BERITABUANA.CO, JAKARTA – Anggota DPR dari Partai Golkar Hetifah Sjaifudian mengaku baru merasakan pintar setelah 2 periode menjadi wakil rakyat. Hebat bukan? Padahal, dia merupakan jebolan dari ITB, S2 dari Public Policy National University of Singapura, dan S3 diselesaikan di Politics and International Relations Hinders University, Adelaide, Australia. Dalam berorganisasi, pengalamannya juga sudah segudang.

Tetapi menurut Hetifah, setelah menjadi 10 tahun duduk di Senayan, baru lah dirasakan  bagaimana cara sebenarnya  menjalankan tugas sebagai DPR.

“Setelah 10 tahun, saya baru merasakan pintar, itu pun baru pintar sedikit bagaimana cara menjalankan tugas sebagai DPR. Idealnya memang perlu pengalaman,” ungkap Hetifah dalam Dialog Kenegaraan bertema “Evaluasi Pemilu Serentak, Bisakah Pileg dan Pilpres Dipisah Lagi?” di Media Center Gedung Nusantara III di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (26/6/2019).

Pernyataan anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Timur ini sekaligus untuk menjadi pelajaran bagi anggota DPR yang pertama kali terpilih pada pemilu 2019. Terlebih, karena  hasil pemilu legislatif 2019 ini banyak pendatang baru ke Senayan.

Karena itu, Hetifah berharap, mereka yang baru pertama kali menjadi anggota DPR perlu belajar lebih dahulu. Disinilah dia melihat betapa besarnya peranan partai politik (parpol) mematangkan semua anggota baru sekaligus memberi induksi-induksi.

“Apalagi kalau terlalu banyak anggota baru yang terpilih, maka parpol perlu segera bergerak. Bila perlu, Sekretariat Jenderal DPR juga ikut ambil peran, tetapi proses belajarnya tidak perlu terlalu lama,” imbuh dia.

Hetifah yang pertama kali jadi anggota DPR hasil pemilu 2009 dan pada pemilu 2019 ini terpilih kembali bercerita, ada koleganya anggota DPR saat ditanya konstituennya arti APBN, malah tidak bisa menjawab karena tidak mengerti. Pada hal, anggota tersebut berhasil lolos dan menjadi anggota DPR RI. Keadaan ini menurut dia juga menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

“Belum lagi terkait dengan motivasi, ada beberapa anggota, bahkan di periode ini pun juga ada yang terpilih, anak-anak dari tokoh, mungkin bagian dari dinasti atau istri-istri yang ternyata terpilih, tapi tidak memiliki cukup motivasi, sehingga tidak cukup rajin menghadiri dan juga menjalankan tugas-tugasnya DPR,” papar Hetifah.

Lebih lucu lagi kata dia, ada anggota DPR, tetapi tidak diketahui yang mana orangnya. Hal ini tidak lain karena yang bersangkutan tidak  pernah ikut rapat atau jarang sekali hadir di dalam kegiatan-kegiatan di DPR. Menurut Hetifah, hal tersebut bisa jadi terkait dengan sistem pemilu yang berlaku.

“Ini yang mungkin menyangkut  bagaimana sih satu sistem pemilu yang bisa lebih menjamin peningkatan kualitas dari anggota-anggota yang akan terpilihnya, intinya kan pemilu cuma cara aja,  kita ingin tuh kan ujungnya, hasilnya itu gimana,” kata Hetifah. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here