Bukan Ideologi Impor, Pancasila Paling Tepat Persatukan Bangsa

0
Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta.

BERITABUANA.CO, PEKANBARU – Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengingatkan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda. Sebab, masih ada kelompok masyarakat yang mengabaikan konsensus bernegara.

“Sebagai pimpinan lembaga negara, saya cukup prihatin jika mendengar ada sekelompok masyarakat yang mulai mengabaikan konsensus bernegara kita,” kata Oesman Sapta dalam Kuliah Umum dan Transfer Energi bertema “Pancasila dan Narasi Kebangsaan Kita” di Universitas Riau, Pekanbaru, Rabu (7/8/2019) kemarin. Kuliah umum ini merupakan salah satu agenda pengenalan kehidupan kampus yang diikuti 1.253 mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (Unri).

Dalam kuliah umum itu, Oesman Sapta yang akrab disapa OSO mengisahkan percakapan antara Bung Karno dan Presiden Yugoslavia Tito. Dalam percakapan itu, Tito membanggakan kekuatan militer untuk mempertahankan bangsanya. Sedangkan Bung Karno, mengatakan telah mewariskan Indonesia dalam sebuah way of life atau pandangan hidup bernama Pancasila.

“Sejarah membuktikan, Yugoslavia yang mempunyai militer kuat, sekarang telah pecah menjadi beberapa negara. Sementara Indonesia, yang wilayahnya luas dengan ribuan pulau dan suku-suku, tetap tegak dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” papar dia.

“Kuncinya satu: kita punya ideologi pemersatu yang bernama Pancasila. Pancasila menjadi pandangan hidup, sekaligus alat pemersatu bangsa Indonesia. Karena Pancasila, masyarakat Jawa ikut bersedih, ketika masyarakat Riau mengalami kebakaran hutan dan lahan. Itulah kekuatan ideologi bernama Pancasila,” tambahnya lagi.

Maka, tak heran jika Soekarno pernah mengajak bangsa-bangsa di dunia untuk menggunakan Pancasila sebagai ideologi. Mengapa Pancasila ideologi yang paling tepat? Karena Pancasila bukan ideologi impor,melainkan ideologi yang dilahirkan anak-anak bangsa Indonesia, yaitu tokoh ulama, cerdik pandai, dan pemimpin-pemimpin nasional pada saat itu.

“Nilai-nilai Pancasila digali dari bumi Indonesia. Selain itu, Pancasila adalah ideologi yang tidak melawan kodrat,” kata Ketua DPD RI itu.

Kepada mahasiswa baru FKIP Unri, OSO berpesan untuk mencari pengalaman mengajar. Tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman mengajar, agar menjadi guru yang baik dan teladan bagi murid. Serta menghasilkan murid yang cerdas dan bermartabat.

“Negara yang maju adalah negara yang menghargai pendidikan. Negara yang maju adalah negara yang mengerti tentang filosofi pendidikan. Negara yang maju adalah negara yang mampu mendidik anak-anak menjadi orang pintar, cerdas dan bermartabat,” tegasnya.

Kuliah Umum dan Transfer Energi yang diakhiri dengan Deklarasi Jaga Pancasila dan Menolak Paham Radikalisme, turut dihadiri Rektor Unri Prof Dr Aras Mulyadi, dan Dekan FKIP Unri Dr Mahdum. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here