Diparesiasi Positif, Kemampuan Mentan Kendalikan Impor

0
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Gebrakan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman yang terus mengendalikan impor dan menggenjot ekspor komoditas pangan, mendapat apresiasi positif pengamat Ketahanan Pangan, Prof. Tjipta Lesmana..

“Tak ayal, pertanian menjadi sektor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di pedesaan,” kata Prof Tjipta Lesmana kepada wartawan di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Bappenas dan dirilis beberapa hari yang lalu terbukti bahwa penerapan teknologi pertanian dengan belanja alat mesin, perbaikan saluran irigasi tersier, penyediaan benih tanaman, bibit ternak dan pupuk oleh Kementan mempunyai dampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya ekonomi pedesaan.

Studi kasus yang dilakukan Bappenas terkait alokasi anggaran belanja 2016-2017 menunjukkan belanja modal mengalami peningkatan paling tinggi yaitu sebesar Rp 39,1 triliun, belanja barang sebesar Rp 31,8 triliun; sedang belanja pegawai Rp 7,5 triliun.

Belanja barang pada periode tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,08 persen. Sementara belanja modal hanya mendorong 0,03 persen. Anggaran yang sudah dikeluarkan oleh Kementan memiliki peran terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi. Setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, terjadi peningkatan subsektor pertanian, peternakan dan jasa pertanian di daerah sebesar 0,13 persen.

“Indikator keberhasilan dapat kita lihat pada peningkatan ekspor komoditas pertanian menurut data BPS. Tahun 2018 ekspor komoditas pertanian melonjak tajam menjadi 42,5 juta ton,” kata Prof. Tjipta Lesmana.

Ia menjelaskan rata-rata kenaikan ekspor pertanian per tahun sebesar 2,4 juta ton. Untuk tahun 2019 besar kemungkinan angka ekspor tersebut akan meningkat lagi, karena fokus pada ekspor komoditas pertanian yang dilakukan oleh Kementan.

“Yang tidak kalah hebat, terjadinya penurunan inflasi bahan makanan yang sangat signifikan menjadi 1,26 persen pada tahun 2017 dari sebelumnya 11,71 persen pada tahun 2013,” katanya seraya menambahkan bahwa peringkat ketahanan pangan Indonesia, berdasarkan Global Food Security Index juga terus membaik ke peringkat 65 dari 113 negara.

Di sisi lain, Prof. Tjipta menilai tidak ada masalah jika Indonesia masih melakukan impor pada beberapa komoditas pertanian meski sukses di bidang pertanian. Menurutnya, hal itu wajar-wajar saja karena ekspor dan impor pangan sesungguhnya hal yang biasa dan terjadi pada hampir semua negara, termasuk RRT, salah satu ‘negara raksasa pertanian’.

“Yang penting pemerintah kita konsisten menggenjot ekspor, disamping mengendalikan impor komoditas pertanian secara ketat. Jangan sampai Indonesia gampang menyerah pada tekanan para mafia untuk terus mengimpor komoditas pertanian strategis yang kerap terjadi di masa lalu!. Disamping menguras devisa negara, praktek semacam ini tentu akan melemahkan ketahanan bangsa kita,” tutupnya. (Lia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here