Kemampuan Sains Anak NTT Diatas Nasional

BERITABUANA.CO, KUPANG – Meskipun kemampuan literasi anak-anak di Provinsi NTT sangat rendah, tapi tingkat kemampuan dalam hal sains bisa dibanggakan, diatas rata-rata nasional.

Pujian tersebut diungkapkan Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi pada pembukaan kegiatan Pelatihan Gugus Tugas Kota Layak Anak (KLA) Dengan Analisis Pengarusutamaan Hak Anak (RUHA) Tingkat Kabupaten/Kota se-NTT di Hotel Neo Aston, Jumat (30/8/2019)

“Kalau secara nasional, rata-rata kemampuan sains hanya sekitar 1,1, anak-anak kita punya kemampuan lebih dari itu yakni sebesar 1,8,” jelas Josef Nae Soi..

Menurut Josef Nae Soi, data ini terungkap dalam pertemuan fokus Konsultasi Regional untuk Wilayah Nusa Tenggara atas Rancangan Awal RPJM 2020 sampai dengan 2024 di Labuan Bajo pada Senin (26/8) lalu.

“Pengembangan KLA menjadi strategi peningkatan kualitas anak-anak NTT. Mereka perlu diberi ruang yang seluas-luasnya untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpatisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabatnya,” jelas Josef Nae Soi.

Lebih lanjut Josef Nae Soi mengungkapkan, dunia anak-anak adalah dunia bermain. Karenanya dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), anak-anak tidak boleh dibebani dengan perkenalan akan pelajaran-pelajaran tertentu. Mereka harus difasilitasi dan diberi ruang untuk lebih banyak bermain bersama dengan rekan-rekan seusianya. Saat ada waktu luang, anak-anak dapat diarahkan untuk mempelajari seni dan budaya.

“Di NTT, kita masih punya banyak pekerjaan rumah terkait pemenuhan hak-hak anak di antaranya belum semua anak punya akte kelahiran, belum dimasukannya pemenuhan Hak Anak dalam perencanaan baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota maupun di tingkat desa,” paparnya.

Disamping itu, tambah Josef Nae Soi, masih adanya kekerasan fisik maupun verbal terhadap anak, masih adanya stunting dan gizi buruk, minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan di daerah khususnya di desa serta persoalan bantuan hukum terhadap anak-anak yang tersangkut masalah.

Penguatan KLA menjadi langkah penting dalam meminimalisir permasalahan ini.
Josef Nae Soi mengajak, agar dalam upaya pemenuhan kebutuhan anak, semua komponen harus bergotong royong. Jumlah anak NTT yang mencapai 1,87 juta orang merupakan aset untuk NTT yang lebih baik di masa mendatang.

“Kita sudah punya aturan yang bagus dalam hal pemenuhan hak anak. Kita juga sudah banyak melakukan seminar dan lokakarya. Namun masih belum punya komitmen untuk mengimplementasikanya, dengan mengupayakan peningkatan kualitas anak-anak NTT di segala bidang melalui langkah-langkah konkret yang melibatkan semua pihak,” pungkas Josef Nae Soi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kadis DP3A) NTT , Silvia Pekujawang dalam laporan panitia mengungkapkan,tujuan kegiatan pelatihan Gugus Tugas adalah menguatkan komitmen dan peran tugas KLA di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTT. Juga melakukan pemetaan dan peran strategis gugus tugas dalam mendorong pelaksanaan KLA.

“Tujuan lainnya adalah menyusun rencana aksi KLA di Kabupaten/Kota se-NTT dalam meningkatkan pemenuhan hak-hak anak NTT,” ungkap Silvia.

Dalam kesempatan tersebut juga ditandatangani Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi NTT dan WVI tentang pengembangan Ekonomi Menuju NTT Sejahtera dan Percepatan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Juga penyerahan buku Menuju Indonesia Layak Anak dari WVI kepada Wakil Gubernur NTT. (iir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here