BERITABUANA.CO, JAKARTA – Gembong Warsono nampak enggan mengomentari kesiapannya sebagai Ketua DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024. Politisi senior PDI Perjuangan ini terlihat menghindar dari pertanyaan tersebut, dan hanya senyum serta mengingatkan bahwa masalah tersebut adalah kewenangan DPP.

“Yang menentukan Dewan Pimpinan Pusat (DPP), tetapi atas usulan Dewan Pimpinan Daerah (DPD),” kata Gembong singkat saat ditanya beritabuana.co baru-baru ini.

Seperti diketahui, pada pemilu 2019 ini, Gembong Warsono kembali lolos menjadi anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta periode 2019-2024. PDI Perjuangan sendiri kembali menjadi partai politik pemenang pemilu meski jumlah kursi di DPRD harus berkurang, dari 28  turun menjadi 25 kursi. Itu berarti, Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta  masih akan diisi atau berasal dari PDI Perjuangan seperti halnya pada periode 2014-2019.

Meski begitu, Gembong mengaku dia adalah seorang kader partai. Sebagai kader, sudah barang tentu siap ditugaskan menjalankan tugas kepartaian, baik di.legislatif maupun di eksekutif.

“Saya ini kader,” tegas Gembong. Namun dikatakan, dirinya tidak terlalu memikirkan soal jabatan dan kedudukan di DPRD. Karena yang paling penting adalah kehadirannya sebagai anggota DPRD betul-betul bermanfaat dan menjadi amanah seperti yang dijanjikannya pada kampanye pemilu yang lalu.

“Mengalir saja lah,” ujar Gembong merendah mengutip pernyataan yang dulu sering diucapkan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, panta rei.

Gembong Warsono pertama kali sebagai anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta pada pemilu 2014. Pada pemilu itu lah dia baru berhasil lolos ke Kebon Sirih setelah gagal sejak maju menjadi caleg  di pemilu 1999, 2004 dan pemilu 2009. Belum beruntung lah dia ketika itu. Apalagi pada pemilu 2004 dan 2009, perolehan suara PDI Perjuangan anjlok, termasuk di DKI Jakarta.

Namun, yang menarik dari sosok pria asal Wonogiri ini adalah karir politiknya yang telah dirintis  mulai dari bawah . Pada permulaan menjadi anggota PDI, dua telah dipercaya menjadi pengurus di tingkat kelurahan dan kecamatan. Tidak banyak politisi yang sukses seperti Gembong setelah “berakit-rakit ke hulu, bersenang senang kemudian”. Selama  ber partai, dia  sudah menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya.

Misalnya saja saat  PDI (belum pakai Perjuangan), dilanda konflik internal tahun 1997, Gembong tetap mengakui kepemimpinan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum DPP PDI yang sah sesuai keputusan Munas di Kemang tahun 1993. Pilihan politik yang penuh resiko dan tantangan.

Dirinya tidak mau mengikuti langkah  beberapa anggota dan pengurus PDI   yang saat perpecahan itu mencari aman dengan mendukung Kongres PDI di Medan.

Mencermati karir politiknya ini, tidak berlebihan jika Gembong patut dipertimbangkan oleh pimpinan partainya sebagai Ketua DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024. Pengalamannya berpartai dan kiprahnya selama 5 tahun di Kebon Sirih, rasanya Gembong memenuhi syarat dan kualifikasi menjadi komandan wakil rakyat di DKI Jakarta. Terlebih, pria kelahiran 8 Juni 1963 ini sudah pernah dan cukup lama menjadi anggota Dewan Kota Jakarta Selatan, sebuah lembaga yang mirip-mirip seperti DPRD. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here