BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Ahmad Basarah menyampaikan harapannya agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai dilantik di periode kedua pemerintahannya akan menyusun kabinetnya dengan menyertakan elemen-elemen pendiri bangsa. Yakni elemen nasionalis, Islam, dan TNI-Polri, dan Sosialis.

Hal itu diungkap Basarah dalam acara tahlilan haul wafatnya Bung Karno yang diikuti diskusi peradaban di kantor pusat PA GMNI di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019) malam.

Basarah awalnya bercerita panjang lebar soal sejarah Indonesia yang didirikan oleh persatuan berbagai elemen bangsa. Namun, kini belakangan ada sekelompok orang baru yang hadir dan tiba-tiba ingin mengubah konsensus para pendiri bangsa.

“Inilah ancaman yang kita hadapi. Yang hanya bisa kita lawan jika Nasionalis, Islam, TNI-Polri bersatu,” kata Basarah.

“Kita harap kabinet Pak Jokowi pun mengambil unsur itu. Ada unsur Islam, ada unsur TNI-Polri, unsur Nasionalis Soekarnois, dan unsur Sosialis,” tandas Basarah.

Basarah juga bercerita panjang soal bagaimana Soekarno telah banyak mendapatkan keji tak berdasar khususnya soal mendukung pemberontakan PKI pada 1965. Hingga Bung Karno wafat, kata Basarah, Bung Karno membawa beban berat bagi dirinya, keluarga, dan pengikutnya, karena dituduh mengkhianati negara yang dia proklamasikan sendiri. Serta berkhianat pada kepemimpinan negara dimana pemimpinnya adalah Soekarno, ujar Basarah.

Walau belakangan di Pemerintahan Presiden SBY ada Keppres soal pengangkatan Bung Karno sebagai pahlawan nasional, yang berarti mengeliminir tuduhan pengkhianatan negara, namun Basarah mengatakan hal itu belum cukup. Walau demikian, seluruh Soekarnois tak pernah dendam hingga memberontak kepada negara. Sebab bagi Soekarnois, yang terpenting adalah persatuan bangsa. 

“Bung Karno pernah didatangi oleh Ruslan Abdulgani meminta agar Bung Karno melawan. Namun kata Bung Karno ke Cak Ruslan, biarlah penderitaan ini aku tanggung sendiri agar bangsa dan negaraku tak terpecah belah,” kata Basarah.

“Semangat bersatu kembali inilah kita rindukan. Kita berharap ambil hikmah dari masa lalu, jangan warisi abu pendahulu, tapi api perjuangan pendahulu bangsa kita untuk terus bersatu,” tambahnya.

Melanjutkan ceritanya soal Bung Karno, Basarah yang dijuluki ‘Doktor Pancasila’ itu menjelaskan dimensi keislaman Bung Karno yang tak banyak diketahui akibat desoekarnoisasi.

“Setelah saya tekuni, ternyata Soekarno itu, bukannya komunis, bahkan sekuler pun tidak. Konstruksi pemikiran Soekarno justru konstruksi pemikiran Islam,” ujarnya.

“Mungkin karena sejak kecil sudah dititipkan di rumah tokoh Islam yakni Tjokroaminoto. Selepas di sana, Bung Karno beguru ke pendiri Muhammadiyah KH Achmad Dahlan. Bung Karno bilang seminggu 3 kali saya intili tabligh Kiai Dahlan,” bebernya. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here