Dito Ganindito: Argumen PLN Listrik Padam Akibat Pohon, Tidak Logis

Pembicara diskusi Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Dito Ganinduto dan Anggota Komisi VII DPR RI, M. Kurtubi membahas terkait padam Listrik secara serentak dan berlangsung lebih dari 9 jam. (Foto : Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Argumen PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pesero, mengenai penyebab padamnya listrik secara massal yang berlangsung cukup lama di wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat, pada Minggu (4/8/2019) kemarin, akibat kerusakan saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet) 500 kV di Ungaran-Pemalang, Jawa Tengah karena pohon, sangat tidak logis dan mengada-ada.

Penilaian ini disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Dito Ganindito berbicara dalam diskusi Forum Legislasi dengan tema “Buntut Listrik Padam Jawa-Bali, Bagaimana Pengawasan UU Konsumen?” di Media Center Gedung Nusantara DPR RI, Selasa (6/8/2019).

Dengan nada heran, Gito pun bertanya masa di jalur Sutet ada pepohonan.

“Hingga kini, belum jelas betul penyebab sesungguhnya yang melatari pemadaman tersebut. PLN harusnya selalu punya back up berlapis, ketika sistem satu transmisi rusak,” katanya.

Bahkan, Dito mengaku prihatin dan kaget atas musibah pemadaman listrik ini. Baginya, pemadaman hingga delapan jam tidak logis.

“Kita sangat kaget, prihatin, dan kecewa terjadinya blackout di Ibu Kota, Bekasi, dan Banten sampai 8 jam. Sebagian malah ada yang 10 jam dan 12 jam. Ini pasti masalah teknis. Tetapi sampai saat ini kita belum dapat informasi yang pasti dari PLN, apa sih penyebab utamanya,” ucap politisi Partai Golkar ini.

Menurut Dito, pemadaman selama delapan jam di Ibu Kota sangat memalukan. Plt. Dirut PLN juga dinilai tidak mampu menjelaskan dengan baik soal teknis pemadaman ini. Selama PLN masih dipimpin seorang Plt. keputusan yang diambil pun sangat terbatas.

Sistem transmisi berupa Sutet itu mestinya di-back up oleh beberapa sistem lagi. Ketika misalnya, Sutet Ungaran-Pemalang rusak ada transmisi lain yang tetap bisa membantu mendistribusikan energi listrik.

“Di Jakarta ini back up-nya harus lebih dari satu, mestinya 2 sampai 4. Jangan sampai mati sampai 8 jam. Menurut saya yang bisa ditoleransi maksimal 1 jam. Tidak boleh lebih dari 1 jam untuk Ibu Kota. Ibu Kota, kan, lambang negara kita. Industri di sini juga banyak sekali. Di Banten dan Bekasi adalah daerah industri. Berapa kerugian dunia industri saat ini,” ujar legislator dapil Jateng VIII itu.

Dito juga menyayangkan, pihaknya belum mengkonfirmasi kasus blackout tersebut kepada menteri dan pejabat terkait di Kementerian BUMN. Karena Menteri BUMN dan pejabat terkait lagi menunaikan ibadah haji.

“Saat ini Menteri BUMN sedang menjalani ibadah haji. Sesmen BUMN sedang berada di luar negeri pula. Pejabat yang terkaitpun ikut naik. Herannya, menterinya pergi ibadah haji kok pejabatnya ikut juga ibadah haji. Apa tidak bisa di waktu berbeda,” katanya dengan nada heran. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here