Sekolah Pascasarjana UHAMKA Sukses Gelar International Seminar Public Health

0
Seminar kesehatan Pascasarjana UHAMKA. (Foto: Natsir)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sekretaris Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta, Dr. Budhi Akbar, M.Si menegaskan, revolusi industri saat ini diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni.

“Untuk menghadapi revolusi industri yang terjadi di dunia, selain SDM yang cakap juga diperlukan revolusi industri seperti bioteknologi, robotika, pencetakan 3D sampai dengan rekayasa genetika,” Budhi saat membuka International Seminar Public Health UHAMKA (ISPHU) yang pertama dengan tema “New Wave of Health Workers in Global Era” di Auditorium Lt.4 Kampus UHAMKA Limau, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Meskipun didukung dengan kecanggihan teknologi, lanjut dia, hal ini juga memiliki pengaruh besar terhdapa percepatan pembangunan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Sedang Ketua panitia ISPHU, Siti Hasanah Wati, SKM mengatakan, acara yang berorientasi pada media diseminasi isu kesehatan ini, diawali dengan pemutaran video wawancara singkat yang berisi mengenai pengetahuan era revolusi industri 4.0 dan dilanjutkan dengan pemaparan materi.

Kepala Bidang Pengembangan Karir dan Tata Kelola Sertifikasi Kemenkes RI, Sidin Hariyanto,SKM., M.Pd yang mewakili Menteri Kesehatan (Menkes) mengawali pemaparannya dengan membawakan topik “Peran Pemerintah Dalam Hal Perlindungan Tenaga Kesehatan Dalam Negeri Dalam Menghadapi Perdagangan Bebas”.

Sidin merujuk ke data 2018 bahwa kondisi tenaga kesehatan di puskesmas nasional mengalami maldistribusi yaitu kelebihan 272.168 dan kekurangan sebanyak 31.867. Dia menambahkan bahwa strategi perlindungan tenaga kesehatan dapat dilakukan dengan peningkatan kompetensi bahasa dan budaya melalui kelas internasional, peningkatan kompetensi dan pengalaman lulusan melalui program magang serta adanya fasilitas sertifikasi international (Prometric & CGFNS bagi perawat).

Selanjutnya, praktisi Akademisi Universitas Bina Nusantara (Binus) Dr. Daniel Kartawiguna,S.T.,M.ST., M.Acc membawakan topik “Implementasi Global Industri 4.0 dibidang Kesehatan”. Ditegaskan Daniel bahwa sudah cukup banyak implementasi Global Industri 4.0 di dunia kesehatan seperti Artificial Intelligence (AI), Percetakan 3D sampai dengan Virtual Reality.

Penerapan AI dalam dunia kesehatan sendiri telah diterapkan dalam melakukan presisi obat serta membantu melakukan penegakan diagnose pada setiap pasien. Salah satu penegakan diagnose dengan AI adalah penggunaan mesin X-Ray, cara yang dapat dilakukan adalah memasukan data algoritma anatomi manusia dengan bantuan identifikasi teknologi, selain mamasukan data algoritma diperlukan berulang kali test dengan cara pendeteksian lokasi tubuh yang benar dan penyesuaian posisi.

Selain contoh implementasi dalam alat medis beliau juga menjelaskan mengenai system informasi rumah sakit (SIRS), merupakan bagian dari fundamental machine learning. Sedangkan bentuk virtual reality sendiri digunakan untuk melakukan simulasi terhadap suatu objek yang mendalam dan mirip sesuai dengan kenyataan.

Virtual reality sendiri biasanya digunakan dalam pelatihan medis, pengobatan pasien sampai dengan analisis suatu penyakit secara mendalam. Selain virtual reality teknologi augmented reality juga digunakan untuk mendukung untuk mendapatkan informasi secara nyata terhadap suatu objek. Augmented reality bekerja melaku penggunaan berbagai sensor seperti kamera, komponen computer atau suatu perangkat display.

Pantauan beritabuana.co, para peserta semakin semangat dengan hadirnya pembicara dari Singapura, Regional Clinical Marketing Manager Fujifilm Asia Pasicif Pte. Ltd, Mr. Mohm Esnu Khalidi Bin Abd Halim, MBA yang memfokuskan pada dunia IT Kesehatan dengan tajuk “Implementasi IT di Dunia Kesehatan yang Modern, Gigital, Paperless, dan Daring”.

Dikatakan Mr. Mohm Esnu Khalidi Bin Abd Halim, MBA bahwa tantangan yang dihadapi oleh dunia kesehatan adalah semakin ditandai dengan lebih banyak data, transaksi, interoperabilitas dan kompleksitas, yang kedua adalah volume data bisa mencapai kisaran Petabyte – DNA dari US kloning dua kali, dan yang ketiga atau dapat dikatakan sebagai tantangan utama adalah untuk cepat dan sederhana akses – beberapa pengarsipan data dan hasil/akurasi menemukan dan konsisten.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah pemanfaatan IT kesehatan melalui ponsel, namun sebelum menerapkan hal tersebut diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan seperti pembuatan kebijakan mengenai integrase perangkat mobile kedalam lingkungan IT kesehatan.

Infrastuktur perlu menjadi pertimbangan setelah menentukan kebijakan, dimana dalam kebijakan tersebut akan menjelaskan mengenai ketersediaan dan perlindungan informasi kesehatan pasien, kerangka kerja jaringan, akses data eksternal dan manajemen akses data. Dengan adanya reformasi dalam IT kesehatan diharapkan dapat menyajikan data perawatan pasien yang berpusat dan memiliki akses transparan oleh pasien.

Di samping penjelasan mengenai kesiapan tenaga kesehatan Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0, seminar ini menjadi ajang temu bagi beberapa stakeholder seperti akademisi, praktisi maupun perwakilan instansi pemerinta khususnya Kemenkes untuk berbagi ilmu dan pengalaman, serta munculnya pemikiran kritis untuk membangun dan bekerjasama dalam upaya pembangunan nasional dibidang kesehatan.

Ketua panitia ISPHU, Siti Hasanah Wati, SKM., kembali mengapresiasi 297 peserta yang hadir pada seminar internasional perdana Prodi Ilmu Kesehatan SPS UHAMKA. Apresiasi juga diberikan kepada PT. Bank BNI Syariah (KC.Fatmawati), Fujifilm Indonesia, dan Amstrong Flooring Hongkong Limited sebagai mitra terbaik untuk terus bersinergi dalam berbagai kegiatan Prodi Ilmu Kesehatan SPS Uhamka. (Natsir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here