SEBUAH CATATAN PERJALANAN: Gunung Pangrango-Gunung Gede 3-5 September 2019

PERJALANAN saya bersama 2 perempuan usia di atas 45 th yaitu Rency Tikupasang (52) Dan Ina Trisnasari (46) di dampingi seorang lelaki muda gagah Perkasa Deni Lesmana (23), kami berangkat ber empat. Sengaja memilih hari kerja, agar terhindar dari macetnya perjalanan di Gunung.

Gunung sekarang sama macetnya dengan Puncak Bogor kalau Weekend, hahaha. Sudah serasa pasar dekat Perumahan.

Perjalanan kami mulai dari TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) Cibodas lintas turun Gunung Putri supaya dapat 2 Gunung sekalian karena nyambung. Sayang amat Kalau hanya 1, sudah jauh dari rumah pula. Waktu pendakian 3 Hari 2 Malam. Simaksi Online 29.000 utk semalam artinya 2 hr 1 malam, banyak juga orang lain yg melakukan pembayaran gelap-gelapan via calo…entah dengan pertimbangan supaya bisa start malam, entah karena tidak mau ribet atau alasan lain. Sudah biasa Kalau hampir tiap Gunung memberlakukan adanya Surat keterangan sehat. Di TNGGP ini tersedia tenaga medis yg langsung bisa memeriksa Kita. Per orang dikenai biaya 25.000. karena kami 2 Malam maka per orang total bayar 29.000×2 + 25.000 = 83.000. Kalau di itung-itung tidak beda jauh dengan bayar calo, yg membedakan adalah Legal n Ilegal. Kami memilih Legal, jadi bisa tercatat dengan baik, dan bila terjadi sesuatu yg tidak diharapkan, maka kita masih bisa tercover. Jadi pikirkan baik-baik dan tertiplah administrasi.

Bersama anak-anak muda yang baik hati

Gunung Pangrango
Selasa, 3 September 2019

Start pk 11.00 jalan aspalan menuju Pintu gerbang pendakian, begitu kami masuk ada pemeriksaan lanjutan, oh ya jangan lupa mengisi form barang bawaan di TNGGP, bisa juga sih di isi di Pos ini, tapi jadi mengulur waktu lagi.

Lanjut kami mulai mendaki, ternyata jalan yg harus kami lalui adalah tumpukan Batu makadam, di buat semacam tangga…mirip dengan Jalur Gunung Lawu via Cemoro Sewu, beruntung disini cukup rindang.

Kami bertemu rombongan laki-laki muda sekitar 9 orang, yg sedang wisata menuju Curug, jalan dengan gontai. Melihat kami seperti kura-kura ninja bawa keril gede, seseorang diantara mereka menawarkan diri untuk membawakan keril Ina, aaah ternyata di jaman sekarang, masih adaloh anak muda yg punya kepedulian, sampai Saya nyeletuk…kira-kira nyesel enggak setelah tahu berat kerilnya?? Maka diapun tersenyum dan menjawab, “Tidak bu…saya sembari olah raga, biar sedikit kurus” hihihihi, memang yg menawarkan diri ini perutnya sedikit gemuk.
Bonuslah untuk Ina, maka Ina n Rency bisa melangkah ringan sampai di Curug nanti.

Mereka jalan lebih cepat…saya tetep seperti siput dengan keril di punggung. Tidak lama kemudian…aah ternyata ini yg di sebut Danau Hijau. Beruntung ada pengunjung lain…akhirnya saya bisa berfoto diri. Tidak perlu lama saya berhenti, supaya tidak makin jauh tertinggal.

Baru saya berjalan beberapa ratus meter dari Danau Hijau, anak muda yg tadi…. menyapa dan meminta keril saya, “Mari Saya bantu bu”, spontan saya bertanya….loh tadi kan kamu bawa keril teman saya, pindah kemana sekarang? Iya bu, teman yg lain mau juga coba bawa, jadi saya ganti bantu ibu, kan hanya sampai di Curug bu” jawabnya kembali.

Oke baiklah kalau begitu, hemmm anak-anak muda seperti ini sudah jarang di temui di perkotaan kali’.
Bonus perjalanan kami.

Trek dari Cibodas menuju Curug memang asyik walau keras di kaki, kami melewati Jembatan berkelok indah, dengan view Puncak Pangranggo, Saya pikir Jembatan ini dari kayu, ternyata bahannya betonan yg di buat dengan tekstur kayu….luar biasa. Seberapa berat dan jauh angkut semen, pasir, betonezer dan koralnya. Membayangkannya saja sudah tidak sanggup. Maka itu kita sebagai pengunjung haruslah menghargai dan turut menjaga apa yg telah mereka perjuangkan untuk membuat kita nyaman menyeberangi lahan yg menyulitkan.

Tidak lama kamipun sampai di Pos mendekati Curug….waaah terimakasih anak muda, waktunya kita berpisah. Foto dulu bersama, semoga kalian senantiasa sehat dan gembira, banyak kebaikan datang pada hidup kalian. Semoga bisa jumpa di lain tempat dan kesempatan.

Setelah berfoto ria, kami melanjutkan pada trek yg sesungguhnya…beberapa pos kami singgahi, Ina mulai tersandung-sandung, saya baru bicara dalam hati…bahwa ini perlu berhenti sejenak….o’oh terdengar gedebrug, saya terkejut setengah mati. Aaah Ina jatuh tengkurap/telungkup dengan beban berat di punggungnya, sayapun mempercepat langkah kaki…aduuh kenapa ini harus terjadi…perlahan saya turunkan keril sendiri, dengan penuh rasa kawatir. Pikiran sudah melayang-layang, separah apa muka Ina, atau bagian mana yg terluka. Begitu akan saya lepaskan keril Ina supaya bisa menolong lebih mudah…tiba-tiba “jangan di angkat….fotoin saya dulu donk” teriaknya. Alamaaaak ha ha ha ha, ada juga orang jatuh minta di abadikan lebih dulu. Tapi mendengar itu, rasa kawatir saya mendadak hilang, berarti dia baik-baik saja…segera dengan senang hati saya ambil foto posisi jatuhnya yg masih asli.

Memang teman-teman ini luar biasa, sudah jatuh masih juga bisa becanda, beruntung tidak ada luka serius, mungkin hanya memar di bagian lutut.

Setelah istirahat cukup, kami lanjutkan perjalanan…becanda tetep aja, saya jadi membayangkan bagaimana kalau mendaki dengan lebih banyak perempuan se umuran, hutan ini bisa porak poranda efek ngakaknya kami kali’…ini cuman 3 perempuan aja serunya minta ampun.

Oke lanjut, trek menanjak tipis dan kami melihat asap seperti kabut dari kejauhan…apakah itu?? Aah ternyata asap berasal dari Jalur yg di lewati air hangat…air hangat belerang, romantis deh. Tapi hati-hati melewati bebatuannya, ada yg sedikit licin. Jangan sampai terjatuh.

Tidak lama kemudian kami mendapati Pos persinggahan, di area ini semua air hangat dan bening, bisa berendam pula (kalau mau).

Dingin mulai menggoda, Hemm masih seberapa jauhkah tempat camp yg kami sepakati? Lebih baik tetep jalan daripada hanya bertanya-tanya, supaya tidak kemalaman. Jalan sekitar 45 menit ternyata kami sampai juga di Kandang Badak tempat camp pavorit dan aman. Pasang tenda, makan malam dan kami segera istirahat.

Sepanjang Jalur Cibodas banyak sungai mengalir hingga Kandang Badakpun ada kamar mandi, cukup bersih, air berlimpah. Mari Kita jaga kebersihan bersama-sama, agar nyaman bila kita gunakan.

Tim beristirahat

Pangranggo-Gede
Rabu, 4 September 2019

Rencana summit bangun pagiiiii pk 02.00 tinggallah rencana, ternyata masih ngantuk. Ngantuknya juga kompak. Akhirnya kami bener-bener siap pk. 05.00 menuju Puncak Pangrango. Banyak pohon tumbang yg katanya itu sudah dari sejak beberapa tahun yg lalu…bikin pegel kaki harus melangkah ataupun merangkak…tapi ada juga yg menggoda untuk kami naiki, hahaha dasar badung, lupa umur. Yg penting happy.
Trek Gunung seperti biasa, nanjak tipis tidak terlalu ekstrim, Dan akhirnya sampai juga kami di Puncak Pangrango dengan ketinggian 3019 mdpl pk. 7.30 WIB. Foto dan action tidak akan terlewatkan.
Setelah itu kami turun sedikit ke arah Kiri tugu sekitar 10 menit menuju hamparan luas taman edelweiss yg indah, tempat ini bernama Mandalawangi, sayang ini musim kemarau jadi edelweiss tidak terlalu rimbun, tapi ada. Karena gembira melihat luasnya bunga cantik dan harum lembut ini sampai lupa waktu untuk turun menuju camp, karena berencana lanjut langsung ke Gunung Gede. Pk. 10.00 WIB kami memutuskan untuk kembali, Deni dan Ina berjalan duluan menyiapkan makan siang, saya mendampingi Rency yg punya sedikit masalah phobia saat turun, jalan sangat lambat. Tidak apa, lebih baik lambat asal selamat. Saya dan Rency baru tiba di camp pk. 12.30an, makanan sudah siap. Terimakasih Deni dan Ina, Kita bisa langsung makan bersama. Lanjut packing menuju Gunung Gede.

