Politisi PDI P Sebut Indonesia Butuh Haluan Negara

Rahmad Handoyo, Anggota Komisi IV DPR RI.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmad Handoyo menegaskan, Indonesia membutuhkan haluan negara dalam membangun bangsa. Karena itu, usaha untuk mengamandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sangat baik dan bagus selama dilaksanakan dengan komitmen yang kuat.

Dia pun menyatakan, amandemen UUD tersebut hanya sebatas amandemen tentang GBHN (Garis Besar Haluan Negara) saja, tanpa meluas ke hal lainnya.

“Intinya, siapapun presidennya, bangsa kita tanpa GBHN, yang dilakukan hanyalah sebatas visi dan misi yang mereka buat tatkala maju sebagai capres saja. Dan setelah mereka tidak terpilih kembali, maka presiden selanjutnya tidak mungkin melanjutkan, karena tentu mereka membuat visi dan misi yang berbeda dengan presiden terdahulu. Tentunya sesuai keinginannya dan timnya,” papar Rahmad di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Hal tersebut menurutnya sangatlah tidak baik. Pasalnya membangun bangsa ini tidak sebatas lima tahun sebagaimana visi dan misi presiden. Melainkan harus ada rencana jangka menengah dan jangka panjang, sepuluh tahun, lima belas tahun hingga dua puluh lima tahun mendatang dan seterusnya.

Pasca reformasi, lanjutnya, pembangunan bangsa seperti kebingungan, tidak tahu harus mengacu dan berpedoman pada apa. Setelah lima tahun ganti presiden terjadi visi dan misi yang baru, begitu seterusnya.

Namun dengan kembalinya pada GBHN akan jelas rencana pembangunan jangka menengah dan panjang bangsa ini. Dengan kata lain, GBHN akan menjadi acuan atau pedoman pembangunan Indonesia ke depan siapapun presidennya.

Sebagian pihak mengkhawatirkan adanya misi terselubung dibalik rencana amandemen UUD 1945 ini. Seperti penghapusan pembatasan masa presiden selama dua periode, pemilihan presiden dan waki presiden oleh MPR hingga kekhawatiran akan mundurnya demokrasi.

Namun menurut politisi dapil Jawa Tengah V, hal tersebut tidak akan terjadi. Secara pribadi, politisi PDI Perjuangan ini meyakini, adanya komitmen yang kuat untuk menjaga rencana amandemen UUD 1945 itu hanya sebatas masalah GBHN dan tidak meluas ke hal lain.

Ia berharap seluruh fraksi di MPR (baik DPR maupun DPD RI), serta pemerintah menjaga komitmen tersebut.

“Saya tegaskan kembali bahwa jika rencana amandemen UUD 1945 nanti terjadi, ini merupakan amandemen terbatas, hanya terkait masalah GBHN atau rencana pembangunan jangka menengah dan panjang negara ini. Sehingga ada acuan atau pedoman arah pembangunan bangsa ini. Bukan meluas ke hal lainnya. Kalau nanti meluas ke hal lain, menurut saya lebih baik tidak perlu diamandemen,” jelasnya. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here