JAKARTA, BERITABUANA.CO– Jangan sampai melupakan sejarah Tanah Abang. Inilah yang disampaikan dalam acara Jamlurah (Jangan Ampe Lupain Sejarah) yang digelar Jum’at malam (20/9) di halaman Kantor Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Acara ini digelar oleh Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dengan menghadirkan Sejarawan Betawi, Abdul Chaer, Budayawan Sem Haesy, dan tokoh masyarakat Tanah Abang Sholahuddin. Selain masyarakat sekitarnya, acara ini juga dihadiri oleh Walikota Jakarta Pusat, Bayu Meghantara, serta camat dan para lurah di  Tanah Abang.

Dipandu oleh Ketua Litbang LKB, Yahya Andi Saputra, dan Maya, diskusi mengenai sejarah Tanah Abang diadakan agar generasi muda, khususnya orang Betawi, mengetahui asal muasal nama tempat dan sejarah yang menyertainya.

 

Abdul Chaer membuka penjelasan dengan mengutip sejarah mengatakan bahwa  nama Tanah Abang adalah tempat berkumpulnya pasukan Kerajaan Mataram yang hendak menyerang VOC tahun 1628. Disebut sebagai Tanah Abang karena tanah di daerah itu berwarna merah (dalam bahasa Jawa abang berarti merah). Sekarang Tanah Abang adalah salah pusat bisnis di ibukota Jakarta.

 

 

Sementara menurut budayawan Betawi, Sem Haesy, Tanah Abang adalah wilayah subur yang melahirkan sejumlah seniman hebat pada masanya. “Sebut saja Said Efendi, Hasan Bawafi yang tinggal di daerah Kebon Kacang, ada Ustadz Yahya Muhajar yang jago membaca rawi, ada Said Kelana ayahnya penyanyi Lidya-Imaniar, ada sutradara Si Doel Anak Modern, Sjumandjaya, yang rumahnya di Jalan Kota Bumi yang juga masuk wilayah Tanah Abang. Juga ada Lita Zahara, A. Rafiq yang sempat tinggal lama di dekat kantor Kecamatan Tanah Abang sekarang”,  kata Syam Chaesy.

Syam juga menyebutkan Raja Ali Haji dari Riau dahulu pernah menikah dengan wanita asal Tanah Abang bernama Syarifah atau  orang sering menyebutnya juga Syaripe. Dari perkawinan itu maka anak keturunannya menggunakan bahasa Melayu dengan “e” pepet.  Tak heran jika sampai sekarang warga Jalan Kebon Pala dan sekitarnya masih menggunakan dialek Melayu atau dikenal sebagai Melayu Tinggi dalam percakapan mereka sehari-hari. Di Jalan Kebon Pala juga dulu bermukim Teguh Karya, sang sutradara film, dengan sanggar Teater Populernya.

Ada banyak sekali cerita yang bisa digali tentang Tanah Abang, yang kini sudah berubah menjadi salah satu pusat bisnis besar di Jakarta, khususnya produk-produk busana. Mulai shohibul hikayat H.M Jait yang kemudian diteruskan oleh puteranya Sofyan Jait,  atau masjid tua Masjid Al-Makmur di dekat Pusat Grosir, sampai permainan silat dimana terdapat puluhan perguruan silat di sini. Bang Sabeni adalah tokoh silat yang sangat dikenal di daerah ini yang namanya terus dikenang.

Acara Jamlurah sendiri, menurut Suyoyo Muchtar, Ketua Pemberdayaan dan Pelestarian LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi), secara keseluruhan akan digelar di 5 wilayah kota. Sebelumnya acara ini sudah berlangsung di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Selanjutnya, setelah Tanah Abang acara Jamlurah akan digelar di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. “Melalui acara ini kita ingin membangkitkan kembali nilai-nilai sejarah tempat kita tinggal. Mengapa? Karena adanya kita sekarang ini karena ada sejarah sebelumnya,” kata Suyoyo Muchtar alias Bang Yoyo. Dengan pengertian yang lebih baik tentang sejarah, diharapkan muncul kecintaan terhadap tempat tinggal kita dan tanah air Indonesia.

“Jamlurah….jangan ampe lupain sejarah. Betawi….buat kita semua!!!, teriak Bang Yoyo dengan penuh semangat. (ayd/say)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here