BERITABUANA.CO- “Penyair perempuan saat ini jauh lebih berani dalam menggunakan diksi yang liar dan dahsyat,” demikian ungkapan penyair senior Remmy Novaris DM pada saat acara peluncuran buku ‘Pengantin Puisi’ karya penyair perempuan Yoevita Soekotjo di Pusat Dokumentasi Sastra H.N. Jassin, Jakarta (20/6/2019).

Pendapat Remmy juga diamini oleh Sunu Wasono, Kepala Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI yang juga seorang penyair.

Sunu Wasano mengatakan, jumlah penyair perempuan di Indonesia saat ini tidak hanya bertambah banyak jumlah atau kuantitasnya, melainkan juga kualitasnya. Mereka, lanjutnya berani merespon berbagai kejadian dengan diksi-diksi yang tajam, bahkan gejala ini juga terlihat pada penyair-penyair perempuan yang baru muncul di panggung sastra Indonesia.

Sementara itu pengamat ekonomi kreatif dan digital, Riri Satria, yang banyak membantu Yoevita menyusun buku ‘Pengantin Puisi’ mengatakan bahwa dari puisi-puisinya, penyair Yoevita ini sangat kental nuansa ekspresif, kontemplatif-spiritual, serta pemberontakan atau rebelian.

Semua ini dapat diamati dalam posting yang ditayangkan Yoevita di akun Facebook-nya. “Memang banyak diksi memberontak,” demikian lanjut Riri. Pendapat Riri ini disetujui oleh sahabat Yoevita, Nunung Noor El Niel, seorang penyair asal Bali.

Nunung bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa hal, karakter puisi Yoevita mirip dengan dirinya, terutama ekspresif, reaktif, dan pemberontakan.

Diketahui, penyair Yoevita lahir di Blitar tanggal 10 Februari 1967, aktif menulis puisi dan bermain teater sejak SMA, pernah bermukim di Medan (2007-2014) dan terus aktif di komunitas sastra dan teater di Taman Budaya Sumata Utara, dan setelah kembali ke Jakarta pada tahun 2014, aktif bersastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

‘Pengantin Puisi’ adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berisi 96 puisi yang ditulis pada kurun tahun 2015-2019.

Sebenarnya sudah banyak puisi yang ditulis penyair Yoevita sebelum tahun 2015, tetapi semua dokumennya hilang karena tidak ada backup. Ini yang menjadi sorotan Riri Satria, yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

“Sudah saatnya para penulis juga menerapkan manajemen penyimpanan karya yang baik, supaya jangan sampai hilang. Sayang sekali jika kaya yang sudah ditulis selama bertahun-tahun hilang begitu saja,” lanjut Riri.

“Buat seorang penyair, karya puisi mereka itu adalah perjalanan sejarah yang sudah melewati masa kontemplasi,” demikian Sunu Wasono menimpali tentang pentingnya penyimpanan karya yang baik, benar, dan aman.

Sementara itu, Romo Wijaya, seorang pengamat sastra yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa kecenderungan sekarang orang menulis puisi sifatnya reaktif atau merespon suatu kejadian dengan cepat, sehingga aspek perenungan berkurang, dan akhirnya puisinya kurang menggigit. Para penyair perlu memperhatikan hal ini,” demikian Romo Wijaya mengingatkan semua hadirin yang sebagian besar adalah penyair.

Spontan

Bagaimanakah proses kreatif terjadi saat menulis puisi? Penyair Yoevita menjelaskan, “Saya menulis puisi itu dengan spontan. Tidak selalu puisinya selesai saat itu juga, bisa jadi berhari-hari, dan ada yang direvisi. Satu hal yang pasti, menulis puisi itu ibarat dihipnotis untuk menuliskan kata dan kalimat, dan tentu saja sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Pemilihan diksi sangat ditentukan oleh rasa yang muncul saat menulisnya, dan itu bisa jadi lembut, tetapi juga keras, bahkan kasar buat sebagian orang,”.

Acara peluncuran buku penyair Yoevita Soekotjo ini diselenggarakan oleh komunitas Dapur Sastra Jakarta didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang dikemas dalam kegiatan ‘Wisata Sastra’.

Diskusi membahas buku “Pengantin Puisi”, Nunung Noor El Niel (penyair Bali), Riri Satria (pengamat ekonomi kreatif dan digital), Sunu Wasono (Kaprodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), penyair Yoevita Soekotjo, serta Rissa Churria (pemandu diskusi). (Mar)

Keterangan Foto: Penyair Yoevita Soekotjo (keempat dari kiri) secara simbolik menyerahkan buku “Pengantin Puisi” sebagai kenang-kenangan kepada Diki Lukman Hakim (Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin), Mustari Irawan (Kepala Arsip Nasional RI), Riri Satria (pengamat ekonomi kretif dan digital), Sunu Wasono (Kajur Sastra Indonesia FIB UI), Rissa Churria (penyair Bekasi) serta Nunung Noo El Niel (penyair Bali).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here