Deni yg sejak awal bawaannya sangat berat karena bawa barang Rency… jalan duluan, kami bertiga jalan biasa sembari becanda. Sampailah kami di jalur yg harus di tempuh dengan tali, untung ada jalan Alternative yg lebih manusiawi walau harus sedikit memutar, kami pilih jalan ini…tidak lama koq rasanya ada air jatuh ya, kami berbisik-bisik, apakah hujan nich…harus keluarkan raincoat, nampaknya gerimis makin rapat. Rupanya saya dapat sambutan selamat datang.

(Satu Hal, dalam mendaki…walau ini musim kemarau, wajib hukumnya untuk tetap membawa raincoat/jas hujan. Jas hujan berguna juga untuk menahan angin dan badai)

Setelah jas hujan kami kenakan, kami lanjutkan perjalanan, sedikit angin dan dingin kebangetan. Hingga jari kami sulit di gerakkan. Mulailah saya menggosok-gosokkan tangan dan sedikit bermain tepuk tangan, agar timbul kehangatan. Sederhana tapi itu diperlukan.

Akhirnya sampailah kami di warung pertama yg kami jumpai, tapi sedang tutup karena ini weekday. Dengan spot foto yg menggoda, meski gerimis dan dingin kami tetep seru-seruan berfoto ria…memang kami luar biasa, pantang surut melewatkan yg indah untuk tetap bergembira…hahaha.

Beruntung…tidak jauh dari tempat ini…hujan dan gerimis mulai reda, terimakasih Gusti hari masih sore n mentari masih ada dan menyembul dengan hangatnya. Seakan-akan kami menemukan surga terlepas dari rasa dingin yg membekukan jari. Dan sampailah kami di dekat tugu Puncak Gede 2958 mdpl sekitar pk. 16.15. Deni sudah menunggu kami disini.

Dan sayapun terkejut….hahaha di seputaran Tugu Puncak ini tersedia warung-warung, Ada 3-4 warung kalau tidak salah hitung. Kebetulan ada 1 warung yg buka, sedia gorengan, popmie, kopi-teh…pesen teh hangat 3 ya a’. Harga segelas teh ukuran gelas mineral kecil Rp. 7.000,-

Hemmm Gunung sekarang luar biasa…sudah banyak berubah seperti di pedesaan saja, warungpun tersedia. Seperti di Gunung Semeru dan Lawu jalur Cemoro Sewu di Jawa Timur, hampir tiap Pos tersedia Warung. Kira-kira Gunung mana lagi yg seperti ini? Saya sendiri belum banyak mengunjungi gunung-gunung di Jawa.

Kami dirikan tenda di seputaran Tugu saja…meski infonya tempat favorite camp di Surya Kencana yg lebih sering disebut Surken. Malam hari terdengar suara angin menderu-nderu dengan kencangnya, dingin banget.
Pagi kami bangun, ada beberapa Pendaki lain yg camp di Surya Kencana dan bercerita bahwa di tempat mereka, dihiasi lapisan es tipis…berarti mendekati nol atau minus?. Beruntung kami camp di area Tugu. Meski satu area, jarak juga tidak terlalu jauh… ternyata bisa beda keadaan dan rasa uey

Gunung Gede-Gunung Putri
Kamis, 5 September 2019

Kami menunggu sunset bersama-sama sambil menikmati kopi di ketinggian, memang nikmatnya tidak ada duanya. Wkwkwk…g percaya?? Cobalah sendiri.

Sekitar pukul 10.00 kami turun, sebelum sampai di hamparan Edelweiss Surya Kencana bisa kita temukan 1 Sumber air, tapi sangat kecil saat itu, dan yg antripun cukup banyak. Rency n Ina sempat antri ambil air, saya….berburu arbei hutan yg tanpa sengaja saya lihat, dan kami nikmati bersama…asem-asem seger.

Meski ini weekday masih kami temukan beberapa Pendaki, kurang lebih 30 oranglah. Turun menuju Gunung Putri, jalanan cukup terjal, di jalur ini…kami bertemu lebih banyak Pendaki yg baru akan naik. Mereka terengah-engah. Lalu saya berpikir kalau mau lintas, berarti pilihan terbaik adalah Cibodas-Gunung Putri. Tapi itu semua tergantung pilihan dan kesepakatan bersama.

Sebelum sampai pos Gunung Putri, kami melewati ladang penduduk, mereka menanam wortel, lobak, kol, brokoli, kubis dan lain-lain.

Dan berakhirlah perjalanan pendakian kami. Bersyukur semua dalam keadaan sehat dan tetap riang gembira. Terimakasih untuk teman-teman seperjalanan yg begitu menyenangkan serta foto-foto indahnya. Khususnya Deni yg telah menjadi chef handal.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

*Yanni Krishnayanni* (Pendaki Gunung
Komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI))

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here