BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sikap berani mencari kebenaran yang dilakukan James Umboh, ayah kandung korban meninggal dunia dan Riky Tampubolon, kakak korban yang dituduh telah membunuh anak perempuan James. Patut diberikan apresiasi setinggi-tingginya.

James berani membela mantunya, AKBP Mindo Tampubolon, yang telah dituduh dan dihukum seumur hidup, karena membunuh istrinya sendiri, Mega Umboh (anak kandung James Umboh), bukanlah tanpa alasan. Dia, sebagai purnawirawan Polri, merasa sangat yakin bahwa mantunya tidak bersalah dan membunuh anak kandungnya.

“Hal yang sangat tidak mungkin, jika dia (AKBP Mindo), membunuh anak saya (istri Mindo), berani mendatangi saya bersam cucu saya. Saya polisi. Sangat paham tentang hal itu,” katanya dengan suara lantang di Gedung Bareskrim Polri, Senin (8/7/2019).

“Apalagi, dia sampai 6 tahun tinggal bersama saya. Tidak masuk akal itu. Makanya saya mendatangi Kadiv Propam dan Irwasum untuk meminta menunda sidang kode etik sampai kasus ini selesai diselidiki. Irwasum mendukung. Saya juga ingin mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA), yang sebelumnya sudah meloloskan kasasi jaksa atas vonis bebas mantu saya,” katanya lagi.

AKBP Mindo ditangkap oleh tim gabungan dari Jamintel Kejagung dan Kejari Batam. Dia ditangkap karena terlibat dalam  kasus pembunuhan istrinya, Mega Umboh yang terjadi sembilan tahun silam.

Mindo sendiri sempat buron selama enam tahun setelah Mahkamah Agung (MA) memutus dirinya bersalah dan dihukum seumur hidup.

Sementara, Riki Tampubolon yang mendampingi James, menambahkan ia dan James sengaja menemui Kadiv Propam dan Irwasum untuk mengadukan permasalahan ini.

“Kami sekaligus meminta saran dan pendapat bagaimana langkah hukum ke depannya, karena adik saya ini kan (dulunya) polisi juga,” kata Riki di Mabes Polri, Senin (8/7/2019).

Riki pun menuturkan, dalam kasus yang menjerat adiknya ini banyak kejanggalan. Mulai dari tahap penyidikan, hingga ke persidangan. “Di awal penyidikan, BAP (berita acara pemeriksaan) berubah tiga kali. Pelaku sebenarnya adalah Rosma (pembantu) dan Ujang kekasihnya,” beber Riki.

Pada BAP pertama dan kedua, nama Mindo Tampubolon tak terlibat. Baru di BAP ketiga, Rosma dan Ujang menyebut nama Mindo sebagai pihak terlibat.

Kejanggalan lainnya, jasad korban tak sempat diautopsi dan pada saat rekonstruksi, Mindo yang dijadikan sebagai tersangka tak dihadirkan.
Selain itu, pada tingkat pengadilan, Mindo juga diputus bebas murni karena terbukti tak terlibat dalam kasus pembunuhan. “Karena bebas murni, jaksa langsung kasasi di MA. Oleh hakim agung, adik saya diputuskan bersalah dan dihukum seumur hidup,” kata Riki.

Seharusnya, Riki, hakim agung mempertimbangkan putusan dari hakim di pengadilan dan kontra memori kasasi yang diajukan kuasa hukum adiknya.

Riki pun mengklaim, pihaknya sudah punya novum atau bukti baru untuk memperjuangkan nasib adiknya pada proses PK. “Adalah pokoknya bukti baru yang kami punya,” imbuh dia.

Diketahui, dalam kasus ini, penyidik Polda Kepri menetapkan tiga orang tersangka. Pertama Ujang dan Rosma yang merupakan pembantu rumah tangga korban.

Untuk Ujang dan Rosma, keduanya tengah menjalani hukuman setelah diputus bersalah dan dipenjara selama 20 tahun.

Pelaku ketiga adalah Mindo yang merupakan suami korban. Mindo yang sempat diputus bebas murni kini harus ditahan dan menjalani hukuman penjara seumur hidup sesuai putusan kasasi MA. (Kds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here