Pangi Chaniago: Di PDIP, Mega Bakal Jadi Ketua Umum Seumur Hidup

by -
Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago 2. (Foto : Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Analis politik Pangi Syarwi Chaniago melihat belum ada  alasan kuat PDI Perjuangan untuk mengganti Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umumnya. Semua elemen partai, mulai dari akar rumput hingga elit politiknya justru masih membutuhkan sosok Megawati sebagai pucuk pimpinan.

“Bisa jadi Megawati akan menjadi ketua umum PDI Perjuangan seumur hidup. Harus diakui, Ibu Mega adalah ketua umum partai terlama, sejak partai ini didirikan bernama PDI Perjuangan,” kata Pangi menjawab beritabuana.co di Jakarta, Sabtu (29/6/2019).

Hal itu dikatakan Pangi, menyusul derasnya keinginan jajaran pengurus daerah dan elit partai yang tetap meminta Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDI Perjuangan lewat kongres V di Bali bulan Agustus nanti. Salah satu agenda kongres yang dipercepat itu adalah pemilihan ketua umum dan penyegaran pengurus DPP PDI Perjuangan periode 2019-2024.

“Kita mendengar spekulasi dan asumsi awal bahwa akan ada regenerasi, karena soal faktor usia dan PDI Perjuangan butuh regenerasi. Namun di sisi lain yang jadi soal adalah apakah partai ini sudah teruji tanpa kepemimpinan Mega ? Saya melihat solidaritas dan hampir tak terjadi konflik interna selama ini karena sosok Megawati,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini.

Dia pun menyatakan, sejauh ini  elite PDI Perjuangan meyakini bahwa Megawati adalah tokoh sentral sekaligus tokoh pemersatu. Sehingga tidak heran dan wajar jika  banyak spekulasi yang menyatakan tanpa Megawati, PDI Perjuangan akan terpecah, perekatnya adalah sosok Megawati.

Sebagai partai kader, kata Pangi, maka mesin partai tumbuh secara merata, sangat bergantung pada sosok tokoh atau figur sentralnya yakni Megawati. Apalagi, PDI Perjuangan juga  partai ideologi yang sahamnya harus dari trah Soekarno.

“Sudah terbukti kalau selama  ini PDI Perjuangan solid, walau kita akui pasti ada dinamika dan faksi di internalnya, mustahil tidak ada, namun di bawah kepemimpinan Megawati, PDI Perjuangan relatif stabil dan riak konflik teratasi dengan baik,” kata Pangi.

Karena itu, dia mempertanyakan, alasan pergantian ketua umum PDI Perjuangan di kongres tersebut.

“Saya lihat ini semua kembali ke Megawati, kalau beliau ingin regenerasi, maka itu akan diserahkan nahkodanya ke anak-anaknya, yang punya trah Soekarno seperti Puan Maharani dan Prananda,” ungkap Pangi.

Jika melihat hasil pemilu 2014 dan 2019, Megawati menurut Pangi adalah ketua umum PDI Perjuangan yang berprestasi karena berhasil mengantarkan partai menjadi pemenang dua kali berturut-turut.

“PDI Perjuangan dua kali pemenang berturut turut. ini apakah tidak prestasi? Lalu apa alasan suksesi kepemimpinan PDI Perjuangan?” kata Pangi bertanya.

Dia melihat, justru elit partai ini lah yang masih tetap meminta Megawati menjadi ketua umum seumur hidup. Karena itu, Pangi memperkirakan, kader grassroot dan elite PDI Perjuangan akan tetap mempertahankan Megawati ketua umum.

Sebab anak Megawati dianggap belum matang dan berpengalaman dalam mengelola PDI Perjuangan yang rawan konflik.

“Saya melihat ada kegelisahan terkait percepatan kinerja PDI Perjuangan dalam mengimbangi kinerja dan target pemerintah, sementara Megawati sudah mulai terkendala soal itu karena faktor usia. Mungkin ini juga yang menjadi asbabul nuzul lahirnya ketua harian, bagaimana mengurangi kerja ketua umum, yang lebih fokus pada soal kebijakan yang sifatnya teknis sementara ketua umum lebih kepada hal yang lebih starategis, dalam rangka mengimbangi kerja kerja target pemerintah 5 tahun mendatang,” beber Pangi. (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *