Fadli Zon: Seorang Tekhnopreneur Cenderung Kearah ‘Job Creator’ daripada ‘Job Seeker’

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon memberikan kuliah umum di UM Bandung, 19 Sept 2019. (Foto: Natsir)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI, Dr.H. Fadli Zon, S.S.,M.Sc mengaku bangga di tengah generasi muda karena tokoh-tokoh Bangsa yang hebat memulai karyanya dari usia muda, terlebih di Kota Bandung yang dikenal banyak melahirkan Para Tokoh Bangsa dan Bandung juga menjadi peristiwa yang paling monumental yakni dihelatnya KAA yang sangat dikenang oleh seluruh Bangsa Asia dan Afrika.

Rektor UM Bandung, Prof Dr H.Suyatno M.Pd memberikan cendramata ke Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon. (Foto: Natsir)

Hal ini dikatakan Fadli Zon saat memberikan kuliah umum kepada +1000 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Bandung (UM-Bandung) yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ketua PWM Provinsi Jawa Barat, Ketua BPH Muhammadiyah Bandung, Kadis Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kadis UMKM Provinsi Jawa Barat, Direktur Stikes Aisyah Bandung, Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Bandung dan sederet pejabat dan berbagai elemen masyarakat di UM-Bandung, Kamis (19/9:/2019) kemarin.

“Sebut saja R. Dewi Sartika, yang merupakan tokoh wanita perintis pendidikan di Bandung, Prof Dr Koesoemah Atmadja, SH, Ir. R. Djoeanda atau Ir Haji Juanda, Mohammad Toha, Oto Iskandar Dinata, Laksamana Lau R.E.E Martadinata, K.H Abdul Halim dan di BJ habibie (Presiden ke 3 RI) yang menyelesaikan SMAnya di Kota Bandung. Mereka adalah para tekhnokrat hebat dari Kota Bandung,” sebutnya.

Fadli mengawali kuliah umum dengan mengajak peserta mengenal dua istilah yakni tekhnokrat dan tekhnopreneur. Dia memaparkan istilah tekhnokrasi dari berbagai sumber, tekhnokrasi adalah bentuk pemerintahan ketika para pakar tekhnis menguasai pengambilan keputusan dalam bidangnya masing-masing. Insinyur, profesioonal, ilmuwan, kesehatan  dan orang-orang yang mempunyai pengetahuan, keahlian atau kemampuan akan membentuk badan pemerintahan. Aktor dari teknokrasi ini dikenal dengan tekhnokrat atau pejabat publik, salah satu contoh tekhnokrat terbaik Indonesia adalah Almarhum Prof Dr Ing. H. Bachrudin Jusuf Habibie, Presiden RI Ke-3 adalah orang Asia pertama yang menorehkan prestasi di kiblat penerbangan sipil dunia, di Montreal, Kanada. Selan itu,  kehebatan Habibie juga diakui oleh organisasi Penerbanagn Sipil Internasional (ICO).

“Almarhum Bj Habibie adalah tekhnokrat terbaik Indonesia yang mampu mengkoneksikan masa lalu, masa kini dan masa depan, torehan Bj Habibie telah menstimulasi kita semua untuk berpikir jauh kedepan. Kiprah Bj Habibie dalam memimpin dunia dirgantara dengan mencetak sejumlah Insinyurm penerbangan di IPTN / PT DI, rancangan pesawatnya N250 adalah pesawat pertama buatan Indonesia dan dapat terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’, istilah untuk pesawat yang oleng. Pesawat jenis turbotrop didunia yang menggunakan ‘Fly By Wire’ dengan jam terbang 900, BJ Habibie menunjukan karya besarnya terhadap Indonesia sehingga layak dikatakn sebgai tekhnokrat unggul, sangat berbeda dengan tekhnokrat saat ini yang lebih tidak menguntungkan Bangsa dan lebih sering tunduk dengan Asing” papar Fadli.

Wakil Ketua DPR RI bersama Keluarga besar Civitas Akademika UM Bandung. (Foto: Natsir)

Dikatakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tentang rezim saat ini, alih-alih karya, yang ada adalah sikap ketidakdewasaan yang anti terhadap kritik dan ketidakjelasan mengurus  Bangsa. Di bidang pertanian, rezim ingin membangun kedaulatan pangan. Namun menurutnya, saat ini kondisi pertanian RI terpuruk.

Dia membandingkan Vietnam yang dahulu belajar pertanian dari Indonesia. Vietnam yang dahulu mengimpor beras dari Indonesia, kini menjadi salah satu eksportir beras terbesar di dunia.

“Kini Indonesia mengimpor beras dari Vietnam. Bagaimana mungkin berkedaulatan pangan jika ketika petani panen, pemerintah justru impor beras. Ini pengkhianatan terhadap cita-cita kedaulatan pangan,” kata dia.

