BERITABUANA.CO, JAKARTA – Jelang dilaksanakannya Latihan Bersama Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut atau yang dikenal juga sebagai Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) Tahun 2019 di Davao Filipina pada 1 – 5 Juli 2019, Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (Sea and Coast Guard Indonesia) selama dua hari menggelar pemantapan dan latihan kering (Table Top Exercise) di Manado.

“Kegiatan Pemantapan Rencana Operasi ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan unsur, personil, controller dan delegasi Indonesia dalam pelaksanaan Regional Marpolex di Davao, Filipina,” kata Taufik Mansur, Kepala Distrik Navigasi Kelas I Bitung, Selasa (25/6/2019).

Taufik mengungkapkan, penting bagi Indonesia untuk mengetahui peran serta tugas masing-masing supaya kegiatan latihan bersama dengan Filipina dan Jepang nanti dapat terselenggara dengan baik dan memberikan pelajaran dan manfaat bagi tugas keseharian.

Dikemukakan, pada latihan bersama Regional Marpolex 2019 di Davao Filipina, Indonesia akan mengirimkan 3 unit Kapal Patroli Sea and Coast Guard yang berfungsi sebagai Marine Disaster Prevention Ship, yaitu KNP. SAROTAMA-P.112 dari Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas II Tanjung Uban, kapal KNP. GANDIWA-P.118 dari Pangkalan PLP Kelas II Bitung, dan KNP. KALAWAI-P.117 dari Pangkalan PLP Kelas II Tual.

Menurutnya, Sea and Coast Guard Indonesia akan berperan aktif dalam operasi pembersihan pantai, penilaian kerusakan lingkungan, serta operasi perhitungan kompensasi ganti rugi akibat pencemaran tumpahan minyak, dengan melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, SKK Migas, dan PT. Pertamina (Persero).

“Pada 2 Juli 2019, Direktur Jenderal Perhubungan Laut selaku Commander Indonesian Coast Guard bersama dengan Commander Phillipine Coast Guard dan Commander Japan Coast Guard akan membuka acara,” tutur Kasubdit Penanggulangan Musibah dan Pekerjaan Bawah Air, Dit. KPLP, Een Nuraini Saidah.

Dikatakan, MARPOLEX merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali antara Indonesia dan Filipina dengan menggandeng Jepang sebagai observer. “Latihan tahun ini utamanya akan menguji kemampuan Filipina, Indonesia, dan Jepang dalam bekerjasama menanggulangi terjadinya musibah tumpahan minyak, dengan mengacu pada perjanjian bilateral antara Indonesia-Filipina yakni Sulu Sulawesi Oil Spill Response Network Plan 1981 serta ASEAN Regional Oil Spill Contingency Plan yang diadopsi pada Sidang ASEAN TMM ke-24 bulan November 2018,” papar Een Nuraini.

Een Nuraini menambahkan, pelatihan di Mabado ini  dengan konsep Real-Situation, yakni pelaksanaan pelatihan dikondisikan sesuai dengan keadaan pada saat terjadi nyata keadaan darurat tumpahan minyak di laut, baik dari segi mekanisme prosedur, alur komando, komunikasi, dan penyampaian informasi serta organisasi operasi. (yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here