Kebutuhan Listrik Sejalan Pemahaman Kualitas Hidup Masyarakat

0

BERITABUANA.CO, JAKARTA–Pambudi Prasetyo, Ketua Penyelenggara Festival Kopi pada Bali Collection Festival (BCF) 2019 menyatakan, banyaknya orang ke cafe, pecinta kopi dan gaya hidup modern, menjadi penanda semuanya tak bisa lepas dari pasokan listrik. Elecyticity lifestyle, gaya hidupnya bergantung listrik.

“BCF 2019 event yang sudah berlangsung selama 5 tahun ini, di dalamnya ada event Festival Kopi, yang baru diselenggarakan pertama kalinya tahun ini. Kami berharap dapat berlangsung juga sebagai event tetap setiap tahun,” kata Pambudi, di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Ia menambahkan industri kopi saat ini sedang “sexy,” luas sekali penggunaannya, sehingga orang dapat memanfaatkan halaman berukuran 3 X 3 meter2. Mengingat semua mesin yang dipergunakan di warung kopi modern, lebih luas kafe, saat ini menggunakan listrik, sehingga pasokan listrik sepenuhnya mendukung perkembangan ekonomi kreatif.

Pada Festival Kopi yang berlangsung 16 – 18 Agustus 2019 di Nusa Dua, Bali, ditampilkan sejumlah acara, seperti perbincangan dan pengetahuan tentang kopi, serta pameran kopi yang menampilkan potensi kopi dari seluruh Indonesia. Acara ini diikuti 48 booth dan menampilkan wakil dari pemerintahan, market place, lembaga pembiayaan dan perbankan, serta para pemain di bidang industri perkopian.

PT PLN (Persero) sebagai salah satu pengisi stand, juga mendukung bertumbuhnya industri kopi di Indonesia, melalui pemberian pelatihan dan penanaman kopi lewat anak perusahaannya Unit Pembangkit Mrica PT Indonesia Power di Desa Pengundungan dan Desa Krinjing, Jawa Tengah.

Melalui program CSR-nya dapat membawa dua kelompok petani Kopi Senggani dari Kelompok Tani (Poktan) Rising – Desa Pengundungan dan Kopi Krinjing dari Poktan Bumi Asih memberi nilai tambah bagi para anggota Poktan dan juga industri terkaitnya.

Menurut Pambudi, luasnya penggunaan listrik dimulai sejak dari kopi tersebut ditanam sampai siap diminum. Proses penanaman kopi tidak hanya membutuhkan energi secara intensif, baik digarap dengan sistem tanam sederhana ataupun yang menggunakan mesin (mekanisasi pertanian).

“Faktanya, hampir 60% energi yang dipergunakan untuk menghasilkan secangkir kopi, terutama terletak pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing) kopi,” tutur Pambudi. (Ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here