Mantra dan Hari-hari ‘Keramat’ Sebelum Aktivitas Merampok

BERITABUANA.CO, LUMAJANG– Ada yang menarik dibalik rekonstruksi kasus pencurian sepeda motor di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang kemarin (26/7/2019). Pelaku yang bernama Nurul Ain (50) warga Desa Selok Besuki, Kecamatan Sukodono mengaku setiap kali akan melaksanakan kejahatannya selalu membaca mantra.

Mantra ini sendiri ia dapatkan dari teman nya yang bernama Harso pada saat keduanya sama-sama mendekam di Lapas Lumajang karena kasus yang sama beberapa waktu yang lalu.

Mantra tersebut berbunyi “ojok nglilir nglilir, turuo koyok wong mati sampek isuk” yang jika di terjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi ‘jangan bangun, tidurlah seperti orang mati sampai pagi’.

Dalam prakteknya pun juga cukup mudah, pelaku cukup membaca mantra tersebut dengan kepercayaan yang tinggi tanpa melakukan hal lainnya lagi. Setelah itu barulah ia mencongkel jendela rumah yang tak dilengkapi teralis besi serta selanjutnya membuka pintu untuk jalan masuknya.

Terbukti, Nurul mengatakan setiap kali ia membaca mantra tersebut maka seluruh orang yang berada di dalam rumah menjadi tertidur pulas dan tak merasakan rumahnya telah disatroni pencuri.

Selain itu, Nur Ain mengatakan bahwa mantra nya tersebut dia baca dengan penug kepercayaan dari dalam hatinya “Saya tidak pernah belajar ilmu spiritual. Mantra yang saya baca murni dari kepercayaan dari diri saya. Saya juga tidak memiliki pantangan ataupun jimat setiap kali akan mencuri” ungkap Nur Ain.

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MM MH yang memimpin rekonstruksi tersebut mengatakan bahwa pelaku melancarkan aksinya sendirian.

“Setiap kali ia melancarkan aksinya, Nur Ain selalu bekerja sendiri. Ia mengaku memiliki mantra agar sang pemilik rumah tak menyadari kehadirannya. tadi dia contohkan bagaimana dia membaca mantranya,” kata Arsal lewat keterangannya, Sabtu (27/7/2019).

“Saya menghimbau kepada warga agar tingkatkan keamanan rumah masing-masing. seperti pemasangan teralis besi di setiap jendela, pilih grendel jendela yang sulit di congkel. jangan beli grendel karena murahnya tapi karena keamanannya. Selain itu jangan meninggalkan kunci motor menancap di kontaknya. Serta yang terakhir, dekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena mantra sekuat apapun akan kalah dengan kuasa-NYA,” tutur Arsal.

Perlu diketahui, Nur Ain telah menjalankan aksi perampokan sebanyak 27 kali dimana 24 kali berhasil membawa motor dan barang perhiasan di rumah korbannya. Dalam pengakuan nya, 3 kali ia tak berhasil menjalankan aksinya lantaran sang pemilik rumah terbangun karena pelaku lupa tak membaca mantra yang sudah ia hafalkan.

Jum’at Legi, Senin Pon dan Malam Minggu

Pelaku pencurian, 24 TKP pencurian di wilayah hukum Polres Lumajang, Nur ternyata tak sembarangan dalam memilih kapan ia melancarkan aksinya. Hal tersebut diketahui setelah kemarin (26/07) Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MM MH memimpin rekonstruksi bagaimana ia memasuki salah satu rumah warga di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono beberapa hari yang lalu.

Tersangka mengaku selalu melihat tanggalan setiap kali akan melancarkan aksinya. Nur Ain mengatakan tak pernah merampok di hari Senin Pon, Jumat Legi, serta pada malam Minggu. Ia pun juga memiliki alasan tersendiri mengapa tak pernah melancarkan aksinya pada hari hari tersebut.

Pertama adalah pada hari Senin Pon. Ia mengatakan lantaran dulu lahir pada penanggalan Jawa tersebut, sehingga pelaku menganggap Senin Pon adalah hari sial jika tetap menjalankan aksinya tersebut.

Selanjutnya adalah pada hari Jumat Legi. Ia mengaku tak pernah merampok pada hari tersebut karena Nur Ain menganggap hari tersebut adalah hari yang cukup sakral bagi kepercayaan penduduk di Pulau Jawa sehingga ia menghormati dan tak merampok pada malam tersebut.

Yang terakhir adalah pada malam Minggu. Ia beralasan malam minggu adalah malam yang selalu ramai karena esoknya adalah hari libur. Tersangka pun menyadari jika malam tersebut pasti banyak warga yang begadang hingga larut malam.

Seusai kegiatan tersebut, Kapolres Lumajang pun menghimbau agar warga lebih berhati-hati dalam menjaga barang berharganya yang berada di dalam rumah.

“Dalam pengakuan tersangka tadi, rumah yang memiliki teralis di setiap jendela tak dapat ia masuki. Selain itu Nur Ain juga mengatakan jika pemilik rumah memasang grendel ukuran besar, sekitar ibu jari orang dewasa maka para pelaku pun tak bisa memasuki rumah tersebut. Dari pengakuan tersebut, hendaknya menjadi cerminan bagi masyarakat agar lebih memperhatikan kemanan dari setiap kemanan rumah. Meskipun Satgas Kemanan Desa sudah berjalan, namun tanggung jawab dari rumah tetaplah menjadi milik setiap keluarga,” terang Arsal.

Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Hasran Cobra mengatakan Tim nya akan terus berkeliling setiap malam agar kejadian ini tak terulang lagi. “Tim Cobra siap dua puluh empat jam bersama SKD dan warga untuk berpatroli. Saya berharap kejadian ini adalah yang terakhir di Kabupaten Lumajang” terang pria yang juga menjabat sebagai Katim Cobra tersebut. (Lmj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here