Diungkap Jusuf Rizal, Ada ‘Grand Design’ Pembunuhan Karakter Anies Karena Potensi Pilpres 2024

by -
Gubernur DKI Anies dan Presiden LIRA, Jusuf Rizal.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Dewan Pembina sekaligus Penggagas Ikatan Reporter Seluruh Indonesia (IRSI), HM Jusuf Rizal mengaku prihatin keenggan media mengangkat prestasi kinerja Gubernur DKI Jakarta Anies. Hal itu, menurut dia adalah sebuah pembodohan.

“Media adalah sosial kontrol dalam menunjang pembangunan terhadap kemajuan Ibukota Jakarta. Sedangkan catatan Divisi Litbang LSM LIRA terkini, banyaknya pihak yang menghujat kinerja Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan itu dinilai tidak realistis,” beber Jusuf Rizal yang juga menjabat Presiden LSM LIRA itu kepada wartawan di Graha Perwira Gedung Gajah Tebet, Jaksel markas DPP IRSI, Jumat (9/87/2019).

Ketua Presidium The President Center Relawan Jokowi-KH.Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 itu pung mengatakan kalau LSM LIRA dibawah kepemimpinnya saat ini kerap mengkritisi kinerja pemerintah. Namun untuk Gubernur Anies, kali ini JR sapaan akrab Jusuf Rizal memberi pembelaan.


Ini bentuk pengkerdilan karakter Anies Baswedan. LSM LIRA (Bermuri-red), Anies digadang-gadang berpeluang pada Pilpres 2024, tetapi semua itu tergantung kapasitas dan kapabilitas Anies dari waktu ke waktu,” tegas JR turut mengakui dari beragam macam piagam prestasi diraih Anies itu semua lantaran menyelesaikan berbagai masalah kompleks di Ibukota.

Jusuf Rizal menyebutkan kalau hujatan yang ditujukan pada Anies lebih banyak bermuatan politik, mengingat yang bersangkutan memiliki potensi besar untuk maju pada Pilpres 2024. Sehingga, ada grand design untuk melakukan pembunuhan karakter seolah-olah Anies tidak memiliki kapasitas yang cukup menyelesaikan berbagai masalah di DKI Jakarta.

“Menurut saya Anies punya kapasitas dan kapabilitas yang cukup untuk menyelesaikan itu semua. Tetapi memang tidak bisa sekaligus, karena semuanya perlu tahapan. Apalagi ingin memuaskan semua pihak,” katanya.

Masalah di Jakarta, lanuut Jusuf Rizal, bukan hanya sampah dan polusi, tapi juga masalah sosial kemasyarakatan yang perlu perhatian serius.

Soal polusi udara misalnya, tidaklah bijak jika masyarakat hanya bisa menyalahkan Gubernur Anies.

“Indikasinya (polusi udara), banyak faktor yang menyebabkan buruknya kualitas udara Jakarta. Tidak hanya disebabkan polusi kendaraan, terutama motor melainkan juga dipicu pembangunan sebelum Anies memimpin Jakarta, yang telah menggerus ruang hijau terbuka ibukota.

Untuk itu diperlukan kebijakan yang konprehensip tapi tidak merugikan masyarakat,” katanya.

Namun, Jusuf Rizal kurang sependapat jika problem dari polusi terbesar adalah kendaraan, sehingga perlu regulasi terhadap sektor ini perlu diperketat, salah satunya dengan pembatasan kendaraan 10 tahun.

“Menurut saya itu bukan solusi karena dapat merugikan masyarakat. Yang diperlukan adalah semua kendaraan harus melalui “lolos uji emisi”. Bagi kendaraan yang tidak lolos uji emisi, Pemda DKI jangan kasi keluar izin bahkan jangan perpanjang STNK mereka. Bila perlu, mobil atau kenderaannya diberi tanda tertentu agar diketahui khalayak,” saran dia lagi.

Lebih jauh menurut Jusuf Rizal, usia kendaraan 10 tahun belum tentu kualitas kendaraannya jelek, apabila yang memakai pemeliharaannya bagus. Jika substansinya ingin menekan polusi udara bukan pembatasan usia 10 tahun, tapi uji emisi yang ketat.

Terpenting masih menurut Jusuf Rizal adalah semua kendaraan wajib uji emisi termasuk sepeda motor. Dan, Pemda DKI tinggal menyiapkan pelayanan terpadu dengan Dishub dan pihak Kepolisian.

Berikutnya adalah ruang hijau. Kenapa? Karena di DKI Jakarta ini mulai kekurangan ruang hijau karena pembangunan yang merusak ekosistim. Pembangunan jalan, mall dan perkantoran telah ‘menggusur’ ruang hijau yang dapat menekan polusi.

“Ruang-ruang hijau disetiap Kelurahan telah habis karena tidak terpelihara. Dinas pertamanan dinilai kurang baik pemeliharaannya. Lihat dan cek itu daerah Tugu Tani. Banyak tanaman dan kembang kering kerontang sebab tidak terpelihara,” beber Jusuf Rizal.

Ketua Umum IRSI, Arse Pane. (Foto: Ist)

Mengamini pernyataan JR, Ketua Umum IRSI, Ir. H. Arse Pane mencontohkan Gelora Bung Karno yang dulunya penuh penghijauan, tetapi kini semua itu jadi beton-beton kering. Padahal penghijauan jadi paru-paru Kota.

“Karenanya perlu digalakkan kembali penghijauan di Jakarta dan setiap perkantoran. Itu fasum fasos, dan rumah-rumah wajib tanam pohon. Buat Gerakan Hijau Jakarta, dan setiap Lurah harus cek itu saat apel pasukan orange,” tegas pria berdarah Batak – Karo itu sambil menyebutkan buruknya kualitas udara Jakarta turut dipicu kemarau panjang.
(Aldo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *