Bendera OPM ‘Bintang Kejora’ Dinilai Lecehkan Budaya Masyarakat Papua

Bendera Bintang Kejora.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam propagandanya kerap mengklaim bahwa bendera Bintang Kejora adalah simbol kultur orang Papua. Namun, klaim tersebut ditepis oleh Ketua DPD Papua Gerakan Cinta NKRI (Gercin), Albert Ali Wanggai Kabiay.

“Ini sangat mengecilkan arti budaya Papua dan pelecehan terhadap budaya Papua itu sendiri,” tegas Ali Wanggai melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Dalam rilis yang diterima dia merefleksikan kembali sejarah bendera Bintang Kejora sebetulnya digunakan untuk wilayah Nugini Belanda dari 1 Desember 1961 hingga 1 Oktober 1962 ketika berada di bawah pemerintahan Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA).

Bendera Nugini Belanda adalah kombinasi warna merah, putih, biru ditambah bintang menyadur dari warna bendera Kerajaan Belanda.

“Dan bendera ini biasanya digunakan oleh pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM),” kata Ali Wanggai.

Dia menegaskan bendera tersebut terdiri dari sebuah pita vertikal merah di sepanjang sisi tiang, dengan bintang putih berujung lima di tengahnya. Semasa pendudukan Belanda, ini bendera klub sepakbola Belanda di Port Numbay, sekarang Jayapura.

Sehingga menurut dia, bila bendera Bintang Kejora diklaim sebagai simbol kultural Papua berarti budaya Papua baru dimulai tahun 1961.

“Ini sangat mengecilkan arti budaya Papua dan pelecehan terhadap budaya Papua itu sendiri,” katanya lagi.

Ali Wanggai juga menegaskan seni budaya Papua yang diekspresikan dalam seni lukis dan seni ukir tidak mengenal warna merah dan biru. Masyarakat budaya Papua hanya mengenal warna putih, hitam dan coklat baik dalam ornamen ukiran dan patung, lukisan di atas kanvas kulit kayu maupun coret-coretan di tubuh saat tradisi, upacara maupun saat perang.

“Simbol religius Papua bagi seluruh suku Papua juga tidak mengenal lambang bintang sebagai simbol Ketuhanan. Simbol bintang tidak pernah digunakan dalam literatur Papua di media apapun, baik ukiran, lukisan maupun coretan tubuh. Tapi simbol religius Papua banyak menggunakan pohon, binatang dan manusia itu sendiri,” jelas Ali.

Sementara, kultur Papua baik dalam upacara adat, keagamaan maupun dalam peperangan,dia melanjutkan, tidak mengenal adanya bendera, umbul-umbul dan sejenisnya.

“Bahkan sebelum tahun 1961 sedikit sekali orang Papua mengenal kain apalagi mengenal bendera. Hingga sekarang juga masyarakat Papua belum bisa menenun atau membuat selembar kain pun,” tegasnya.

Faktanya bahwa bendera Bintang Kejora dirancang mengikuti kultur penjajah Belanda, sama sekali tidak mewakili kultur Papua. Sedangkan Merah Putih mewakili karakter seluruh bangsa Indonesia apapun suku, agama, ras dan kelompoknya.

Bahkan, Ali menggambarkan merah putih adalah simbol karakter bangsa Indonesia yang pemberani namun jiwanya suci. Dalam kodrat manusia, menurut dia, darah yang berwarna merah membungkus tulang yang putih.

“Sedangkan dalam tinjauan alam dan religius, merah melambangkan matahari sebagai sumber energi dan putih melambangkan bulan yang membawa damai dan keteduhan,” demikian Ali. (Hendri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here