AS Jatuhkan Sanksi untuk Kelompok Peretas Asal Korut

Ilustrasi Hackers.

BERITABUANA.CO, WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan (Depkeu)-nya mengeluarkan sanksi baru, terkait Korea Utara (Korut) dengan menargetkan tiga kelompok peretas. Dijatuhkannya sanksi tersebut, diumuman oleh situs Departemen Keuangan AS terhadap kelompok peretas yang dikenal sebagai Grup Lazarus, Bluenoroff, dan Andariel.

“Tiga kelompok siber jahat disponsori Korea Utara atas aktivitas cyber jahat Korea Utara pada infrastruktur kritis,” tulis Departemen Keuangan AS seperti disitir dari Sputnik, Sabtu (14/9/2019).

Ketiga kelompok entitas itu dikategorikan Departemen Keuangan AS dikendalikan oleh Pemerintah Korut.

“Grup Lazarus dan sub-kelompoknya Bluenoroff dan Andariel menargetkan pemerintah, militer, keuangan, manufaktur, penerbitan, media, hiburan, infrastruktur kritis, dan perusahaan pelayaran internasional,” tulis Departemen Keuangan AS.

Selain itu, kelompok ini juga terlibat dalam serangan ransomware WannaCry 2.0 yang mempengaruhi 150 negara dan menyebabkan 300.000 komputer mati. Mereka berada di belakang serangan siber 2014 pada Sony Pictures Entertainment. Korut membentuk Bluenoroff pada 2014 untuk memperoleh pendapatan secara ilegal sebagai tanggapan atas sanksi global.

“Pada 2018 kelompok ini telah mencoba mencuri lebih dari USD1,1 miliar dari lembaga keuangan dalam bentuk perampokan terkait dunia maya,” tuduh Departemen Keuangan AS.

Bluenoroff bekerja dengan Lazarus untuk mencuri USD80 juta dari rekening Bank Central Bank of Bangladesh New York Federal Reserve, sementara Andariel berusaha meretas ATM untuk mencuri informasi kartu bank dan informasi pelanggan untuk menjualnya di pasar gelap.

Ketiga kelompok peretas itu mencuri sekitar USD571 juta dalam cryptocurrency dari lima bursa di Asia antara Januari 2017 dan September 2018.

Waktu penjatuhan sanksi terjadi usai Korut menembakkan dua proyektil ke arah Laut Jepang, berselang sehari usai pemerintah negara itu menyatakan kesiapan melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat pada paruh kedua bulan itu.

Kondisi Semenanjung Korea membaik secara signifikan tahun lalu usai pembicaraan antara pemimpin Korut Kim Jong-un dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in serta Presiden AS Donald Trump.

Juni 2018, Jong-un dan Trump mencapai kesepakatan dengan menetapkan Korut akan melakukan upaya menuju denuklirisasi lengkap semenanjung itu dengan imbalan pembekuan latihan militer AS-Korsel dan potensi penghapusan sanksi Amerika.

Tahun ini, proses negosiasi terhenti yang berdampak meningkatnya ketegangan atas uji coba peluru kendali Pyongyang. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here