Effendi Gazali: Golkar Jangan ‘Ngembek’ Saja

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Partai Golkar seharusnya adalah “party of all seasons”. Mengapa? Karena partai ini yang relatif mendekati ciri-ciri partai modern. Pertama, tidak ada dinasti.

“Jadi secara umum membuka peluang banyak orang bisa menjadi ketua umum,” sebut pakar Komunikasi Politik UI, Prof. Effendi Gazali kepada wartawan di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Kedua, ideologinya pun relatif terbuka. Sehingga secara umum tidak membuka peluang untuk membuat orang menjadi ekslusif, apalagi mengembangkan ideologi radikal.

“Kelemahan Golkar justru pada interpretasi sebagian anggota partai beringin ini bahwa kekaryaan sama artinya dengan selalu ikut jadi bagian dari siapapun yang memerintah, apapun resikonya. Akibatnya, di masa kini, Golkar seperti tidak punya suara apapun,” kata dia.

Menurut Effendi, dalam Revisi UU KPK, Golkar tidak punya catatan apapun, menerima pasrah bulat-bulat. Begitu pula terhadap kebakaran hutan yang mengamuk dahsyat, sekalipun itu terjadi di daerah basis Golkar, partai inipun diam saja.

“Kesannya seakan ‘ngembek’ kepada siapapun yang memerintah. Kalaupun Partai Golkar merupakan bagian dari koalisi pemerintah, maka Golkar tetap harus bahagia atau sedih bersama rakyat!” ujaranya.

Kalau keadaannya seperti mengembek begitu, maka itu berarti Golkar perlu tokoh besar ke masa depan. Tokoh besar yang mengedepankan suara rakyat, karena itu dicintai rakyat.

“Jangan juga mudah dibuat terlena. Siapapun partai yang sedang berkuasa, pasti tidak ingin ada partai lain menjadi paling besar.  Misalkan saja Golkar sedang jadi partai penguasa, masa Golkar mau mendukung partai lain jadi partai nomor satu. Ya paling-paling dibiarkan jadi nomor dua atau nomor tiga. Itulah yang terjadi sekarang. Maka jadilah Golkar nomor tiga saat ini,” singgung Effendi.

Pakar komunikasi politik, lulusan Cornell University ini pun menilai,  Golkar berpotensi jadi Rumah Besar Kebangsaan. Tapi Rumah Besar Kebangsaan yang sehat, yaitu yang mendengar suara rakyat.

“Kita yakin di partai modern seperti Golkar, tidak akan mudah tumbuh radikalisme. Tapi jangan juga membangun rumah kebangsaan yang tidak sehat, dengan gampang menuduh orang lain, atau kelompok lain, sebagai kelompok radikal atau Taliban,” nilainya.

Mengakhiri pembicaraanya, Effendi menyebut bahwa Golkar memang membutuhkan figur Ketua Umum yang bisa membuatnya menjadi besar, tidak sekadar loyal, tapi bisa sejajar dengan partai manapun.  (Natsir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here