Oleh: Kanti Walujo dan Ruslan Ramli*

PERTEMUAN presiden terpilih Joko Widodo dan mantan calon presiden Prabowo Subianto, Sabtu lalu, membuka lembar baru kehidupan demokrasi Indonesia. Setelah terlibat rivalitas dalam Pilpres 2019, akhirnya keduanya saling bertegur sapa. Sangat cair dengan suasana yang penuh keakraban sejak di Stasiun Lebak Bulus hingga Restoran Sate Senayan.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo amat dinanti-nanti lantaran mendinginkan dua kubu yang masih bagaikan minyak dan air pasca keputusan MK. Rakyat Indonesia yang terbelah akibat pilihan yang berbeda saat pilpres, sontak menyambut hangat silaturahmi dua pemimpin bangsa tersebut. Ada rasa bahagia menyaksikan adegan jabat tangan, cipika-cipiki, dan diskusi berdua di atas kereta.

Yang melegakan, kedua pemimpin besar tersebut berikrar untuk memajukan negeri ini. Dengan mencoba alat transportasi MRT, mereka bertekad membawa Indonesia menuju adil dan makmur. Rakyat Indonesia hidup sejahtera dan berkeadilan. Sungguh luar biasa komitmen tersebut.

Apalagi Jokowi mengatakan sudah tidak ada lagi kubu 01 dan 02. Di samping itu, istilah cebong maupun kampret, selesai. Semua kubu pendukung melebur menjadi satu yaitu Garuda Pancasila. Begitu pula Prabowo setuju tidak ada kelompok 01 dan 02. Yang ada hanya Merah-Putih.

Prabowo mengucapkan selamat atas terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI periode 2019-2024. Dia mengatakan sebagai orang timur, kalau mengucapkan selamat harus berhadapan langsung dengan Jokowi sendiri. Yang paling berkesan, Prabowo akan selalu mengingatkan Jokowi jika ada hal-hal yang dinilai kurang menguntungkan rakyat.

Pertemuan Jokowi-Prabowo dilanjutkan makan siang di sebuah restoran. Kedua pemimpin tersebut duduk satu meja sambil menikmati gurihnya sate. Di belakang meja tersebut terlihat gambar wayang tokoh punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang dibingkai cukup besar. Apa makna gambar punakawan bagi kedua pemimpin bangsa Indonesia tersebut?

Wayang adalah salah satu hasil peninggalan kebudayaan yang mempunyai kelangsungan hidup, khususnya masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Cerita-cerita pokoknya bersumber pada kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari budaya Hindu, India tetapi sudah diserap ke dalam budaya Indonesia.

Wayang mempunyai nilai hiburan yang mengandung cerita pokok dan berfungsi sebagai media komunikasi. Dalam setiap pertunjukan wayang yang berlangsung 11 jam non stop dari jam 20.00 hingga jam 06.00 memberikan pendidikan moral dan beraneka macam pesan yang disampaikan sang dalang. Setiap pergelaran wayang selalu ada para penabuh gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu untuk mengiringi pergelaran wayang.

Pada tengah malam, ada adegan yang paling ditunggu-tunggu penonton yaitu adegan punakawan yang biasa disebut goro-goro. Melihat sosok tubuh punakawan tersebut, orang tertawa geli. Apalagi kalau sudah bicara, punakawan sangat menghibur penonton. Biasanya sang dalang menggunakan adegan goro-goro ini untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Misalnya pesan KB, persatuan Indonesia, dan sebagainya.

Punakawan disimbolkan sebagai rakyat jelata, namun punakawan mempunyai hak untuk mengkritik rajanya jika tingkah laku sang raja dianggap keliru. Punakawan ini mengabdi pada negara Amarta di mana rajanya adalah Yudistira (putra sulung Pandawa). Adik-adik Yudistira adalah Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula-Sadewa. Kelima saudara tersebut disebut Pandawa.

Punakawan merupakan tokoh dalam wayang yang merupakan bagian dari dunia wayang yang eksistensinya hanya ada di Indonesia. Hal ini karena tidak ditemukan tokoh Punakawan dalam sejarah pewayangan di India.

Punakawan adalah tokoh yang khas dalam wayang Indonesia Mereka mempunyai karakter unik dan bisa menjalankan berbagai macam peran, seperti pengasuh dan penasihat para ksatria, penghibur, kritikus, pelawak bahkan sebagai penutur kebenaran dan kebajikan.

Punakawan hanya digambarkan sebagai rakyat kecil, berpakaian berpoleng dan tubuh-tubuh aneh. Sekalipun begitu, punakawan adalah orang sakti yaitu titisan para dewa. Punakwan ini adalah jelmaan dari para dewa yang hanya menyamar menjadi rakyat jelata, yang menjelma menjadi penyelamat, penyeimbang, dan hadir dengan segala sikapnya.

A. Semar

Dalam dunia pewayangan Semar merupakan manusia setengah dewa (penjelmaan Sang Hyang Ismaya). Kata Semar berasal dari kata tan samar yang berarti tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu.

Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketenteraman di muka bumi dan ketenteraman antar sesama umat manusia. Sebagai titah atau makhluk, Semar mengemban amanat untuk mengabdi berupa darma atau amalan baik kepada sang raja, juga kepada bangsa dan negara.

Ciri sosok Semar adalah:

1. Semar berkuncung seperti kanak kanak, namun wajahnya sangat tua
2. Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
3. Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
4. Semar seperti berdiri sekaligus jongkok
5. Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

B. Gareng

Gareng atau Nolo Gareng diangkat sebagai anak Semar paling tua yang sering muncul di pertunjukan wayang. Gareng memiliki nama asli Bambang Sukadadi. Dia adalah anak dari Gandarwa (sebangsa jin). Nama lain Gareng adalah Pancalpamor yang artinya menolak segala hal yang sifatnya duniawi. Kadang Gareng disebut namanya dengan Pegatwaja yang artinya tidak suka makan makanan yang enak, boros, dan mengundang penyakit. Ia selalu makan makanan yang sederhana.

Gareng memiliki sifat sopan dan halus dalam bertindak. Selain itu, Gareng memiliki kaki pincang, yang merupakan simbol bahwa kita harus berhati-hati dalam bertindak. Gareng juga memiliki cacat fisik lain berupa tangan yang patah (cekot) yang disimbolkan jangan suka mengambil hak orang lain.

Walaupun Gareng memiliki tubuh tidak sempurna, wajahnya jelek dan matanya juling. Namun Gareng memiliki aura positif, di mana orang sekitarnya selalu merasa bahagia saat dekat dengannya. Sifat-sifat kebaikan dan kebijaksanaan Gareng membuat Pandawa mengangkat Gareng sebagai penasihatnya.

Di dalam kisah pewayangan, Gareng selalu menjadi penengah saat adik-adiknya bertengkar. Bahkan Gareng pernah menyadarkan Petruk, saat Petruk jadi raja dan lupa dengan kesombongannya. Dalam bahasa Jawa, Gareng berarti kering yang bermakna bahwa hatinya kering dari godaan nafsu duniawi. Artinya, ia selalu menolak dengan segala racun dunia. Tangannya yang patah pun memberikan makna bahwa Gareng tidak suka menggunakan kekuasaannya untuk berbuat semena-mena. Bisa dikatakan bahwa tangannya selalu terjaga dari sifat jelek.

Kakinya yang pincang memberikan makna kehati-hatian dalam bertindak. Karena segala hal di dunia ada dampak baik dan buruknya. Sehingga kita tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan melangkah ke depan.

C. Petruk

Petruk adalah putra dari Begawan Salantara -seorang pendeta raksasa di pertapaan di dalam laut-, sebelumnya iya bernama Bambang Panyukilan. Dalam kesehariannya Petruk adalah seorang yang periang dan termasuk seorang yang berilmu tinggi dan pertapa yang tangguh.

Petruk juga diangkat sebagai anak Semar kedua. Ketika para Pandawa mengalami kesulitan, Petruk selalu menghiburnya dan menemaninya dengan setia. Petruk mempunyai ciri khas dengan hidung yang panjang. Ia memberikan lima ajaran kepada ksatria Pandawa yaitu,

1) Momong (bisa mengasuh),
2) Momot (dapat memuat segala keluhan tuannya dan dapat merahasiakan masalah),
3) Momor (tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung),
4) Mursid (pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya) dan
5) Murakabi (bermanfaat bagi sesama).

D. Bagong

Bagong berasal dari bahasa Arab Baqha yang artinya dapat membedakan antara baik dan buruk Bagong merupakan anak angkat Semar paling bungsu. Bagong pun memiliki ciri fisik yang sangat unik dan lucu. Dengan tubuhnya yang bulat, bibirnya yang tebal seperti memble, dan matanya yang belok atau lebar ini membuat tokoh yang satu ini sering membuat para penonton terpingkal-pingkal melihat bentuk fisiknya.

Bagong juga memiliki senjata utama di tangannya yang selalu dibawa ke mana-mana, yaitu senjata kudi. Kudi merupakan senjata yang bisa membelah dan memotong benda keras. Di mana senjata ini memiliki satu sisi yang tajam dan bentuknya melengkung seperti clurit, namun bagian pangkalnya besar.

Tokoh Bagong suka berbicara sendiri, bahkan ngalor ngidul tak jelas apa yang ia bicarakan. Namun, ia memiliki sifat yang polos dan lugu jika dibandingkan dengan kedua kakak angkatnya, Tapi sayangnya ia suka njambal alias kurang tata krama terhadap orang yang lebih tua darinya.

Kesimpulan

Foto tokoh-tokoh Punakawan yang terpajang di belakang Jokowi dan Prabowo di Restoran Sate Senayan memberikan makna belajarlah pada sifat dan karakter tokoh-tokoh Punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka adalah rakyat biasa yang siap melayani rajanya dan siap menghiburnya dalam segala kesulitan dan kesedihan. Dengan kata lain, kedua pemimpin bangsa Indonesia sudah seharusnya siap melayani, menyejahterakan rakyatnya secara adil dan bijaksana. ***

* Penulis adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here