Fadli membeberkan, Krakatau Steel bangkrut padahal sebelumnya baja Indonesia terbaik dari Korea bahkan dunia namun saat ini Baja korea terbaik ke-2 Dunia dan baja Indonesia dinyatakan bangkrut. Rezim seolah tak sadar diri dan menggaungkan Revolusi Mental, apa yang mau di revolusi? Kemandirian tidak ada, ketergantungan ke Asing yang semakin nyata, ditambah lagi mobil rakitan terus nempel merek ESEMKA, wajar jika Pemerintah saat ini dikritisi karena terlalau banyak memproduksi kegagalan dan pencitraan.

Selanjutnya kata Fadli tentang  Tekhnopreneur yang merupakan gabungan dari skill tekhnologi dan skill entrepreneurship. Tekhnopreneur diartikan sebagai suatu peluang usaha yang memanfaatkan tekhnologi yang ada saat ini. perkembangan tekhnologi informasi berkembang sangat pesat dan juga dalam bidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat menuntut para pengusaha untuk selalau mengupgrade usahanya untuk lebih baik dan bersaing secara ketat, baik dalam skala nasional maupun internasional. Kondisi ini pun mendorong industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa wirausaha.

Beberapa tokoh tekhnopreneur di dunia adalah Bill Gates, Michael Dell, Fredrick smith dan sim wong hoo. Perbedaan  mereka yang memiliki tekhnopreneur atau entrepreneur dengan mereka yang bukan, dapat dilihat dari pola konsumsi mereka. Seorang technopreneur memiliki karakter produktif, bukan konsumtif.

Selain itu, seorang technopreneur selalu mencari cara baru untuk meningkatkan utilitas sumber daya yang ada secara efisien. Seorang entrepreneur cendrung kearah ‘Job Creator’ daripada ‘Job Seeker’. Ada pernyataan menarik bahwa rata-rata Negara maju harus memiliki minimal 2% pengusaha. Dengan jumlah penduduk sekitar + 300 juta, Indonesia dapat menjadi Negara maju bila memiliki 4,6 juta entrepreneur.

Bahkan, fakta data statistik mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki pengusaha atau entrepreneur sejumlah 400.000 orang, atau hanya sekitar 0,18%. Fakta ini mengungkapkan masih cukup jauhnya Indoensia dari level negara maju, dengan asumsi jumlah entrepreneur dijadikan acuan utama.

Lulusan American Field Service ini pun menyoroti tantangan yang dihadapi generasi milenial Indonesia sehingga UM-Bandung diharpkan menjadi yang paling terdepan dalam menghasilkan para pengusaha-pengusaha terbaik di Indonesia. UM-Bandung telah menorehkan langkah yang maju yang tidak dimiliki oleh universitas lain yang mengusung kekuatan wirausaha yang mampu menciptakan dan menggerakkan ekonomi masyarakat khususnya generasi muda atau milenials saat ini. Dirinya mengakui, generasi saat inisangat inovatif, kreatif dan produktif.

Namun, Fadli Zon yang juga  Presiden Organisasi Parlemen Antikorupsi Sedunia ini juga mengingatkan kepada peserta kuliah umum agar tidak terburu-buru memandang revolusi industri 4.0 secara berlebihan karena perkembangan digital ini menguntungkan pihak Asing. Dia mencontohkan, 270 juta penduduk Indonesia mengonsumsi tekhnologi  dengan memiliki gawai/gadget tapi hanya sekedar pemakai bukan pencipta.

Misalnya, China sudah memiliki social media sendiri, jejaring pertemanan buatan lokal di China seperti Weibo, kian berkibar dan meraih banyak anggota setelah pesaingnya dari luar seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Selain Weibo, masih terdapat layanan instant messaging dan berbagi video seperti QQ dan Youku juga ikut booming. Seperti diketahui, Twitter dan Facebook diblokir oleh pemerintah China sejak Juli 2009. Lalu, Indonesia punya apa? Oleh karena itu memiliki mengkonsumsi tekhnologi bukanlah berarti kita maju.

“Namun apa bedanya kuli yang memiliki gadget zaman dulu dan saat ini. Kita hanya pemakai bukan user, yang hebat jika kita mampu menciptakan gadget sendiri karena penjualan online, memberikan barang asing lebih mendominasi bahkan membanjiri produk lokal. So, apa hebatnya. China berani memblokir jejaring sosial asing namun menciptakan jejaring sosial lokal. Rasanya, rejim saat ini bangga benar dengan yang berbau asing,” tanya Fadli lagi.

Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Korpolkan) itu kembali menegaskan dari UM-Bandung, lahirlah para Pengusah handal yang kuat imannya dalam membangun Bangsa, membangun kemandirian ekonomi melalaui kekuatan sumber daya insani yang handal dan berakhlaqulkarimah. (Natsir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here