Kemendikbud Usulkan M. Tabrani Sebagai Pahlawan Nasional

0

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional. Tabrani wafat pada 12 Januari 1984.

“Almarhum merupakan penggagas Bahasa Indonesia. Padahal waktu itu belum ada Republik Indonesia,” ujar Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Prof Dadang Sunendar, dalam ziarah ke makam Tabrani, di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Menurut Dadang, melalui ziarah mengingatkan kembali pada generasi muda bahwa bangsa ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Tapi melalui proses panjang dan penuh perjuangan.

Tanpa adanya Bahasa Indonesia, kata Dadang, sulit bangsa Indonesia yang waktu itu belum merdeka, untuk bersatu. Dengan adanya Bahasa Indonesia, mempersatukan bangsa Indonesia dan berjuang untuk meraih kemerdekaannya. “Kami mengusulkan pada Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar Bapak Mohammad Tabrani bisa menjadi pahlawan nasional,” kata Dadang.

Sebagai bentuk penghormatan, pihak Kemendikbud juga sudah mengubah nama gedung di Kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, yang sebelumnya bernama Samudra menjadi Mohammad Tabrani.

Mohammad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura pada 10 Oktober 1904. Ia merupakan Ketua Kongres Pemuda I yang berlangsung di Solo pada 1926. Ia juga seorang wartawan yang mulai bekerja pada harian Hindia Baroe. Sewaktu belajar di Eropa, di Universitas Köln (Universität zu Köln), dia membantu berbagai surat kabar di Indonesia pada periode 1926 hingga 1930.

Dalam kolom “Kepentingan” yang ia asuh di lembaga pers itu, pada tanggal 10 Januari 1926, dimuatlah tulisan dengan judul “Kasihan”. Tulisan itu muncul sebagai gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Ketika itu, Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Dalam Kongres Pemuda I tersebut, Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan bahasa Melayu. Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia maka bahasa juga Bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia tidak ada, Tabrani tukang ngelamun.” Demikian petikan dari ucapan Mohammad Yamin yang dicatat dalam karya tulis Sebuah Otobiografi M. Tabrani : Anak Nakal Banyak Akal (halaman 42).

Atas perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani tersebut, kebijaksanaan yang diambil adalah keputusan terakhir itu ditunda sampai dengan Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Pesan Kongres Pemuda Pertama dititipkan kepada M. Yamin dengan catatan penting bahwa nama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Indonesia.

Pada tahun 1940, Tabrani bergabung dengan Dinas Penerangan Pemerintah bagian jurnalistik dan selanjutnya pindah ke bagian kartotek dan dokumentasi. Ada 1939 hingga 1940, Tabrani pernah menjabat sebagai ketua umum PERDI atau Persatuan Djurnalis Indonesia. Turut hadir Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Hurip Danu Ismadi serta keluarga mendiang M Tabrani.(efp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here