duha ini adalah ajang kita bersilaturahim, menambah ilmu agama dan memperkuat ukhuwah islamiyah kita semua,” ajak Ustad Ahmad Satiri.

Ketua DKM Al-Ghurabaa, Rizal Lido saat memberikan sambutan pada pengajian duha. (Foto: Natsir)

Lantas, dia mengutip dari Ibnu ‘Umar yang mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Disela kajian, Ust Ahmad Satiri menguji para santri MQ dengan membaca potongan ayat Al-Qur’an dan kemudian meminta santri menyambung ayat tersebut. Tampak, antusias para santri yang ingin mencoba hafalan Al-Qur’an mereka, diantaranya Edgar, Zaidan, Umar Alfaruq dan Abu Bakar yang berhasil menyambung potongan ayat Al-Qur’an.

Jamaah wanita DKM Al-Ghuraba. (Foto: Natsir)

Apresiasi pun diberikan kepada para santri yang berhasil menerima tantangan di pengajuan duha. Kata Ustad Ahmad Satiri, pemberian apresiasi ini sebagai bentuk stimulan kepada para santri agar lebih semangat menghafal Al-Qur’an.

Lebih lanjut, banyak sekali keutamaan menghafal yang tentu saja ini dapat menjadi motivasi untuk belajar alquran dan juga mengajarkan alquran pada anak-anak. Bahkan tidak hanya keutamaan untuk diri sendiri, seorang penghafal quran juga akan memberi keutamaan untuk keluarga terutama kedua orangtuanya.

Diakhir pengajian duha, pengurus DKM Al-Ghuraba mengingatkan kepada jamaah, pengajian duha selanjutnya diadakan pada tanggal 3 November 2019, jam 08.00 WIB s/d selesai.

Pantauan beritabuana.co, DKM Al-Ghuraba menyiapkan snack ditemani teh hangat dan kopi manis menambah dahsyatnya keakraban di pengajian duha tersebut, para jamaah saling bertegur sapa dan obrolan santai pun mewarnai indahnya pengajian duha di Masjid Al-Ghuraba. (Natsir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here