UI Peduli KDRT di Desa Lende Tovea Donggala: Mengenang 1 Tahun Bencana Donggala

Tim Pengabdian masyarakat UI dari Fakultas Hukum di Desa Lende

BERITABUANA.CO, DESA LENDE – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia dari Fakultas Hukum mengadakan pengabdian masyarakat di Desa Lende Tovea, Kabupaten Donggala.

Alalasan melakukan pengabdian, karena di Indonesia Donggala masuk urutan ketujuh kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pasca gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018 meningkatkan jumlah kasus KDRT. Penyebabnya, banyak faktor kondisi ini terjadi, di antaranya adalah karena hilangnya pekerjaan.

Saat menyampaikan kata sambutan ibu Dr. Wirdyaningsih, S.H., M.H, selaku ketua tim pengabdi menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat penting untuk dilakukan. Setidaknya ada dua tujuan yaitu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang apa itu KDRT dan cara menyeselesaikannya dan peningkatan kreatifitas masyarakat dalam mengolah ikan, seperti abon.

Untuk itu, tambahnya, ia mengajak DPPA Kabupaten Donggala dan Dinas Perikanan dalam kegiatan ini untuk urun rembug mendapatkan solusi terbaik.S

Ditambahkan Aritatriana, M.Si, Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak, salah satu faktor yang menyebakan terjadinya KDRT di Sirenja, selain ekonomi, adalah karena adanya kebiasaan surat kebebasan.

“Surat kebebasan ini sering menjadi awal terjadinya KDRT, karena suami bisa menelantarkan istrinya”, kata Aritatriana.

Kasus KDRT tidak terselesaikan dengan baik karena tidak ada penyelesaian dari pasangan suami istri. Sering kali ketika misalnya istri mengalami KDRT, suami minta maaf, dan istri melupakan kejadian tersebut, tidak ada penyelesaian.

Sementara Ahmad Ghozi, S.H., LL.M, meminta dengandengan meng, “bedakan antara menyelesaikan dengan melupakan, karena sering kali masyarakat kita menganggap ‘melupakan’ itu bisa menyelesaikan masalah”.

KDRT, katanya, sangat dekat dengan pelanggaran yang terkena delik pidana. Oleh karena itu suami isteri harus menjaga agar rumah tangga tidak berurusan dengan polisi.

Untuk menyelesaikan dan mencegah terjadinya KDRT suami, istri, dan anak harus memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Sering kali suami istri karena merasa paling hebat merasa pasangannya tidak mampu berbuat untuk keluarga. Akhirnya terjadilah percekcokan. Di antara yang harus diperhatikan dalam keluarga adalah suami istri harus menciptakan rumah tangga yang sakinah. Sakinah itu adalah ketika suami, istri dan anak merasa tenang ketika pulang ke rumah.

Nah, untuk menciptakan keluarga yang sakinah, Abdul Karim Munthe mengatakan pasangan harus memiliki sifat mawaddah yaitu cinta dan rahmah yaitu kasih sayang.

“Bagi setiap pasangan cobalah untuk melakukan hal-hal romantis kepada pasangan walau dengan hal sederhana,” begitu tambahnya.

Lende Tovea Banyak Ikan

Di sesi akhir tim pengabdi bersama ibu Risnawati Lapadangku, S.Pi dari Dinas Perikanan memberikan pelatihan penyuluhan seputar pengelohan ikan menjadi abon.

“Ibu-ibu setelah pelatihan ini mesti membuat kelompok usaha pengelohan ikan, nanti bisa bekerjasama dengan UPT Kecamatan Sirenja, agar ibu-ibu juga mandiri secara ekonomi dan tidak lagi mengalami KDRT,” jelasnya.

Menurut dia, banyaknya terjadi KDRT karena kurang mandirinya seorang istri. Dengan kelompok pengelolaan ikan, diyakini KDRT akan berkurang.

Sebagai tindak lanjut Tim Pengabdi memperkenalkan Duta Keluarga Bebas KDRT. Ada 5 orang duta yang diperkenalkan. Ada unsur pemerintah desa dan juga masyarakat.

Mereka terdiri, tiga perempuan dan dua laki-laki. “Kami berharap ibu dan bapak bisa dibantu oleh Duta yang telah kami berikan pelatihan untuk membantu bapak ibu dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi” ungkap Ibu Nunung sapaan akrab ibu ketua Tim Pengabdi saat menutup kegiatan.

Penulis: Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia dari Fakultas Hukum

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here