Maksimalkan Kinerja, PT. Pertamina Berhasil Turunkan Impor Migas

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai keberhasilan Pertamina menurunkan impor migas tak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan BUMN tersebut, termasuk di antaranya memaksimalkan kinerja kilang.

“Berfungsinya kilang-kilang minyak Pertamina menjadi salah satu faktornya karena bisa dimaksimalkan untuk melakukan pengolahan produk minyak mentah. Sebagaimana kita ketahui, harga impor produk lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga crude oil,” kata Mamit kepada wartawan di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Sedang faktor lain yang juga berpengaruh dalam menurunkan impor migas, lanjut Mamit adalah program biosolar, yaitu B20 dan B30. Program ini jelas mengurangi impor solar, karena ada pencampuran dengan sawit. Berdasarkan data Kementrian ESDM, lanjut Mamit, jika dibandingkan YoY periode Januari-Mei 2019 dengan 2018, terjadi penurunan impor sebesar 24%. Yaitu, dari USD 9.6 miliar menjadi USD 7,3 miliar.

“Dengan penurunan ini saya melihat bahwa program yang digulirkan oleh pemerintah seperti B20 sudah cukup berhasil,” lanjutnya.

Menurut Mamit, program B20 memang bisa mengurangi impor, terutama solar. Bahkan, lanjut dia, program tersebut membuat Pertamina sekarang surplus solar.

“Makanya, Pertamina sekarang juga tak perlu lagi mengimpor solar,” jelasnya.

Hal lain yang juga berpengaruh adalah pembelian minyak mentah dari 37 KKKS oleh Pertamina. Pembelian crude oil dari 37 KKKS tersebut sesuai dengan Permen ESDM No 42/2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak dan Gas Bumi Untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri. Dalam hal ini, komitmen pembelian Pertamina cukup tinggi, mencapai 116,9 ribu BPH.

“Berkurangnya nilai impor periode Jan-Mei 2019 YoY 2018 sangat bagus sekali. Karena dengan pengurangan impor ini bisa mengurangi CAD pemerintah,” kata dia.

Impor migas Pertamina memang mengalami penurunan tajam. Realisasi impor Januari-Mei 2019 dibanding periode yang sama 2018 (year on year/tahunan) total impor crude, product, dan LPG 2019 mengalami penurunan 24%. Pada tahun 2019 nilai impor US$ 7,3 miliar. Sementara, di tahun sebelumnya US$ 9,6 miliar. Lebih rinci, untuk impor crude pada 2019 US$ 2,2 miliar. Sementara tahun sebelumnya US$ 4,3 miliar. Penurunan yang terjadi sebanyak 49%. (Lia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here