Sindiran Pedas Pengamat, Jaksa Eka Tak Punya Harga Diri

0
Jaksa Eka Safitri kenakan rompi oranye..

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pengamat dan penggiat anti korupsi Adilsyah Lubis menyebut Jaksa Eka Safitri dari Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Jogjakarta, yang dijaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, pada Senin lalu, tidak punya harga diri karena yang bersangkutan malah bertindak sebagai calo proyek.

“Itu sudah keterlaluan, dan betul-betul memalukan, sama saja dia sebagai broker proyek,” kata Adilsyah menjawab beritabuana.co di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Dia menyatakan, penugasan jaksa Eka di Tim Pengawalan, Pengamanan, Pemerintahan dan Pembangunan Pusat-Daerah(TP4D) Kejari Jogjakarta telah disalahgunakan dengan memanfaatkan proyek pekerjaan rehabilitasi saluran air hujan di Jogjakarta.

Dia justru ikut bermain dengan mengatur perusahaan untuk mendapatkan proyek tersebut.

“Ini contoh jaksa yang serakah karena dia justru mengatur pihak tertentu supaya mendapatkan proyek,”kata Adilsyah.

Jaksa tersebut katanya lagi, tidak ragu meminta komisi atau melakukan kesepakatan dengan pihak swasta yang berminat mengerjakan proyek itu.

“Ini memang sudah keterlaluan,” ucap Adilsyah.

Dia mengatakan lagi, proyek rehabilitasi saluran air hujan di Jalan Supomo Yogjakarta senilai Rp 10,89 miliar itu menjadi kesempatan Eka Safitri mencari uang secara tidak terhormat.

Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, melalui pengusaha yang tertarik mengerjakan proyek infrastruktur itu.

“Jaksa Eka beranggapan, ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, lalu dia nekad meminta imbalan jasa atau komisi kepada pengusaha yang memenangkan lelang proyek,” ujar Adilsyah.

Celakanya kata Adilsyah, jaksa Eka juga beranggapan fee yang diterima dari si pengusaha praktik yang lazim dalam bisnis. Karena itu kata Adilsyah, jaksa Eka tidak salah jika disebut ngobjek cari uang sampingan sebagai jaksa sebagai tukang catut proyek.

“Perbuatan dia ikut emalukan institusi kejaksaan dimana ada oknum jaksa seperti ini. Paling tidak telah mencoreng muka institusi kejaksaan, bahwasanya ada oknum di institusinya yang berperilaku buruk,” tambahnya.

Terkait dengan kasus ini, Adilsyah menyarankan Kejaksaan Agung segera melakukan tindakan reformasi birokrasi di institusi kejaksaan secara menyeluruh.

Kasus ini terbongkar setelah tim penyidik KPK melakukan OTT Senin lalu di Jogjakarta. KPK menduga, Eka Safitri dan jaksa Satriawan membantu Dirut PT Manira Arta Rama Mandiri, Gabriella Yuan Ana Kusuma untuk mengikuti lelang proyek di Dinas PUPKP.

Dari bantuan itu, jaksa Eka mendapat fee sebesar Rp 100,870 juta pada 15 Juni 2019 dan Rp 110,870 pada 19 Agustus 2019.
Dalam kasus ini, total ada 3 orang tersangka, yakni Eka Safitri, Satriawan Sulaksono sebagai penerima suap. Satu tersangka lainnya adalah Gabriella Yuan Ana Kusuma.

Kasus ini terkait dengan lelang proyek pekerjaan rehabilitasi saluran air hujan di Jalan Supomo Yogjakarta dengan pagu anggaran Rp 10,89 miliar. Proyek ini dikawal tim TP4D dari Kajari Jogjakarta yang salah satu anggotanya adalah jaksa Eka Safitri. (Asim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here