Profauna Indonesia Apresiasi Penyelamatan Hiu Paus “Paitonah”

 

BERITABUANA.CO, JAKARTA–Protection of Forest and Fauna (Profauna) mengapresiasi upaya pembebasan “Paitonah”, hiu paus yang berhasil diselamatkan dari kanal inlet wilayah di sekitar PLTU Paiton, Jawa Timur.

“Kami secara obyektif sangat mengapresiasi tindakan penyelamatan hiu paus tersebut dan membawanya kembali ke laut lepas, karena sebenarnya tidak banyak orang yang peduli terhadap hal tersebut,” ungkap Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (21/9/2019.

Profauna Indonesia adalah organisasi independen non profit berjaringan internasional yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar. Awalnya didirikan tahun 1994 di Malang, Jawa Timur, penggerak organisasi ini percaya, setiap jenis satwa liar mempunyai nilai bagi kelestarian alam.

Untuk itu setiap jenis satwa liar seharusnya dibiarkan hidup bebas di alam, dan manusialah yang bertanggung jawab mewujudkannya. Sebagai pendiri Profauna Indonesia, Nursahid sangat mengapresiasi tindakan penyelamatan hiu paus yang dianggap “luar biasa,” apalagi melibatkan semua unsur terkait mulai dari aparat TNI, pihak kementerian, nelayan, dan juga PJB Paiton.

“Itu luar biasa, karena masih banyak yang mau membantu, dan banyak pihak yang mau ikut terlibat,” jelas Nursahid. Proses penyelamatan (Evakuasi ke Laut Lepas) menurut Ketua Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton, Letkol Imam Wibowo, berlangsung selama empat hari yaitu tanggal 16 – 19 September 2019, menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan prinsip Animal Walfare serta keamanan dan keselamatan personil.

Hal ini mengingat, medan yaitu kanal inlet PLTU Paiton memiliki kecepatan arus 0,8 – 1 m/s. Dari beberapa alternatif tersebut, dipilihlah metode kombinasi yakni menggunakan jaring kantong yang diberi bingkai besi berukuran 6×4 meter di bagian mulut jaring. Selama empat hari proses, kegiatan evakuasi dimulai sejak pukul 05:00 WIB.

Pada Kamis, 19 September 2019 tim mengaplikasikan metode kombinasi yang merupakan perbaikan dari metode-metode sebelumnya. Proses ini diawali dengan memasukkan jaring kantong ke kanal inlet dengan mobile crane berkapasitas 30 ton. Namun, crane tidak kuat menahan jaring kantong yang terbawa arus, sehingga dilakukan penggantian crane dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 50 ton.

Perpindahan kawanan ini bergantung dari sumber makanan (plankton dan ikan kecil). Salah satu tempat yang menjadi sumber makanan adalah perairan sekitar PLTU Paiton. Dengan masih banyaknya mangrove dan terumbu karang yang menjadi tempat ikan serta adanya muara beberapa sungai yang kaya akan nutrien, membuat hiu paus sering muncul di sekitar perairan PLTU Paiton. (Ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here