BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus memperbanyak porsi pelajaran budi pekerti. Sejak di tingkat Sekolah Dasar, pelajaran budi pekerti sudah harus diajarkan ke anak didik hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), sehingga diyakini bisa membuat anak-anak menjadi generasi bangsa yang semakin baik.

Hal tersebut disampaikan pengamat dan penggiat anti korupsi Adilsyah Lubis menjawab beritabuana.co di Jakarta, Sabtu (8/6/2019).

“Kementerian Pendidikan harus melihat ini sebagai upaya menghasilkan anak-anak  didik sebagai generasi penerus yang semakin baik,” ujar Adilsyah.

Menurut dia, di dalam pendidikan budi pekerti itu mencakup berbagai aspek, seperti bersikap jujur, menghormati orang yang lebih tua, rendah hati, tidak mengambil hak orang lain, bertanggung jawab dan berani meminta maaf apabila membuat kesalahan.

“Pelajaran budi pekerti memang luas ya, termasuk untuk tidak melakukan korupsi,” kata Adilsyah.

Dia menyatakan, mungkin saja  pendidikan budi pekerti sudah diajarkan di sekolah-sekolah, tetapi porsinya tidak terlalu banyak. Untuk itu, Adilsyah mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperbanyak materi pendidikan budi pekerti tersebut.

Di tahun 60’an lanjut Adilsyah, pelajaran budi pekerti diajarkan ke anak didik di sekolah dasar. Sehingga, pada masa itu tidak pernah ada tawuran antar anak sekolah seperti yang sering terjadi sekarang ini.

Semua sekolah kata Adilsyah, mengajarkan anak didik untuk menghargai dan menghormati orang lain, sehingga  tawuran tidak ada karena dianggap adalah perbuatan tidak benar.

“Kita diajari bersikap jujur, hormat pada orang tua, hormat pada orang lain, bertanggung jawab,” kata Adilsyah yang pernah mengecap pendidikan budi pekerti.

Ditambahkan, pelajaran budi pekerti sebagai bagian dari ilmu sosial  yang diajarkan di sekolah harus seimbang dengan pelajaran eksak. Anak didik jangan dicekoki dengan pelajaran eksak, sosialnya sedikit. Sebab, memiliki banyak sarjana atau profesor misalnya, tetapi tidak memiliki budi pekerti justru membuat mereka cenderung bertindak merugikan pihak lain.

“Buat apa menjadi seorang sarjana tetapi berkelakuan korup, mau menang sendiri. Kan lebih baik biasa-biasa saja tetapi rendah hati, jujur dan terbuka,” ujarnya. (Asim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here